Probolinggo, InfoPublik – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menargetkan tutupan mangrove di sepanjang garis pantai mencapai 100 persen. Saat ini, luas kawasan mangrove di kota tersebut mencapai sekitar 120 hektare dari potensi sekitar 150 hektare, dengan cakupan tutupan pesisir sekitar 80 persen.
Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, dalam Festival Mangrove Jatim ke-11 di Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur (Jatim), Selasa (3/11/2026).
“Kurang lebih 80 persen garis pantai atau coastal line Kota Probolinggo sudah memiliki tutupan mangrove. Kami memiliki lima kelompok kawasan mangrove dan berkomitmen untuk terus meningkatkan cakupannya hingga 100 persen,” ungkap Aminuddin.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir, luas tutupan mangrove di Kota Probolinggo bertambah sekitar 30 hektare. Pemerintah daerah terus mendorong perluasan kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya perlindungan ekosistem pesisir.
Aminuddin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim yang telah mempercayakan Kota Probolinggo sebagai tuan rumah Festival Mangrove ke-11. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim.
Ia menjelaskan bahwa upaya pelestarian mangrove di Kota Probolinggo sejalan dengan program Lestari Mangrove dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jatim hingga 2029 serta diintegrasikan melalui program Bersolek.
Pemkot Probolinggo juga berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, kelompok masyarakat, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan organisasi nonpemerintah dalam menjaga kawasan mangrove.
Selain berfungsi melindungi ekosistem pesisir dan menyerap karbon, mangrove dinilai memiliki potensi ekonomi. Aminuddin menyebut nilai ekonomi satu hektare kawasan mangrove diperkirakan mencapai Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.
Ia juga mengungkapkan bahwa potensi mangrove Jatim telah diperkenalkan dalam United Nations Biodiversity Conference di Armenia. Menurutnya, Jatim memiliki tutupan mangrove terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi sekitar 46 persen.
“Ke depan, mangrove akan menjadi perhatian dunia. Karena itu, kami berharap para penggiat dan kelompok masyarakat yang selama ini dengan tulus melakukan penanaman serta perawatan mangrove mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, Jumadi, melaporkan bahwa luas mangrove di Jatim meningkat dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 31.067 hektare pada 2025, atau bertambah 3.846 hektare dalam empat tahun.
Capaian tersebut menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan tutupan mangrove terbesar di Pulau Jawa, dengan kontribusi hampir 50 persen dari total luas mangrove di wilayah tersebut.
Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Sriyanto, turut mengapresiasi pengelolaan mangrove di Probolinggo, terutama keterlibatan masyarakat dalam konservasi dan pengembangan potensi ekonomi kawasan pesisir.
Ia menyampaikan rencana untuk mengusulkan Probolinggo sebagai lokasi Festival Mangrove tingkat nasional agar praktik pengelolaan mangrove di daerah tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.
Dalam kegiatan tersebut, Sriyanto juga meluncurkan Sagara (Sistem Informasi Gambut dan Mangrove Nusantara), platform digital terpadu yang berfungsi sebagai pusat data, pengetahuan, dan sarana pengaduan publik terkait perlindungan ekosistem gambut serta mangrove.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa Festival Mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya menjaga lingkungan melalui penanaman dan perawatan mangrove secara berkelanjutan.
Khofifah mendorong pelestarian mangrove mulai dari pembibitan, perawatan, perluasan kawasan, hingga hilirisasi produk turunannya agar memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.
Festival tersebut juga diisi dengan penanaman mangrove bersama serta pelepasliaran 300 bibit kepiting dan 100 burung tekukur sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.