Hadapi Musim Penghujan, Pemprov Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana
Pontianak, InfoPublik – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Ria Norsan, menegaskan pentingnya memperkuat kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada musim penghujan 2026/2027.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Kalbar dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Kalimantan Barat Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Basah Tahun 2026/2027 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Selasa (6/10/2026).
Gubernur mengatakan, rapat koordinasi tersebut menjadi momentum untuk menyamakan persepsi dan langkah seluruh unsur pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dalam menghadapi potensi bencana.
“Kita tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Kita harus satu irama,” tegasnya.
Menurutnya, potensi bencana hidrometeorologi basah di Kalimantan Barat antara lain banjir, banjir rob, banjir genangan, angin puting beliung, serta tanah longsor atau tanah bergerak. Berbagai ancaman tersebut dapat terjadi selama musim penghujan sehingga langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD, terdapat 114 kecamatan dan 559 desa/kelurahan di Kalimantan Barat yang berpotensi rawan banjir. Kapuas Hulu menjadi daerah dengan jumlah desa/kelurahan rawan banjir terbanyak, yakni 104 desa/kelurahan, disusul Landak 82, Melawi 80, Sanggau 59, Bengkayang 45, Sintang 39, Sekadau 36, Mempawah 33, Ketapang 26, Kayong Utara 21, Kubu Raya 18, Kota Singkawang 7, Sambas 6, dan Kota Pontianak 3 kelurahan.
“Saya minta Bapak/Ibu Bupati dan Wali Kota memahami betul titik-titik rawan di wilayahnya masing-masing,” ujar Gubernur.
Ia menjelaskan, karakteristik banjir di Kalimantan Barat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kerusakan lingkungan, tingginya intensitas curah hujan, kapasitas drainase dan aliran yang rendah akibat penyempitan serta pendangkalan, kondisi topografi, hingga pasang laut.
Dampak banjir, lanjutnya, tidak hanya dilihat dari luas, kedalaman, dan lamanya genangan, tetapi juga dari kerugian yang ditimbulkan terhadap masyarakat, seperti kerusakan areal pertanian dan tambak, infrastruktur, terganggunya transportasi, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.
Gubernur juga meminta seluruh pihak mengambil pelajaran dari kejadian bencana pada 2025. Berdasarkan data BPBD hingga 9 Desember 2025, tercatat 30 kejadian bencana di Kalimantan Barat yang seluruhnya merupakan banjir, berdampak terhadap 450.386 jiwa, menyebabkan 6.654 jiwa mengungsi, dan dua orang meninggal dunia.
Selain itu, sebanyak 73.350 unit rumah terdampak banjir, dengan rincian 89 rumah rusak ringan, dua rusak sedang, dan lima rusak berat. Lima jembatan juga mengalami kerusakan berat.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata penderitaan warga kita. Tahun ini kita harus lebih siap agar dampaknya dapat ditekan,” tegasnya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Gubernur meminta Pemerintah Provinsi memastikan langkah kesiapsiagaan dilaksanakan oleh seluruh pemerintah kabupaten/kota. Perangkat daerah provinsi juga diminta menyiapkan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung penanganan bencana.
Selain itu, Table Top Exercise diminta dilaksanakan sesuai rencana kontingensi yang telah disusun. Pemerintah Provinsi juga diminta menghimpun relawan serta berbagai dukungan lainnya untuk memperkuat kesiapsiagaan di tingkat provinsi.
Kepada para Bupati dan Wali Kota, Gubernur meminta enam langkah utama, yaitu menyosialisasikan daerah rawan bencana, memastikan tempat evakuasi akhir siap digunakan, memastikan Camat, Lurah dan Kepala Desa melakukan kesiapsiagaan, menyiapkan sumber daya pada masing-masing perangkat daerah, mengaktifkan Pusdalops BPBD apabila telah tersedia, serta melaksanakan simulasi pertolongan sesuai rencana kontingensi.
Sementara itu, Camat, Kepala Desa dan Lurah diminta menjadi garda terdepan dalam memastikan ketersediaan tempat evakuasi sementara di wilayah rawan. Masyarakat juga perlu diberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
Informasi kebencanaan, kata Gubernur, harus disampaikan secara jelas, akurat dan menenangkan serta didokumentasikan dalam sistem administrasi. Simulasi evakuasi juga perlu dilakukan secara berkala sesuai rencana yang telah disusun.
“Kesiapsiagaan tidak akan berhasil tanpa peran masyarakat. Kita harus memastikan informasi bencana dipahami dan direspons dengan evakuasi tepat waktu ke tempat yang aman,” katanya.
Ria Norsan menegaskan, penanggulangan banjir tidak dapat hanya dibebankan kepada BPBD. Diperlukan kerja bersama lintas sektor, antara lain melalui pembangunan atau normalisasi waduk dan bendungan, pembangunan kanal, normalisasi saluran, serta konservasi tanah dan air di hulu sungai.
Selain upaya fisik, pemerintah juga perlu memperkuat sistem prakiraan dan peringatan dini, penyuluhan serta pendidikan masyarakat. Pengawasan dan penegakan hukum terhadap tata ruang dan pola pemanfaatan dataran banjir serta daerah aliran sungai (DAS) hulu juga harus diperkuat.
Menutup arahannya, Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa bencana memang tidak dapat sepenuhnya dicegah, namun korban dan kerugian dapat diminimalkan melalui kesiapan yang matang.
Ia meminta seluruh arahan yang disampaikan dalam rapat koordinasi tersebut segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata dan dilaporkan perkembangannya.
“Mari kita wujudkan semangat ‘Reaktif, Cepat, dan Tangguh’ dalam melindungi masyarakat Kalimantan Barat,” tegasnya.
BMKG Ingatkan Perubahan Cuaca Cepat
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat, Erika Mardiyanti, mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah selama periode musim penghujan.
Dalam paparannya, Kepala BMKG Kalbar menekankan pentingnya pemerintah daerah memahami kondisi cuaca dan dinamika atmosfer yang berkembang, khususnya potensi hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
“Informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG perlu menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah antisipasi dan kesiapsiagaan di lapangan. Koordinasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah hingga masyarakat perlu terus diperkuat agar informasi mengenai potensi cuaca ekstrem dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat. Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mencermati informasi prakiraan serta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG secara berkala.
“Yang paling penting adalah bagaimana informasi yang kami sampaikan bisa segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Dengan mengetahui potensi cuaca sejak dini, pemerintah daerah dapat menyiapkan personel, peralatan, lokasi evakuasi serta memastikan jalur komunikasi kebencanaan berjalan dengan baik.
BMKG Kalbar juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor agar informasi prakiraan dan peringatan dini dapat diteruskan secara cepat hingga ke masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki potensi kerawanan banjir, tanah longsor maupun angin kencang.
“Melalui rapat koordinasi ini, kami berharap terbangun kesamaan langkah antara BMKG, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, BPBD dan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi musim penghujan 2026/2027,” tutupnya.
Rakor tersebut dihadiri para pejabat yang mewakili Bupati/Wali Kota se-Kalimantan Barat, kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Provinsi Kalbar, Kepala BMKG Kalbar, serta Kepala BPBD kabupaten/kota se-Kalimantan Barat.(Rfa/ica)