Langgur, InfoPublik — Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Sacharias Izak Sapulette, mendorong Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) memperkuat kualitas kader dan menghadirkan pelayanan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Sapulette dalam Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) XXXVII AMGPM Tahun 2026 di Gereja Sumber Kasih, Ohoi Ohoira, Kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, MPP menjadi momentum bagi para pemimpin dan kader AMGPM untuk mengevaluasi pelaksanaan program, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan arah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
“Kita berkumpul sebagai orang-orang yang dipercayakan Tuhan untuk memikirkan masa depan generasi muda gereja dan bangsa, masa depan pelayanan AMGPM, serta kontribusi kehadiran gereja dan AMGPM bagi masyarakat, Indonesia, dan dunia,” ungkap Sapulette.
Ia menekankan bahwa setiap keputusan organisasi harus diarahkan pada peningkatan kualitas kader dan kebermanfaatan pelayanan, bukan sekadar pemenuhan agenda kelembagaan.
AMGPM Didorong Wujudkan Visi Pelayanan 2025–2030
Sapulette menjelaskan bahwa Kongres XXX AMGPM Tahun 2025 telah menetapkan visi pelayanan periode 2025–2030, yakni “Menjadi AMGPM yang Berakar pada Injil dan Berbuah bagi Dunia”.
Menurutnya, visi tersebut menjadi landasan pembentukan karakter, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan program organisasi yang berorientasi pada nilai-nilai keimanan serta kepedulian sosial.
Merujuk pada Yohanes 15:5, ia mengingatkan pentingnya hubungan spiritual dengan Yesus Kristus sebagai dasar bagi setiap kader dalam menjalankan tanggung jawab pelayanan.
“Keberakaran pada Kristus harus menghasilkan perubahan nyata dan kehadiran yang berdampak dalam gereja dan masyarakat,” tegasnya.
Sapulette menilai penguatan spiritualitas harus tercermin dalam integritas, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan kader berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
Keberhasilan Organisasi Diukur dari Manfaat Pelayanan
Selain penguatan karakter, Sapulette menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas kader dalam bidang pendidikan, profesi, ekonomi, dan kepedulian lingkungan.
Ia mengatakan pembenahan struktur organisasi, kelengkapan kepengurusan, dan pengembangan sistem administrasi digital tetap diperlukan untuk memperkuat kelembagaan AMGPM. Namun, keberhasilan organisasi tidak cukup dinilai dari aspek administratif.
“Apakah kader kita semakin dewasa, matang, dan berintegritas? Apakah kader AMGPM semakin mampu bekerja dalam berbagai profesi dan mandiri secara ekonomi? Apakah kader-kader AMGPM memiliki kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, penderitaan sesama, dan membawa damai dalam kehidupan bersama?” ujarnya.
Menurutnya, pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi untuk mengukur sejauh mana program organisasi mampu meningkatkan kemandirian, kepedulian sosial, dan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, AMGPM diharapkan terus mengembangkan program pemberdayaan yang dapat membantu generasi muda meningkatkan kompetensi, membangun kemandirian ekonomi, serta mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat.
Sapulette menegaskan bahwa organisasi kepemudaan gereja perlu memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat melalui pelayanan yang berkelanjutan.
“Keberhasilan AMGPM tidak hanya diukur dari seberapa besar organisasi, tetapi dari seberapa dalam iman dan seberapa nyata buah pelayanan AMGPM di tengah masyarakat,” pungkasnya.
(MC.Maluku Tenggara/Adolof Labetubun)