Meraup Berkah Panen Raya

:


Oleh Taofiq Rauf, Kamis, 8 Juni 2023 | 19:26 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 1K


Jakarta, Infopublik - Kuning padi siap petik di sejumlah hamparan sawah di Tegal Waru, Karawang, Jawa Barat, sudah menghilang di awal April 2023. Sebagian petani bahkan telah berbenah, membersihkan sawah dan bersiap menyambut masa tanam berikutnya. Sementara sebagian yang lain membiarkannya, menunggu genangan air surut. 

Salah satu petani yang baru menikmati hasil panen adalah Haji Suep Anwar (64 tahun). Menurutnya, hasil panen raya kemarin memuaskan, sekalipun tidak semua bagus.  Memuaskan, karena dari sisi jumlah meningkat. Tapi tidak sempurna karena kualitasnya sedikit menurun.  "Hasilnya sedikit meningkat, tapi kualitas agak kurang bagus karena banyak hujan di malam hari. Kalau hujan siang sebenarnya tidak terlalu masalah," ujarnya kepada GPR News, Jumat (31/3/2023).  

Haji Suep Anwar mengelola satu hektar sawah. Dari lahannya itu, ia bisa menghasilkan 5-6 ton beras. Tidak semua hasil panen ia jual. Sebanyak 50 persen di antaranya justru disimpan untuk kebutuhan makan keluarga. 

Untuk padi yang dijual dihargai Rp 400 ribu per 100 kg buat gabah basah. Kemudian gabah kering siap giling dijual Rp 500 ribu per 100 kg.   

Gabah kering basah dalam bahasa pertanian disebut dengan gabah kering panen yang mengandung kadar air maksimum sebesar 25 persen dan kadar hampa kotoran maksimum 10 persen. Sementara gabah kering giling mengandung kadar maksimum sebesar 14 persen dan hampa/kotoran maksimal tiga persen. "Untuk giling biasanya kita bawa ke penggilingan," katanya menambahkan. 

Suep beruntung, termasuk petani yang memperoleh pupuk bersubsidi. Harga pupuk urea putih yang didapatnya Rp 250 ribu per kuintal dan phonska seharga Rp 260 ribu. Dengan harga pupuk bersubsidi ini, ia masih meraup untung.  "Kira-kira kita butuh Rp 3 juta untuk setiap setengah hektarnya," katanya. 

Di Kabupaten Liwa, Lampung Barat, Basrin juga merasa senang dengan puncak panen raya pada Maret-April tahun ini.  Menurutnya panen kali ini lebih baik dibanding sebelumnya saat banyak petani diserang oleh hama tikus. Ia mendapatkan setidaknya dua ton beras dari lahan yang luasnya sekitar tiga per empat hektar  "Kalau kita langsung digiling di sini di pabrik penggilingan dapat dua ton beras," ujarnya kepada GPR News. 

Menurut Basrin, beras-beras dengan kualitas premium itu dijual di pasaran Rp 12.500 per kilogram. Total yang ia peroleh sekitar Rp 20 juta. Namun itu belum dipangkas ongkos produksi sekitar Rp 8 sampai Rp 10 juta. "Sekarang ongkos produksi naik dari mulai pupuk hingga ongkos buruh tani. Dulu di kisaran Rp 6-7 juta, sekarang sudah Rp 10 juta," ujarnya. 

Namun Basrin tidak bersedih. Sebagai seorang petani muda ia akan terus melakukan inovasi dan terobosan agar ongkos produksi bisa lebih ditekan. Kini ia siap kembali menanam. 

Seperti diketahui panen raya terjadi di berbagai daerah di Indonesia, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan total produksi beras pada panen raya Maret-April mencapai 8,7 juta ton.  Rinciannya Maret 5,27 ton beras atau setara 9,15 juta ton gabah kering giling. Kemudian pada April 3,15 juta ton beras atau setara 6,09 juta GKG.  

Proyeksi ini turun bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang menghasilkan 10,05 juta ton. Meski demikian secara kumulatif Januari-April produksi beras diperkirakan dapat menyentuh 13,79 ton atau meningkat dari periode 2022 sebanyak 13,71 juta ton. 

Adapun nilai tukar petani (NTP) nasional Maret 2023 sebesar 110,85 atau naik 0,29 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani naik sebesar 0,53 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,24 persen. Artinya petani memperoleh pendapatan lebih baik.  

