Raja Ampat, InfoPublik- Lomba Perahu Hias memeriahkan hari ketiga Festival Pesona Raja Ampat 2026 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Sabtu (17/10/2026), dengan menampilkan kekayaan budaya dan identitas maritim masyarakat setempat.
Sebanyak sembilan tim dari sanggar budaya, pemerintah distrik, paguyuban, dan satuan pendidikan mengikuti perlombaan dengan menampilkan ornamen serta simbol khas daerah masing-masing, disertai sinopsis tentang sejarah dan nilai budaya.
Salah satu peserta, Ikatan Biak Aimando, menampilkan Perahu Wai Mansusu yang menggambarkan kejayaan maritim sejak abad ke-8 hingga abad ke-19. Perahu tersebut menjadi simbol peradaban, status sosial, spiritualitas, dan ketangguhan para pelaut Pasifik.
“Kata Mansusu yang berarti maju dan mundur dimaknai sebagai kemampuan para leluhur dalam menghadapi musuh dari berbagai arah,” ujar Wakil Ketua Ikatan Biak Aimando Raja Ampat, Frits Feliks Dimara.
Menurut dia, filosofi tersebut mencerminkan keberanian dan kemampuan masyarakat pelaut dalam menghadapi berbagai tantangan.
Peserta dari Kampung Warsambin, Binsyowi, mengangkat ornamen ikan lema dan keindahan Kali Biru yang menjadi ikon kampung tersebut. Keduanya merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan budaya yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Distrik Ayau juga menampilkan perahu hias Wai Mansusu sebagai refleksi identitas masyarakat yang memiliki sejarah panjang sebagai bangsa pelaut. Perahu tersebut dimaknai sebagai gambaran masyarakat pelaut yang besar, tangguh, dan perkasa.
Sementara itu, Distrik Batanta Selatan menampilkan perahu kayu tradisional dengan atap kajang berbahan daun sagu dan bagian pinggir perahu yang menggunakan pelepah sagu. Penampilan tersebut menggambarkan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan sekitar.
Peserta lainnya, yakni Kampung Mumes, Papua Arts Kewrai Kampung Saporkren, SMP Negeri Distrik Kepulauan Ayau, dan Sanggar Mangkornborn, turut menjadikan perahu sebagai bagian utama penampilan mereka.
Beragam bentuk dan ornamen perahu tersebut menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Raja Ampat dengan laut sejak dahulu. Selain sebagai alat transportasi, perahu menjadi sarana untuk mencari sumber pangan, memenuhi kebutuhan hidup, dan menunjang aktivitas sehari-hari.
Kepala Dinas Kesehatan Raja Ampat, Engelbert M.S. Wader mengajak masyarakat memanfaatkan kekayaan laut secara bijak dan tidak mengambil hasil laut secara berlebihan agar tetap tersedia bagi generasi mendatang.
“Ambillah ikan seperlunya, sisakan bagi anak cucu kita. Jangan biarkan air mata bagi generasi mendatang, tapi jagalah mata air kehidupan bagi mereka,” kata dia.
Lomba Perahu Hias, Festival Pesona Raja Ampat 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan laut.
(MC Raja Ampat/Penta Nila Juwita)