Probolinggo, InfoPublik – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo terus mengembangkan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 7 sebagai model pendidikan dan pembinaan karakter bagi anak-anak rentan sosial.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Rey Suwigtyo, menegaskan bahwa pengembangan karakter menjadi fokus utama dalam proses seleksi dan pembelajaran peserta didik SR.
“Anak-anak di SR ini berbeda. Mereka tidak mendaftar, melainkan dipanggil pemerintah melalui data sosial. Mereka anak-anak istimewa yang harus dipelihara oleh negara,” ujar Rey di Probolinggo, Kamis (16/10/2025).
Rey menjelaskan, SR menjadi sekolah rintisan dengan pendekatan pembinaan karakter menyeluruh. Setiap peserta dipilih melalui proses seleksi ketat yang mencakup pemeriksaan kesehatan, asesmen keluarga, serta kelayakan sosial.
“Kami melakukan verifikasi bersama Dinas Sosial, SDM PKH, dan relawan sosial. Hasilnya, anak-anak yang masuk adalah mereka yang benar-benar membutuhkan perhatian negara,” katanya.
Menurut Rey, SR dibentuk bukan sekadar memberikan pendidikan akademis, tetapi juga membangun kembali perilaku, kepercayaan diri, dan kedisiplinan anak-anak yang sebelumnya hidup di jalan, tidak sekolah, atau tidak terurus oleh keluarganya.
“Sebagian anak bahkan mengalami masalah perilaku ekstrem. Namun dengan terapi psikologis dan konseling rutin, mereka perlahan berubah,” ungkapnya.
SR Terintegrasi 7 dilengkapi dengan tenaga psikolog, konselor, dan terapis yang bekerja penuh waktu. Pendampingan dilakukan untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus, baik fisik maupun mental.
“Contohnya ada anak berusia 13 tahun yang masih mengompol, dan ada yang mengalami kecanduan gawai. Setelah diterapi oleh tim psikolog kami, mereka menunjukkan kemajuan signifikan,” jelas Rey.
Fasilitas SR juga terus dikembangkan. Bangunan yang semula digunakan sebagai lokasi isolasi pasien COVID-19 kini disulap menjadi sekolah dan asrama. Dalam waktu satu bulan, bersama mitra BUMN konstruksi, ruang belajar dan asrama berhasil direvitalisasi agar layak digunakan.
Program SR di Probolinggo didukung oleh berbagai elemen, mulai dari Dinas Sosial, Kementerian Agama, Kodim, Polres, hingga organisasi sosial seperti Tagana dan PKH. Guru-guru yang mengajar merupakan tenaga baru lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang kini berstatus ASN PPPK.
“Semua komponen terlibat, mulai dari guru, satpam, pendamping asrama, hingga relawan sosial. Kami bergerak bersama demi memutus mata rantai kemiskinan,” kata Rey.
SR Probolinggo menjadi satu dari 53 sekolah rintisan di Indonesia yang disetujui Kementerian Sosial. Proses verifikasi dan kelayakan dilakukan secara ketat, termasuk kelengkapan dokumen sertifikat bangunan, AMDAL, dan persyaratan teknis lainnya.
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter, SR Probolinggo menerapkan kurikulum berbasis kearifan lokal dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta PC Nahdlatul Ulama (NU).
“Kami membiasakan anak untuk hidup disiplin seperti di pondok pesantren. Mereka belajar mengaji, salat berjemaah, menjaga kebersihan, dan belajar fikih,” ujar Rey.
Setiap pagi peserta didik mengikuti kegiatan keagamaan, sementara malam hari diisi dengan pembelajaran nilai moral dan pembinaan perilaku.
Selain pendidikan agama, SR juga menerapkan sistem boarding school dengan pola hidup teratur, evaluasi rutin, dan pemberian penghargaan (reward) bagi siswa yang berprestasi. Orang tua peserta pun mendapatkan pembinaan melalui kunjungan rutin agar tetap terlibat dalam perkembangan anak.
Untuk mendukung kegiatan belajar dan kehidupan di asrama, SR dilengkapi fasilitas medis termasuk satu unit ambulans siaga. “Kami bekerja sama dengan rumah sakit daerah untuk menangani setiap kebutuhan medis anak-anak. Semua biaya pengobatan ditanggung pemerintah,” ujar Rey.
Rey menuturkan, dirinya memiliki keterikatan emosional dengan program ini. Ia berharap SR dapat melahirkan generasi penerus bangsa dari latar belakang keluarga kurang mampu.
“Saya tidak ingin anak tukang becak menjadi tukang becak, anak pemulung menjadi pemulung. Saya ingin mereka memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak lain. Negara harus hadir untuk itu,” ujarnya haru.
Menurutnya, indikator keberhasilan program akan terlihat dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan, seiring perubahan karakter dan kemampuan akademis peserta didik.
“Saya yakin 90 persen dari mereka akan berhasil dan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ini bukan sekadar program pendidikan, tapi gerakan kemanusiaan,” tutur Rey.
Ia berharap, siapapun pemimpin nasional berikutnya, program SR dapat terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen negara untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun karakter bangsa.
Rey menutup pernyataannya dengan penuh keyakinan bahwa SR akan menjadi ladang kebaikan bagi semua pihak yang terlibat.
“Saya sering menangis di hadapan anak-anak. Mereka diberi kesempatan, dan saya merasa berdosa karena baru sekarang bisa hadir untuk mereka. Program ini saya anggap tabungan amal saya menjelang pensiun,” ucapnya.