Festival tersebut dibuka Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar dan dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kepulauan Meranti, Ismiatun Asmar, Wakil Ketua DPRD Meranti Jack Ardiansyah, Ketua LAMR Afrizal Cik, para camat, Kepala Desa Banglas Abdul Zaid, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Bupati H. Asmar mengatakan festival tersebut menjadi salah satu upaya untuk melestarikan tradisi masyarakat sekaligus memperkenalkan sagu sebagai bagian dari identitas budaya Kepulauan Meranti.
“Saya mendukung penuh atas terselenggaranya acara ini, karena momentum ini memberikan ruang kepada kita semua untuk mengenal jati diri, merawat warisan leluhur, sekaligus memperkenalkan kekayaan daerah kepada generasi penerus dan masyarakat luas,” ujar Asmar.
Menurut Asmar, sagu bagi masyarakat Kepulauan Meranti tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, kehidupan, budaya, dan identitas masyarakat.
Ia menyebut tradisi lari di atas tual sagu atau dalam bahasa Melayu dikenal sebagai “belompat di atas tual sagu” mengandung unsur permainan rakyat, keterampilan, keberanian, keseimbangan, dan kebersamaan.
Asmar meminta tradisi tersebut terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang akibat perkembangan zaman. "Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal budaya daerah dari buku atau cerita, tetapi tidak pernah melihat, merasakan, dan mempraktikkannya secara langsung,” katanya.
Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti akan terus mendorong pelestarian budaya lokal sekaligus mengembangkan potensi budaya sebagai salah satu kekuatan daerah.
Dalam kesempatan itu, Asmar juga mengingatkan para peserta untuk menjunjung sportivitas dan keselamatan selama perlombaan. "Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi menjaga persaudaraan adalah kemenangan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Sagu Jadi Bagian dari Potensi Ekonomi Desa
Selain perlombaan lari di atas tual sagu, festival tersebut juga diisi lomba masak berbahan dasar sagu. Usai membuka kegiatan, Asmar bersama Ketua DWP Kepulauan Meranti, Ismiatun Asmar meninjau sejumlah stan peserta.
Asmar mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam mengolah sagu menjadi berbagai jenis makanan. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat memperkenalkan keragaman pangan berbasis komoditas lokal sekaligus mendorong keterampilan pengolahan sagu di kalangan generasi muda.
Kepala Desa Banglas Abdul Zaid mengatakan festival tersebut digagas warga Desa Banglas, Armizan, melalui koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI serta mendapat dukungan Pemerintah Desa Banglas dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Zaid menyebut Desa Banglas merupakan salah satu kawasan penghasil sagu yang cukup besar di Kepulauan Meranti. Karena itu, tradisi lari di atas tual sagu memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Ia berharap festival tersebut dapat digelar secara berkelanjutan dan berkembang menjadi agenda pelestarian budaya sekaligus promosi potensi daerah. “Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi agenda pelestarian budaya sekaligus promosi potensi daerah secara berkelanjutan,” kata Zaid.
Menurut Zaid, sagu juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat Desa Banglas. Sejak dahulu, perkebunan sagu telah menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat. "Dulu sagu ini mungkin kurang mendapat perhatian, tetapi sekarang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bahkan, masyarakat yang sudah lanjut usia masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dari hasil kebun sagu,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga perkebunan sagu sebagai aset ekonomi sekaligus mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Festival Lari di Atas Tual Sagu dan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu diharapkan terus berkembang sehingga tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya dan memperkenalkan potensi sagu Kepulauan Meranti kepada masyarakat luas.