Bojonegoro, InfoPublik — Penggunaan motif batik Obor Sewu sebagai bagian dari Pakaian Dinas Harian (PDH) Adat Samin aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro turut meningkatkan permintaan produk batik yang berasal dari komunitas Samin Margomulyo.
Menurut penerus sesepuh Sedulur Sikep Samin, Bambang Sutrisno, saat permintaan berada pada tingkat tinggi, lebih dari 50 orang sempat terlibat dalam proses membatik dan menjahit. Saat ini, sekitar 30–40 orang masih terlibat dalam produksi.
Permintaan Obor Sewu disebut masih berlangsung dengan rata-rata sekitar satu hingga dua pesanan per hari.
Kebijakan penggunaan PDH Adat Samin tertuang dalam Surat Edaran Bupati Bojonegoro Nomor 065/378/412.032/2025 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian Adat Samin di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025.
Pakaian tersebut mengadopsi unsur busana adat masyarakat Samin Bojonegoro, dengan Obor Sewu sebagai salah satu motif batik yang menjadi identitasnya.
Motif tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah dan nilai yang hidup di kalangan masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.
Bambang menjelaskan, nama Obor Sewu berkaitan dengan kisah ketika Samin Surosentiko mengumpulkan para pengikutnya dengan penerangan berupa obor. Kata sewu berarti seribu atau menggambarkan jumlah yang banyak.
“Obor itu lampu, sewu itu bermakna banyak. Jadi cita-citanya bagaimana agar pitutur Mbah Samin menjadi penerang generasi selanjutnya,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, filosofi Obor Sewu membawa pesan agar pitutur atau ajaran luhur masyarakat Samin tetap menjadi penerang bagi generasi berikutnya.
Nilai yang terkandung di dalamnya antara lain jujur, sabar, nrimo, dan trokal. Bambang menjelaskan, trokal menggambarkan sikap tidak mudah menyerah dan terus berusaha dalam menjalani kehidupan.
Penggunaan Obor Sewu sebagai bagian dari PDH ASN, menurut Bambang, membuat masyarakat di luar komunitas Samin semakin banyak mengenal motif tersebut, termasuk sejarah dan filosofi yang menyertainya.
“Dampaknya sangat luar biasa. Setelah menjadi PDH ASN, banyak orang yang mulai tertarik dengan filosofi Obor Sewu, sejarah masyarakat Samin, termasuk ajaran dan adat yang sampai sekarang masih kami pertahankan,” katanya.
Meningkatnya perhatian terhadap Obor Sewu juga diikuti bertambahnya permintaan produk. Aktivitas tersebut memberikan penghasilan bagi pembatik di Margomulyo serta penjahit dari sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Ngraho.
Sebelum digunakan sebagai bagian dari PDH ASN, Bambang mengatakan Obor Sewu tidak dipasarkan secara luas di luar komunitas. Masyarakat yang ingin mendapatkan produk tersebut diarahkan datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang.
“Dulu kita konsep bahwa Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Artinya, orang yang ingin Obor Sewu harus datang ke komunitas masyarakat Samin. Jadi, bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka yang memakai Obor Sewu karena sebagai bukti beliau sudah pernah datang ke komunitas masyarakat Samin,” ujarnya.
Produk Obor Sewu yang digunakan masyarakat antara lain kain dengan harga sekitar Rp160 ribu, udheng Rp70 ribu, dan selendang Rp40 ribu.
Pengenalan motif tersebut juga mulai menjangkau lingkungan pendidikan. Menurut Bambang, salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro menggunakan selendang dan udheng Obor Sewu dalam kegiatan pengenalan mahasiswa baru.
Obor Sewu juga disebut telah tercatat sebagai kekayaan intelektual dengan nomor pencatatan 000160986. Produksi batiknya dijaga agar tetap melibatkan masyarakat Samin Margomulyo sebagai bagian dari upaya mempertahankan keaslian dan nilai filosofis motif tersebut.
Ketika permintaan meningkat setelah penerapan PDH ASN, sebagian masyarakat Samin yang sebelumnya belum membatik juga mulai mempelajari keterampilan tersebut. Paguyuban batik di Bojonegoro sempat membantu memenuhi kebutuhan produksi melalui kesepakatan bersama sebelum proses kembali dilakukan masyarakat Samin.
Budaya Samin juga menjadi bagian yang diperkenalkan dalam rangkaian proses UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro. Dalam kunjungan lapangan sebagaimana disebut dalam naskah sumber, asesor meninjau komunitas Samin di Dusun Jepang serta melihat proses membatik, seni karawitan, dan mempelajari sejarah masyarakat setempat.
“Mereka menikmati proses batik, proses karawitan dan cerita sejarah ajaran Samin,” ujar Bambang.
Bagi masyarakat Samin Margomulyo, meningkatnya penggunaan Obor Sewu membuka ruang lebih luas untuk mengenalkan sejarah dan nilai budaya sekaligus mempertahankan aktivitas ekonomi berbasis keterampilan membatik dan menjahit.