Atambua, InfoPublik – Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, meminta operator alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya traktor, memberikan pelayanan optimal kepada petani dalam mengolah lahan menjelang musim tanam. Ia menegaskan, bantuan fasilitas pemerintah harus dapat diakses seluruh petani tanpa diskriminasi maupun hambatan administratif yang tidak beralasan.
"Kita sudah hampir memasuki musim tanam pertama. Ini merupakan tahun kedua saya bersama Pak Bupati, namun saya belum melihat adanya pencapaian yang luar biasa. Mungkin laporan resminya belum sampai ke saya, atau ada kendala lain. Faktanya banyak persoalan yang saya temukan langsung di lapangan, terutama terkait kinerja para operator," ujar Vicente dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Program Pembangunan Pertanian serta Penguatan Penyuluh dalam Mendukung Peningkatan Produksi dan Ketahanan Pangan di Kabupaten Belu, di Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (3/11/2026).
Memasuki tahun kedua kepemimpinannya bersama Bupati Belu, Vicente menilai sektor pertanian belum menunjukkan capaian program yang signifikan. Sejumlah persoalan ditemukan saat turun langsung ke lapangan, terutama terkait pelayanan operator alsintan kepada petani.
Menurutnya, fasilitas traktor yang disediakan pemerintah bertujuan membantu petani mengolah lahan secara merata. Karena itu, operator tidak boleh menolak permintaan layanan dengan alasan kuota habis atau kendala administratif yang dibuat-buat.
"Semua petani memiliki hak yang sama untuk mendapatkan bantuan fasilitas operasional ini. Saya tidak ingin mendengar laporan adanya traktor yang mangkrak atau operator yang menolak melayani petani dengan alasan kuota habis atau alasan administratif lainnya yang dibuat-buat," tegasnya.
Selain pelayanan alsintan, Vicente menyoroti distribusi sarana produksi pertanian, terutama bibit dan pupuk yang kerap terlambat diterima petani. Ia meminta dinas terkait memastikan ketersediaan kebutuhan tersebut sebelum musim tanam dimulai agar tidak menghambat kegiatan produksi.
"Jangan sampai masyarakat sudah menanam baru bibitnya kita bagikan. Tolong pastikan apakah pupuk mereka sudah cukup atau belum, serta bibitnya sudah siap atau belum. Mengurus ketahanan pangan di kabupaten ini adalah tugas Anda semua. Indikator keberhasilannya adalah petani sejahtera, tetapi faktanya petani kita di bawah masih terus mengeluh," tambahnya.
Untuk meningkatkan produksi pertanian, Wakil Bupati mendorong petugas dan penyuluh bekerja lebih optimal dengan memetakan ketersediaan sumber daya air serta pasokan pupuk di setiap wilayah binaan. Pemetaan tersebut diperlukan agar kebutuhan petani dapat diketahui dan dipenuhi sesuai kondisi lapangan.
Rapat koordinasi dan evaluasi ini dihadiri jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Belu, para penyuluh pertanian, serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Belu, Frederikus L. Bere Mau.