Bali, InfoPublik – Puteri Indonesia Pariwisata 2026 sekaligus Miss Cosmo Indonesia 2026, Karina Moudy Widodo, mengajak guru dan orang tua memperkuat pendidikan karakter digital bagi anak sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sebatas meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang cakap, beretika, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Karina dalam forum Sahabat Tunas bertema "Guru Berdaya, Generasi Unggul dan Tangguh Digital sebagai Investasi Masa Depan" di Bali, Kamis (2/7/2026).
Karina menilai generasi Alpha dan Beta merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif media sosial karena tumbuh di tengah ekosistem digital yang serba cepat dan minim batasan.
"Mereka cenderung mengakses media sosial tanpa kesiapan untuk benar-benar memahami bagaimana bersosial media secara sehat," ujarnya.
Ia mengungkapkan, kemudahan akses terhadap platform digital membuat anak-anak berisiko mengalami fenomena brain rot, yakni menurunnya kemampuan berpikir kritis akibat terlalu sering mengonsumsi konten instan tanpa diimbangi kemampuan literasi digital yang memadai.
Selain memengaruhi kemampuan berpikir, penggunaan gawai secara berlebihan juga berdampak pada perkembangan sosial dan fisik anak. Karina mengaku melihat perubahan tersebut terjadi di lingkungan keluarganya sendiri.
"Adik-adik saya sekarang lebih memilih bermain menggunakan gawai dibandingkan bermain di luar rumah. Akibatnya, interaksi sosial mereka di dunia nyata juga berkurang," katanya.
Karina juga mengingatkan bahwa setiap aktivitas di media sosial akan meninggalkan jejak digital yang dapat memengaruhi masa depan seseorang. Karena itu, menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan berpikir sebelum mengunggah konten di internet.
Sebagai figur publik yang telah aktif menggunakan media sosial sejak duduk di bangku sekolah, ia menerapkan tiga pertanyaan sederhana sebelum membagikan suatu unggahan, yakni apakah konten tersebut bermanfaat, apakah berpotensi menyinggung orang lain, dan apakah dirinya siap jika unggahan tersebut dilihat kembali lima tahun mendatang.
"Jejak digital adalah rekam jejak karakter kita. Apa yang kita unggah hari ini bisa menjadi penilaian orang terhadap diri kita di masa depan," ujarnya.
Karina juga menyoroti fenomena pencarian validasi di media sosial melalui perilaku flexing atau mempertontonkan gaya hidup secara berlebihan. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membentuk persepsi yang keliru mengenai nilai diri dan keberhasilan seseorang.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa guru dan orang tua tetap menjadi teladan utama dalam membentuk karakter digital anak. Pendampingan dan komunikasi yang baik dinilai menjadi kunci agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Karina menyatakan dukungannya terhadap implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah konkret pemerintah untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan penyelenggara platform digital.
"PP TUNAS bukan untuk membatasi kreativitas anak, tetapi memastikan mereka memiliki kesiapan dan perlindungan sebelum memasuki ruang digital yang penuh tantangan," katanya.
Ia berharap penguatan karakter digital dapat berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital sehingga anak-anak Indonesia mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.
Penguatan karakter digital tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang unggul melalui pendidikan berkualitas dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi, sekaligus mendukung Asta Cita ke-7 tentang penguatan transformasi digital yang berorientasi pada perlindungan masyarakat dan tata kelola digital yang aman.