Percepat musim tanam

Untuk melihat panen berjalan dengan baik,  Presiden Joko Widodo turun langsung ke sejumlah daerah. Jokowi menggelar panen raya bersama dari mulai di Brebes, Ngawi, hingga Maros di Sulawesi Selatan. Dalam pesannya, Presiden meminta agar para petani bisa memanfaatkan curah hujan yang masih turun di sejumlah wilayah untuk mempercepat masa tanam.  

Percepatan ini penting agar hasil produksi padi pada tahun ini bisa meningkat dan memperkuat stok serta ketahanan pangan nasional. Apalagi sebentar lagi diprediksi akan menghadapi kemarau lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.  "Karena airnya masih ada, setelah panen jangan diberi jeda lama," ujar Presiden saat melakukan panen raya di area persawahan di Desa Kartoharjo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa timur, Sabtu (11/3/20223).

Setiap daerah memiliki waktu maupun kuantitas masa tanam berbeda.  Ada yang dua, tiga atau empat kali masa tanam. Namun untuk empat kali masa tanam sangat tergantung dari ketersediaan air, varietas padi, mekanisasi maupun korporasi serta kelembagaan petani.  

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku siap mendorong percepatan masa tanam. Kementerian Pertanian akan berkolaborasi dengan kepala daerah agar percepatan tanam bisa dilakukan. "Kita percepat musim tanam kembali mumpung airnya masih ada," ujar Mentan, Kamis (9/3/2023). 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di banyak wilayah baru terjadi pada Mei dan Juni 2023.  Pada Mei mencakup sebagian besar Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat, sebagian besar Banten, sebagian Pulau Sumatera bagian selatan, Papua bagian selatan. 

Sementara daerah yang masuk musim kemarau pada Juni seperti Jakarta, sebagian kecil Pulau Jawa, sebagian besar Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Barat, sebagian Pulau Kalimantan bagian selatan, dan sebagian besar Pulau Sulawesi bagian utara. Di Bali, NTT, dan NTB sudah masuk kemarau pada April. 

Menurut Mentan, produktivitas padi pada tahun ini secara umum bagus. Ada sekitar 10 juta hektar lahan yang panen serentak di seluruh Indonesia.  Rata-rata produksi mengalami peningkatan. “Data panen yang paling tinggi akan masuk pada Maret dan April dan kita berharap kurang lebih 10 juta hektare penanaman itu,” ujarnya,

Sebagai gambaran, setiap daerah juga memiliki tingkat produksi berbeda-beda setiap hektar. Ada yang berada di kisaran 5-7 ton gabah kering giling. Ada juga yang mampu hingga 10 ton per hektar seperti di Ngawi. Tingkat produksi itu tergantung dari kualitas benih, kesuburan lahan, maupun perawatan yang dilakukan.

Masalah pupuk

Pemerintah memiliki harapan banyak terhadap panen raya. Panen diharapkan dapat kembali mengisi gudang-gudang beras serta stok cadangan beras nasional, termasuk milik Badan Urusan Logistik (Bulog).  Dengan stok yang semakin banyak, diharapkan stabilitas harga beras dapat terjaga.  Bulog menargetkan dapat menyerap 1,6 juta ton dari panen raya atau 70 persen dari target penyerapan cadangan beras 2023 sebesar 2,4 juta ton. 

Namun untuk mencapai target tersebut tentu bukanlah perkara mudah. Karena penyerapan akan optimal bila panen yang dihasilkan juga berlimpah. Sementara sederet tantangan masih harus diselesaikan.  Masalah terkini lain yang dihadapi petani adalah peningkatan ongkos produksi. 

Sebut saja harga pupuk nonsubsidi harganya sudah naik berlipat-lipat. Untuk pupuk Urea Nitrea 50 kg harganya sudah di kisaran Rp 600 hingga Rp 700 ribu.  Padahal dulu harga normal berada di kisaran Rp 260 ribu hingga Rp 300 ribu per sak. 

Kenaikan itu tidak terlepas dari pandemi Covid-19 dan diperburuk oleh perang Rusia-Ukraina yang pecah pada Februari 2022.   Pasokan bahan baku terhambat mengingat Rusia sebagai pemain gas alam merupakan pengekspor sekitar 20 persen pupuk nitrogen dunia. Mereka juga pemain besar di kalium maupun phospat. Akibatnya harga pupuk urea di tingkat dunia juga naik gila-gilaan.  

Sebagai gambaran bila pada awal 2019 pupuk Urea masih di angka 247,5 dolar AS per ton, maka pada Desember 2022 angkanya di leve 519,38  dolar per metrik ton. Angka itu sudah menurun bila dibandingkan puncaknya pada April 2022 seharga 925 dolar AS per metrik ton. 

