Surplus Perdagangan Catatkan Rekor Bersejarah

:


Oleh Taofiq Rauf, Senin, 27 Maret 2023 | 08:34 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 8K


Jakarta, InfoPublik - Manifestasi perdagangan RI sepanjang 2022 menunjukkan hasil memuaskan. Laju peningkatan ekspor pada tahun lalu naik 26,07 persen dibandingkan periode sama pada 2021. Nilai ekspor menyentuh 291,98 miliar dolar AS sepanjang Januari-Desember 2022. 

Kontribusi ekspor nonmigas masih menjadi yang tertinggi, yakni sebesar 94,51 persen atau sebesar 275,96 miliar dolar AS. Sementara sisanya 16,02 miliar dolar AS dari migas (minyak dan gas). 

Proporsi terbesar dari ekspor nonmigas berasal dari bahan bakar mineral sebesar 54,98 miliar dolar AS (19,92 persen) dan lemak serta minyak hewan/nabati - kelapa sawit termasuk di dalamnya- senilai 35,20 miliar dolar AS (12,76 persen). 

Melejitnya nilai ekspor membuat neraca perdagangan RI kembali mencatatkan surplus. Tak tanggung-tanggung,  sejak Mei 2020 hingga Desember 2022, Indonesia menorehkan surplus selama 32 bulan berturut-turut sebesar 23,83 miliar dolar AS. Sedangkan impor 19,94 miliar dolar AS, ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam rilis resmi BPS di Jakarta, Senin (16/1/2022) seperti disimak GPR News secara daring. 

Indonesia secara tahunan mulai mendapati surplus perdagangan Sejak 2020. Di mana sebelumnya sempat negatif pada 2018 sebesar 8,7 miliar dolar. Begitu juga  2019 senilai 3,59 miliar dolar AS. Namun, pada 2022 neraca perdagangan berjalan positif di level 21,62 miliar dolar AS. Hal tersebut terus meningkat hingga 54,46 miliar dolar AS seiring dengan kenaikan nilai ekspor pada 2022.

Namun bagaimanapun, prestasi ekspor Indonesia pada 2022 tidak terlepas dari sejumlah faktor. Pertama yakni meningkatnya harga komoditas menyusul pemulihan ekonomi Covid-19 dan pecahnya perang Rusia-Ukraina. Harus diakui  Pertempuran yang dimulai pada Februari 2022, telah menyebabkan pasokan pangan dan energi dunia terganggu. Suplai gas Rusia ke negara-negara Eropa tak berjalan normal. 

Harga migas pun meroket disusul dengan beragam komoditas lainnya. Harga produk seperti batu bara dan kelapa sawit menyentuh rekor tertinggi.  Sebut saja harga batu bara yang mencatat rekor tertinggi 457,80 dolar AS per ton di bursa Newcastle. Sementara CPO (minyak kelapa sawit) sempat menyentuh rekor tertinggi di level 2.010 dolar AS per metrik ton. 

Indonesia mendapatkan windfall atau “durian runtuh” dari kenaikan harga komoditas. Mengingat RI merupakan pemasok utama sawit dan batu bara dunia. Pada 2021, Indonesia menjadi eksportir terbesar batu bara dunia dengan 478 juta metrik ton. Pun halnya dengan sawit, Indonesia dan Malaysia berada di puncak teratas pemasok CPO dunia.

Faktor lain yang juga mempengaruhi peningkatan ekspor RI.  Seperti, pemulihan ekonomi di China. Pada kuartal tiga pertumbuhan ekonomi China tumbuh 3,94 persen. BPS mencatat kenaikan ekspor nonmigas terbesar RI ke China mengalami peningkatan sebesar 12,457 miliar dolar AS.  Kenaikan itu merupakan yang tertinggi dibandingkan negara utama tujuan lainnya. 

Secara total kontribusi ekspor nonmigas RI ke Tiongkok mencapai 63,58 miliar dolar AS atau 23,03 persen dari total pangsa ekspor. Setelah itu baru disusul dengan Amerika Serikat sebesar 28,20 miliar dolar AS, India 23,30 miliar dolar AS, dan Jepang 23,19 miliar dolar AS. 

Di dalam negeri, membaiknya kinerja sektor industri juga ikut memberikan sumbangsih bagi peningkatan ekspor. Industri pengolahan pada 2022 mengalami kenaikan 16,45 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar dari total ekspor nonmigas RI sebesar 206 miliar dolar AS. 

Selain itu, kebijakan larangan ekspor bahan mentah nikel juga telah mendongkrak pengiriman besi dan baja RI ke luar.  Ekspor besi dan baja mengalami peningkatan 6,8 miliar dolar AS. 

