SLEMAN, InfoPublik – Menepis anggapan bahwa mempelajari peninggalan leluhur adalah hal yang rumit, Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya menggelar kegiatan pawiyatan baca tulis aksara Jawa secara praktis di Gamping, Sleman, Minggu (4/10/2026).
Pelatihan pelestarian budaya ini menggebrak pakem konvensional dengan memperkenalkan metode pembelajaran inovatif bernama Carangapak dan Pandhawabrata.
Kedua pendekatan ini dirancang khusus untuk memadukan logika, nalar, dan visualisasi sehingga peserta dapat menguasai aksara dasar, pasangan, hingga sandhangan tanpa harus bergantung pada hafalan semata.
Mentor pawiyatan, Afiffuddin, memaparkan, metode Carangapak mengajak peserta untuk memahami literasi kuno ini melalui penalaran bentuk visual secara logis.
“Lewat metode Carangapak, peserta kami arahkan untuk mengenali aksara dasar dengan membangun keterkaitan antara bentuk, pola, dan penalaran. Dengan pendekatan sistematis, peserta juga akan lebih mudah memahami fungsi pasangan dan penerapannya dalam penulisan,” urainya mendetail.
Inovasi kemudahan belajar ini dinilai sangat krusial sebagai benteng pelestarian identitas lokal.
Pengasuh PP Bina Aksara Mulya, Akhmad Fikri, menegaskan, metode praktis ini diharapkan mampu memantik semangat literasi berbudaya di lingkungan keluarga hingga komunitas formal.
"Lewat pawiyatan ini, semoga pembelajaran aksara Jawa dapat berkembang menjadi gerakan pelestarian budaya yang berkelanjutan," harap Fikri.
Melalui pengenalan yang terstruktur, pawiyatan ini bertekad mencetak generasi masa kini yang tidak hanya piawai menulis, tetapi juga bangga merawat muruah warisan leluhur nusantara. (MC Kab. Sleman / KIM Parartaguna Gamping / Adnan Nurtjahjo)