Akibat kenaikan harga pupuk ini banyak petani yang menjerit, termasuk Basrin. Daripada tidak menanam, Basrin memilih untuk menggunakan pupuk organik. Beruntung lahan di Liwa, termasuk subur.  "Kalau pakai pupuk Urea (kimia) biasanya susah dicari, kalau yang nonsubsidi harganya sudah terlalu mahal, tidak masuk hitungannya dengan hasil didapat," ujarnya. 

Sementara untuk subsidi, menurut Basrin, tidak semua bisa mengakses. Harus terdaftar terlebih dulu. Pun kalau ada barangnya juga cepat sekali habis. “Bedanya kalau organik pas ditabur tidak langsung kelihatan hasilnya, butuh waktu.”

Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian pun sadar dengan keluhan petani tersebut. Bahkan dalam berbagai kesempatan para petani menyampaikan secara langsung keluhannya itu.  Menurut Presiden, bahan baku pupuk saat ini masih sulit karena pemasok utama Rusia dan Ukraina sedang perang. 

Kementerian Pertanian mendorong petani untuk kreatif dengan memanfaatkan pupuk organik maupun mikroorganisme yang dihasilkan alam. Pembenahan tanah juga perlu dilakukan agar tanah bisa kembali subur.     

Gangguan produksi

BPS mencatat produksi padi pada 2022 yaitu sebesar 54,75 juta ton GKG. Angka ini mengalami kenaikan sebanyak 333,68 ribu ton atau 0,61 persen dibandingkan produksi padi di 2021 yang sebesar 54,42 juta ton GKG.

Namun melonjaknya harga pupuk yang bertahan lama dikhawatirkan bisa mengganggu hasil produksi tersebut. Alasannya, sejumlah petani ada yang mengurangi takaran pupuk dari seharusnya.  "Kalau yang pakai pupuk Urea sejumlah petani mengurangi tingkat pemakaiannya biar efisien," kata Basrin. 

Ekonom dari Indef Taufik Ahmad pun tak menampik bahwa kenaikan harga pupuk bisa mempengaruhi tingkat produksi beras. Pasalnya, petani sengaja mengurangi penggunaan pupuk tersebut. “Saya menduga penurunan produksi Februari-Maret di beberapa wilayah kabupaten di Jawa Timur seperti di Magetan karena pengurangan pupuk tersebut,” ujarnya kepada GPR News.  

Pemerintah sejatinya telah memberikan pupuk bersubsidi untuk para petani. Hanya saja subsidi itu bersifat terbata untuk mereka yang memiliki kartu tani. Pemerintah menyediakan alokasi pupuk subsidi pada 2023 sebesar 9.013.706 ton. Angka tersebut terdiri atas pupuk Urea sebesar 5.570.330 ton, NPK 3.232.373 ton, dan NPK formula khusus 211.003 ton.

Taufik menyarankan agar ada perbaikan dalam pemerataan subsidi pupuk.  Menurutnya, perlu dicek kembali siapa-siapa yang memang berhak mendapat subsidi tersebut lewat kartu tani. “Perlu ada perbaikan data kelompok penerima, verifikasi pada tingkat desa dan kecamatan sangat penting untuk menentukan siapa yang berhak mendapat,” ujarnya. 

Kemudian rantai pasok distribusi juga perlu dijaga agar pupuk ini bisa benar-benar mudah diakses, baik itu subsidi maupun non subsidi. Jangan sampai ada kebocoran maupun praktik pemalsuan pupuk karena disparitas harga pupuk tersebut.  

Ketiga, kata Taufik yakni dengan hilirisasi gas. Hilirisasi gas penting agar Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pupuk di dalam negeri. Sehingga bila terjadi guncangan di luar, Indonesia bisa bertahan. Dengan demikian masalah pupuk bisa diselesaikan dan produksi beras bisa meningkat. (DT)

 

Foto:Unsur Muspika bersama petani menunjukkan padi saat panen raya padi program D’kompuser petani binaan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Desa Dayah Meunara, Aceh Utara, Aceh, Selasa (2/5/2023). Panen raya padi seluas 20 hektare tersebut merupakan binaan program pemanfaatan bahan organik kompos jerami (kompuser) yang mendonkrak hasil gabah kering panen (GKP) petani dari 6,5 ton per hektare menjadi 9,6 ton per hektare. ANTARA FOTO/Rahmad/tom.

 

Baca artikel lainnya dan download GPRNews Edisi IV 2023 di: https://www.gprnews.id/books/drra/