SLEMAN, InfoPublik – Krisis pembuangan akhir pascapenutupan TPA Piyungan memaksa Pemerintah Kabupaten Sleman bertindak cepat.
Guna mewujudkan visi Sleman Tuntas Sampah 2029, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat merancang pembangunan 10 fasilitas transfer depo secara bertahap.
Rencana ini disosialisasikan langsung oleh Sekretaris DLH Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta, kepada aparat dan warga di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan kalkulasi Badan Pusat Statistik pada 2026, lebih dari 1,1 juta jiwa penduduk Sleman memproduksi 602 ton sampah setiap harinya.
Ironisnya, tumpukan limbah ini didominasi oleh sampah permukiman sebesar 67,9 persen, dengan sisa makanan menempati porsi penyumbang terbesar.
Merespons beban ekologi yang masif tersebut, Sugeng memaparkan bahwa pembangunan transfer depo mutlak diperlukan sebagai sistem penanganan terintegrasi.
Sebanyak tiga fasilitas transit akan dibangun pada tahun 2026, disusul tujuh lokasi lainnya pada 2027.
Khusus untuk Kapanewon Moyudan, fasilitas ini direncanakan berdiri di atas tanah kalurahan di kawasan Tiwir, Sumbersari.
Sugeng mengedukasi warga agar tidak panik, lantaran transfer depo ini bukanlah tempat pembuangan akhir yang akan ditumpuk dalam jangka waktu lama.
Sistem ini murni berfungsi sebagai titik singgah perantara, di mana sampah yang diangkut menggunakan kendaraan kecil akan langsung dipindahkan ke dalam truk besar untuk segera dibawa pergi.
Sosialisasi publik ini turut membedah berbagai masukan teknis dari perwakilan warga, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Moyudan Rukmono Makhpram, hingga jajaran TNI dan Polri.
Melalui transparansi dan sinergi lintas elemen tersebut, tahapan persiapan fisik diyakini dapat segera dieksekusi tepat waktu demi menjamin kelancaran tata kelola sampah lingkungan di wilayah Sleman. (MC Kab. Sleman / KIM Moyudan / Giek)