Zapin hingga Pacu Jalur Dibawa ke Panggung Nasional, Pemprov Riau Siapkan Perayaan Besar
Istimewa
Istimewa
Pekanbaru, InfoPublik – Sekitar 2.500 peserta dari berbagai paguyuban dan kelompok budaya di Riau akan mengikuti arak-arakan keberagaman dalam rangka Hari Kebudayaan Nasional 2026, dengan sekitar 1.000 penari Zapin turut tampil menggunakan busana berbagai etnis.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Taufik Ikram Jamil, mengatakan peringatan tahun ini mengusung tema keberagaman untuk kemajuan.
“Tahun ini sudah disepakati ada tiga kegiatan yang dilaksanakan. Semuanya mengangkat tema keberagaman untuk kemajuan,” kata Taufik di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan akan diawali Majelis Zikir pada Jumat (16/10/2026). Tausiyah akan disampaikan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Riau, sementara zikir menggunakan Ratib Togak yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.
Kegiatan kedua berupa bengkel hukum acara hukum adat yang melibatkan mahasiswa, dosen, peminat hukum, pemangku adat, akademisi, serta unsur Kejaksaan Tinggi Riau, Polda Riau, Pengadilan Negeri, dan DPRD Riau.
Menurut Taufik, forum tersebut penting karena ketentuan KUHP terbaru membuka ruang bagi hukum adat untuk menjadi bagian dari hukum positif.
“Kita coba menyusun hukum acara hukum adat. Ini merupakan kontribusi LAMR kepada kehidupan hukum di tanah air,” ujarnya.
Puncak kegiatan akan berlangsung Ahad (18/10/2026) melalui arak-arakan keberagaman yang diikuti sekitar 2.500 peserta dari puluhan paguyuban.
Berbagai kelompok etnis, termasuk Bali, Sunda, Jawa, Minang, dan lainnya, akan ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Arak-arakan juga akan menampilkan sekitar 1.000 penari Zapin yang dikelola BKOW Riau. Berbeda dari penampilan sebelumnya, para penari akan mengenakan busana berbagai etnis yang hidup di Riau.
Representasi kebudayaan Melayu juga akan ditampilkan, mulai dari Melayu kuno, Melayu Riau klasik, hingga Melayu Riau modern.
Budaya masyarakat hukum adat Sakai, Bonai, dan Talang Mamak, tari Zapin, serta gambaran budaya kerajaan Melayu juga akan menjadi bagian dari rangkaian tersebut.
Taufik menegaskan kegiatan itu tidak berorientasi pada pesta. Pembiayaan berasal dari masing-masing peserta dan paguyuban yang ikut serta.
“Tidak ada poya-poya, tidak ada acara makan-makan. Ini ekspresi kita semua untuk menjalin persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.
Selain memperkuat persatuan masyarakat Riau, rangkaian kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong Zapin dan Pacu Jalur menjadi warisan budaya tak benda dunia yang diakui UNESCO.
LAMR bersama Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Riau telah menyampaikan dorongan tersebut, termasuk melalui surat kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Peringatan Hari Kebudayaan Nasional tersebut mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Riau dan menjadi tahun kedua sejak ditetapkan pemerintah pada 2025.
© Copyright 2026, All Rights Reserved