JAKARTA, InfoPublik – Menatap masa depan lanskap digital yang kian kompleks, Wakil Kepala BSSN, Komjen Pol. Rachmad Wibowo, mengingatkan, enkripsi data yang menjadi tulang punggung keamanan finansial saat ini kelak akan menghadapi ujian berat dari era superkomputer kuantum.
Ancaman laten seperti Harvest Now, Decrypt Later (HNDL) dan Trust Now, Forge Later (TNFL) mengisyaratkan, data rahasia yang disadap pihak tak bertanggung jawab hari ini berpotensi dibongkar di masa depan begitu teknologi kuantum matang.
Pesan mendesak tersebut disampaikannya di hadapan para pemangku kepentingan industri keuangan saat menyampaikan pidato kunci dalam Executive Seminar & Simulation “Cyber Risk & PQC Migration” yang dihelat oleh Indonesian Risk Professional Association (IRPA) di Jakarta, seperti dikutip InfoPublik (29/9/2026).
Forum strategis yang turut dihadiri oleh perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pakar akademisi internasional dari NTU Singapura, hingga Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum ini membedah urgensi transformasi pertahanan lapis kedua.
Rachmad menekankan, migrasi menuju PQC bukanlah sekadar mengganti barisan algoritma lama secara instan, melainkan sebuah metamorfosis arsitektur keamanan yang sistematis dan berbasis risiko.
Perbankan didorong untuk proaktif melakukan inventarisasi aset kriptografi, mengukur kerentanan, serta membangun ketangkasan kripto (crypto-agility) sebelum badai disrupsi teknologi benar-benar tiba di depan pintu.
Melalui sinergi erat yang merangkul pemerintah, regulator, lembaga perbankan, hingga akademisi, BSSN optimistis ketahanan siber nasional akan senantiasa selangkah lebih maju dalam mengamankan ekosistem ekonomi digital Indonesia dari ancaman zaman. (Humas BSSN)