Jakarta, InfoPublik - PT Pertamina Patra Niaga resmi memasuki tahap komersialisasi produksi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah, dengan target produksi mencapai 11 juta liter co-processed SAF pada Oktober 2026.
Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, melalui keterangan resmi, Selasa (27/10/2026).
Taufik menyatakan, capaian tersebut dari mengoptimalkan infrastruktur kilang yang ada untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi produk energi berkelanjutan.
Pengolahan limbah minyak goreng bekas ini memanfaatkan fasilitas thermal distillate hydro treating (TDHT) di Green Refinery Cilacap, Jawa Tengah, melalui skema co-processing dengan rasio minyak jelantah maksimal 5 persen dari total kapasitas produksi unit.
Inisiatif pengolahan SAF diintegrasikan secara langsung dengan pemberdayaan ekonomi sirkular masyarakat di sekitar kilang. Pertamina Patra Niaga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah berbasis masyarakat melalui tiga bank sampah binaan, yaitu Bank Sampah Beo Asri (2.283 liter/tahun), Bank Sampah Abhipraya (984 liter/tahun), dan Bank Sampah Cahaya Asri (717 liter/tahun), serta menyediakan sarana penukaran collection box berimbalan uang tunai atau saldo e-wallet di Pasar Amarta Kutawaru.
"Melalui program ini, kami ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap minyak jelantah. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikelola secara bertanggung jawab. Dengan kolaborasi bersama masyarakat, kami berharap ekosistem pengumpulan minyak jelantah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lingkungan maupun ekonomi," ujar Taufik.
Produk Pertamina SAF saat ini telah dipasarkan ke sejumlah maskapai penerbangan domestik maupun internasional, di samping keberhasilan uji coba pengolahan jelantah sebagai bahan baku Green Gasoline.
Pengembangan ekosistem energi hijau itu ditinjau oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat melakukan kunjungan kerja ke Kilang Cilacap, Jawa Tengah, pada Senin (26/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, wapres menekankan pentingnya inovasi teknologi SAF yang berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat agar pengelolaan limbah di tingkat tapak memiliki nilai ekonomi terintegrasi dengan industri nasional.