Tantangan 2023

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu mengatakan,  neraca perdagangan Indonesia pada 2022 mencatatkan surplus tertinggi dalam sejarah. Yakni sebesar 54,46 miliar dolar AS. Ia pun memuji kinerja ekspor yang tumbuh dengan baik, sehingga mendukung target pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022. 

Kendati begitu, kata ia, pemerintah ke depan akan mewaspadai risiko penurunan permintaan ekspor dari negara mitra utama dagang yakni Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang. 

Hal itu seiring menurunnya indeks PMI (purchasing managers index) manufaktur di sejumlah negara. "Di sisi lain, pemerintah secara paralel  mengembangkan ekspor ke negara lain. Seperti India dan negara-negara ASEAN," ujar Febrio dalam keterangannya. 

Dari sumber lain, Kepala Ekonom BCA David Sumual kepada GPR News tak menampik bahwa capaian surplus perdagangan sebesar 54 miliar dolar AS merupakan tertinggi dalam sejarah. Surplus itu terdongkrak dari kinerja ekspor yang menggeliat karena peningkatan harga komoditas.  "Jika barang-barang yang kita impor relatif tinggi pada akhir tahun, tidak hanya komoditas, tapi juga manufaktur dan otomotif," ujarnya. 

Ia optimistis pada tahun ini Indonesia masih akan surplus. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan China sudah mulai membuka pembatasan terhadap Covid-19. Aktivitas ekonomi secara otomatis akan lebih kencang dan ikut berdampak ke permintaan terhadap energi. "Ekspor batu bara dan CPO diperkirakan akan tetap," ujarnya.

Hanya saja, sejalan dengan mulai normalnya aktivitas ekonomi, kegiatan impor Indonesia juga akan naik. Hal ini yang membuat surplus perdagangan Indonesia tidak akan sebesar dibandingkan pada tahun ini. 

Di sisi lain, kata ia, sektor manufaktur juga menjadi tantangan. Seiring dengan membaiknya China, manufaktur dari negeri Tiongkok itu diyakini akan membanjiri pasar dunia. Meski dampaknya tidak akan secara langsung ke Indonesia. "Lebih ke India dan Vietnam," ujarnya. 

BPS juga telah mewanti-wanti penurunan ekspor dan surplus perdagangan RI. Setidaknya hal itu sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 2,73 persen pada Desember 2022 dibandingkan November. Pun halnya November juga menurun 2,57 persen terhadap Oktober. "Pada empat bulan terakhir terjadi penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume," terang Margo Yuwono. 

Disisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, bahwa nilai ekspor 2023 diperkirakan tidak akan setinggi pada 2022. Pertumbuhan ekspor akan melambat seiring dengan laju ekonomi dunia yang mengalami perlambatan. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekspor di kisaran 12,8 persen menurun dibandingkan 2022 sebesar 29,4 persen. 

Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan ekspor pada 2023 , dengan melakukan diversifikasi pasar dan produk ekspor. Diversifikasi itu setidaknya terlihat pada 2022. Ada peningkatan nilai ekspor di luar negara tujuan utama ekspor RI. Sebut saja Bhutan yang mengalami peningkatan sebesar 67,39 juta dolar AS dari sebelumnya hanya di bawah 1 juta dolar AS. 

Sementara itu, yang juga patut dikawal dari peningkatan ekspor ini adalah agar hasil devisa RI tidak di parkir di luar negeri. Baru-baru ini Bank Indonesia mengeluarkan aturan instrumen baru untuk penguatan aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) khususnya dari sumber daya alam (SDA) ke dalam negeri. BI mendorong penempatan dana dari rekening khusus SDM ke dalam term deposit operasi pasar terbuka dalam valuta asing Bank Indonesia.

Penempatan dilakukan oleh eksportir SDA melalui bank yang memenuhi persyaratan ditetapkan Bank Indonesia.  Tujuannya jelas, penguatan cadangan devisa penting untuk stabilitas rupiah dan pembayaran utang RI.  Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2022 mencapai 137,2 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2022 sebesar 134,0 miliar dolar AS. (GPR News/PM)

(Foto: Antara/Petugas menjaga area gudang kargo dan pos saat peresmian di Terminal Kargo dan Pos Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Jumat (10/3/2023). Gudang kargo dan pos yang dioperasikan PT Jasa Angkasa Semesta (JAS Airport Services) tersebut untuk memfasilitasi kebutuhan ekspor maupun impor di Bali, mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia serta memberikan dukungan untuk pengembangan infrastruktur di bandara itu)

 

Baca dan download GPRNews Edisi II 2023 selengkapnya di: https://www.gprnews.id/books/bame