Tidore, InfoPublik- Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan mencatat enam sekolah memiliki kualitas udara berstatus sangat tidak sehat dan 34 sekolah serta fasilitas publik berstatus tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berdasarkan hasil pengukuran per 19 Oktober 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan Saiful Salim mengatakan, pengukuran kualitas udara dilakukan oleh seluruh puskesmas setiap dua hari untuk memantau kondisi udara dan menentukan langkah mitigasi, terutama di lingkungan sekolah.
“Hingga saat ini, kabut asap masih menyelimuti Kota Tidore Kepulauan. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan seluruh puskesmas, sebagian besar sekolah masih berada dalam kategori tidak sehat. Bahkan, beberapa sekolah mengalami penurunan kualitas udara hingga kategori sangat tidak sehat, sedangkan sekolah lainnya berada dalam kategori sedang,” ujar Saiful saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026).
Enam sekolah dengan kualitas udara berstatus sangat tidak sehat adalah SDN 2 Akesai, SDN 1 Akesai, SMA Muhammadiyah 1 Tidore, SMA Taman Siswa Bale, MTs Swasta Nurul Jihad Aketalaga, dan SMP Negeri 2 Tidore.
Sementara itu, lokasi dengan kualitas udara berstatus tidak sehat meliputi SDN Jaya, SDN Rum, SMP Negeri 7 Kota Tidore, SDN Tahua, SDN Balibunga, MIN 5 Tidore, SDN 1 Afa-Afa, SMA 10 Tidore, TK Pembina 3, SMA Negeri 2 Toloa, MTs Dokiri, SDN 1 Tomalou, TK Pembina Tomalou, SMP Negeri 11 Akekolano, SMP Negeri 5 Sofifi, dan SDN Galala.
Lokasi lainnya adalah SMAN 6 Tidore, SDN 2 Akedotilou, MIS Woda, SDN Lifofa, SMPN 9 Tidore, SDN 1 Wama, SDN 2 Wama, SDIT Raudhatul Hidayah, SMPN 25 Tidore, SDN Kosa, TK Pembina 26 Tidore, SDN 1 Payahe, SMAN 4 Tidore, Kantor Desa Kosa, Kantor KUA Oba, Kantor Camat Oba, SMAN 9 Tidore, dan MIS Al Mustaqim Cobo.
Adapun enam sekolah dengan kualitas udara berstatus sedang adalah SDN Goto, SMP Negeri 1 Tidore, SDN Soasio, SDN Topo, MIN 6 Tidore, dan SDN Itokici.
Menyikapi kondisi tersebut, Saiful mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan riwayat penyakit pernapasan, untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
“Kami berharap masyarakat tidak mengabaikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Kita harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan akibat dampak karhutla dengan membiasakan diri menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Asap kiriman dari sejumlah daerah menjadi salah satu sumber pencemaran udara yang perlu kita waspadai,” kata dia.
Saiful menjelaskan, tenaga kesehatan berfokus pada upaya mitigasi untuk mencegah peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), antara lain melalui edukasi protokol kesehatan serta penyediaan masker dan obat-obatan di seluruh puskesmas.
“Seluruh puskesmas telah menyediakan masker dan obat-obatan yang dapat diperoleh masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” ujar dia.
Dinas Kesehatan mengimbau sekolah yang berada dalam kategori kualitas udara sedang sekalipun untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat juga diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mencegah dampak kesehatan.
(Tn/MC Tidore)