Kota Gorontalo, InfoPublik - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPA-PMD) Provinsi Gorontalo, Yana Yanti Suleman, menyatakan, pengenalan tiliaya sebagai kearifan lokal kepada anak merupakan salah satu bentuk investasi budaya bagi generasi penerus.
Menurut Yana, anak-anak perlu diberikan ruang untuk mengenal budaya daerah melalui cara yang sederhana, dekat dengan kehidupan mereka, serta sesuai dengan dunia anak.
“Pengenalan Tiliaya kepada anak-anak pada hari Rabu lalu menjadi salah satu cara untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini. Kita berharap anak-anak mengenal bahwa Gorontalo memiliki kekayaan budaya dan pangan tradisional yang perlu dijaga dan diwariskan,” kata Yana Suleman, Jumat (2/10/2026).
Upaya memperkenalkan dan melestarikan tiliaya sebagai kearifan lokal Gorontalo terus dilakukan sejak usia dini. Hal tersebut ditunjukkan melalui pengenalan Tiliaya kepada anak-anak PAUD/Taman Bermain di TK Damhil Universitas Negeri Gorontalo (UNG),.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Gorontalo, Ida Syahidah Rusli Habibie, secara langsung mengenalkan dan memberikan TTliaya kepada anak-anak sebagai bagian dari edukasi kearifan lokal dan pengenalan pangan tradisional khas Gorontalo.
Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangkaian kolaborasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPA-PMD) Provinsi Gorontalo bersama Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Gorontalo, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya daerah melalui pendekatan yang ramah dan menyenangkan bagi anak.
Dengan suasana yang penuh keakraban, Wakil Gubernur berinteraksi langsung dengan anak-anak sekaligus memperkenalkan Tiliaya sebagai salah satu makanan tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Gorontalo.
Tiliaya merupakan pangan tradisional Gorontalo yang berbahan utama telur, gula aren, dan santan. Pengenalan makanan tradisional ini kepada anak usia dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan, dan kebanggaan terhadap kekayaan budaya daerah.
Yana Suleman mengatakan, pelestarian kearifan lokal tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan keterlibatan keluarga, satuan pendidikan, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, serta masyarakat secara luas.
Sejunlah 300 porsi Tiliaya diberikan kepada 300 anak PAUD/Taman Bermain dalam kegiatan edukasi tersebut. Dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan juga diberikan oleh BSG.
Kegiatan ini mengusung tema “Kolaborasi Pemerintah dan Perguruan Tinggi untuk Perlindungan Anak, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Pewarisan Kearifan Lokal Gorontalo Sejak Usia Dini.”
Pengenalan Tiliaya kepada anak usia dini juga menjadi bagian dari rangkaian kerja sama antara Dinas PPPA-PMD Provinsi Gorontalo dan FIS UNG dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempertemukan kekuatan pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk dalam perlindungan anak, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian kearifan lokal.
Melalui perguruan tinggi, berbagai kekayaan budaya daerah dapat dikaji, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, pemerintah daerah memiliki peran dalam mendorong agar hasil pengetahuan, penelitian, dan inovasi tersebut dapat memberikan manfaat dalam pembangunan daerah.
Pengenalan Tiliaya kepada anak-anak diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan berbagai bentuk kearifan lokal Gorontalo lainnya kepada generasi penerus.