Agam, InfoPublik — Seruan “Aku kuat dan hebat” menggema di Posko TK Darul Aman Toboh, Desa Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat pada Sabtu (20/12/2025). Dengan tangan terangkat dan pose layaknya pahlawan super, anak-anak terdampak banjir dan longsor mencoba meneguhkan diri mereka sendiri. Di balik teriakan penuh semangat itu, tersimpan kisah tentang ketakutan, kehilangan, dan perlahan bangkit dari trauma.
Seruan tersebut muncul saat Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjangkau salah satu desa paling terdampak bencana banjir dan longsor di kaki Gunung Singgalang. Kehadiran layanan psikososial ini menjadi ruang aman bagi anak-anak pengungsi untuk kembali tersenyum, bermain, dan mengekspresikan perasaan mereka setelah hari-hari penuh kecemasan.
Melalui aktivitas mewarnai, permainan kelompok, serta interaksi ringan bersama pendamping, suasana posko yang sebelumnya sunyi berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak yang semula pendiam dan enggan berinteraksi mulai bercanda, tertawa, bahkan berani tampil ke depan. Rasa takut terhadap hujan deras yang selama ini menghantui perlahan mulai memudar.
Kegiatan tetap berlangsung meskipun sempat terjadi pemadaman listrik. Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat tim pendamping untuk terus menghadirkan keceriaan bagi anak-anak. Di tengah gelap, suara tawa dan sorak-sorai justru menjadi penanda bahwa proses pemulihan mental sedang berjalan.
Salah seorang anak terdampak, Azka Aqila Pranaya (14), menceritakan pengalaman traumatis saat banjir bandang menerjang kawasan tempat tinggalnya. Ia mengaku peristiwa itu masih terbayang jelas dalam ingatannya. “Waktu itu saya lagi di rumah teman. Airnya datang cepat sekali dan tinggi. Kami disuruh naik ke tempat yang lebih aman, bahkan sempat lewat atap dan masuk ke bangunan sekolah untuk menyelamatkan diri,” tuturnya.
Azka menyebut ketinggian air bah saat itu melebihi bangunan di sekitarnya. Ia mengaku hingga kini masih merasa cemas setiap kali hujan deras turun. “Kalau hujan lebat, masih teringat kejadian itu. Tapi sekarang sudah mulai berani lagi,” katanya.
Tak hanya kehilangan rasa aman, Azka dan keluarganya juga kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian. Rumah keluarga besarnya runtuh diterjang banjir, sementara lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan turut rusak. “Ladang kami habis. Ada sawah, bawang, dan kulit manis. Sekarang belum bisa diolah lagi,” ujarnya lirih.
Pengelola Posko TK Darul Aman Toboh, Dedi Martion, menilai kehadiran layanan dukungan psikososial sangat membantu pemulihan mental anak-anak pengungsi. Menurutnya, selama ini bantuan yang datang ke posko lebih banyak berupa logistik kebutuhan pokok. “Bantuan yang sering datang itu beras dan mi. Tapi kegiatan untuk menghibur dan memulihkan mental anak-anak seperti ini masih jarang,” kata Dedi.
Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh warga di wilayah Malalak terdampak bencana, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian rumah rusak, akses jalan terputus, dan lahan pertanian tertimbun longsor. “Anak-anak ini menyaksikan langsung kejadian bencana. Kalau tidak ada pendampingan, rasa takut itu bisa terbawa lama,” ujarnya.
Menurut Dedi, aktivitas sederhana seperti bermain, menggambar, dan afirmasi positif sangat penting untuk membantu anak-anak melepaskan ketegangan emosional. “Mereka butuh ruang aman untuk kembali merasa bahagia. Kalau anak-anaknya pulih, orang tuanya juga ikut kuat,” tambahnya.
Melalui layanan dukungan psikososial, anak-anak diajak mengenali emosi, mengekspresikan perasaan, dan membangun kembali rasa percaya diri. Seruan “Aku kuat dan hebat” menjadi simbol bahwa mereka tidak sendirian menghadapi trauma.
Kehadiran Mobil Dukungan Psikososial Komdigi di wilayah terdampak bencana ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan mental anak-anak, sekaligus memperkuat ketahanan psikologis mereka menghadapi situasi darurat di masa depan.
Di tengah keterbatasan pascabencana, tawa anak-anak yang kembali terdengar di Posko TK Darul Aman Toboh menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh.
Dari balik puing dan lumpur, anak-anak Malalak perlahan belajar untuk kembali berdiri meyakini diri mereka sebagai pribadi yang kuat dan hebat.