Langgur, InfoPublik — Sebanyak 60 regu yang didominasi anak-anak dan pelajar memeriahkan Karnaval Budaya Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Senin (19/10/2026).
Mengenakan pakaian adat, para peserta menampilkan tarian, menyanyikan lagu daerah, serta memperkenalkan hasil laut, hasil kebun, dan alat tangkap tradisional masyarakat Kei.
Karnaval yang melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan tersebut menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat Kei.
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, mengatakan karnaval budaya bukan sekadar hiburan atau kegiatan seremonial tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga persatuan dan menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya masyarakat Kei.
“Kekuatan terbesar orang Kei adalah semangat kekeluargaan, kebersamaan, dan persaudaraan yang menembus sekat-sekat perbedaan,” kata Hanubun saat menerima peserta karnaval di Taman Landmark Kota Langgur.
Menurutnya, keterlibatan anak-anak dan pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk memperkenalkan tradisi serta menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur sejak dini.
“Karnaval ini adalah salah satu warisan terbesar yang tetap bertahan dan kita lestarikan. Hari ini kita tampilkan dengan gagah dan penuh kebanggaan. Biarlah para tamu yang hadir melihat dan merasakan bahwa Kei kaya akan budaya, dan kita mampu menjaganya dengan penuh kecintaan,” ujarnya.
Hanubun berharap karnaval dapat memperkuat identitas masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kepulauan Kei kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karnaval Libatkan Pelajar dari PAUD hingga SMP
Karnaval Budaya FPMK 2026 dibuka oleh Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, didampingi Ketua DPRD Maluku Tenggara, Stepanus Layanan, serta sejumlah anggota DPRD dan unsur terkait.
Para peserta memulai perjalanan dari depan Balai Ohoi Langgur, kemudian menyusuri rute yang telah ditentukan hingga berakhir di Taman Landmark Kota Langgur.
Sepanjang perjalanan, masyarakat memadati tepi jalan untuk menyaksikan penampilan peserta. Orang tua dan guru turut mendampingi anak-anak yang menampilkan beragam atraksi budaya dan potensi lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Maluku Tenggara, Budi Tofi, menjelaskan karnaval tahun ini diikuti 60 regu dari berbagai satuan pendidikan di wilayah daratan Kei Kecil, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP).
“Kegiatan ini berlangsung meriah dengan melibatkan siswa-siswi dan para guru dari berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP,” ungkap Budi.
Menurut Budi, keterlibatan sekolah dalam kegiatan pariwisata berbasis budaya membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengenal tradisi daerah melalui pengalaman langsung.
Selain pakaian adat dan kesenian tradisional, peserta juga menampilkan berbagai hasil alam serta peralatan yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir dan pertanian di Kepulauan Kei.
Pendidikan Budaya Perkuat Identitas Generasi Muda
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tenggara, Raudah Arif Bin Hanubun, mengatakan keterlibatan pelajar dalam FPMK 2026 merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya daerah di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, pendidikan budaya tidak cukup disampaikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga membutuhkan kegiatan yang memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak.
Melalui karnaval, pelajar dapat mengenal adat istiadat, memahami nilai-nilai luhur masyarakat, serta mengembangkan kreativitas dalam menampilkan kekayaan budaya daerah.
“Kegiatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kerja sama pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal,” katanya.
(MC.Maluku Tenggara/Adolof Labetubun)