Surabaya, InfoPublik – Data pendidikan didorong tidak sekadar menjadi arsip administratif, tetapi dimanfaatkan sebagai dasar untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Webinar CERDIG (Cerdas Digital) Sekolah Rakyat Seri III bertema “Membangun Generasi Cerdas Data Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar secara daring melalui Zoom, Kamis (24/9/2026).
Mewakili Kepala Bidang Data dan Statistik Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur, Ketua Tim Tata Kelola Penyelenggara Statistik Sektoral, Agus Budi Sampurno, mengatakan bahwa dalam era transformasi digital, data telah menjadi aset strategis untuk menentukan arah kebijakan publik.
“Dalam kerangka ini, Dinas Kominfo Jawa Timur berperan sebagai wali data, bertugas memastikan bahwa data yang dihasilkan oleh seluruh instansi, termasuk sektor pendidikan, memenuhi standar data, memiliki metadata yang jelas, dan memiliki interoperabilitas yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Pembina SMA dari Dinas Pendidikan Surabaya, Hari Indarjoko, menekankan pentingnya mengoptimalkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan Rapor Pendidikan untuk mendukung Perencanaan Berbasis Data (PBD).
Menurut Hari, pengumpulan data tidak akan memberikan dampak apabila tidak diikuti dengan proses membaca, merefleksikan, dan menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Data baru berdampak jika dibaca, direfleksikan, dan digunakan untuk mengambil keputusan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Dapodik memuat berbagai informasi mengenai satuan pendidikan, mulai dari peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, hingga sarana dan prasarana. Karena itu, kualitas data perlu dijaga agar tetap lengkap, valid, konsisten, dan akurat.
Adapun Rapor Pendidikan dapat dimanfaatkan sekolah untuk melihat kondisi satuan pendidikan sekaligus menentukan prioritas perbaikan. Dalam penerapan PBD, sekolah perlu mengidentifikasi masalah berdasarkan data, merefleksikan akar masalah, kemudian menentukan langkah pembenahan.
Pada kesempatan yang sama, akademisi statistik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), A’yunin Sofro, membahas pemanfaatan data asesmen untuk mendukung pembelajaran diferensial melalui pendekatan Data-Driven Teaching.
Menurut A’yunin, guru memiliki beragam sumber data yang dapat digunakan untuk memahami kebutuhan belajar siswa, antara lain rapor, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), ulangan harian, tugas, proyek, dan hasil observasi kelas.
Data tersebut, lanjutnya, tidak seharusnya berhenti sebagai arsip administratif. Guru perlu menganalisisnya untuk menemukan pola capaian dan kebutuhan belajar setiap siswa sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan.
“Data asesmen yang baik bukan sekadar angka di rapor, tetapi menjadi peta untuk memahami setiap siswa dan merancang pembelajaran yang lebih tepat,” jelasnya.
A’yunin menerangkan, penerapan Data-Driven Teaching dapat dilakukan melalui empat tahapan, yakni mengumpulkan data, menganalisis pola capaian dan kebutuhan siswa, menginterpretasikan hasil menjadi profil belajar, serta merancang strategi pembelajaran yang diferensial.
Ia juga mendorong pemanfaatan pencatatan data melalui satu lembar kerja atau aplikasi sederhana, penggunaan visualisasi untuk melihat pola capaian, serta peninjauan data secara rutin bersama rekan sejawat. Menurutnya, data kuantitatif juga perlu dilengkapi dengan data kualitatif sebelum guru mengambil keputusan pembelajaran.
Melalui pemanfaatan data secara lebih optimal, sekolah diharapkan dapat menentukan prioritas kebijakan, memperbaiki proses pembelajaran, dan memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Upaya tersebut menjadi bagian dari pembangunan generasi yang cerdas data menuju Indonesia Emas 2045.(MC Prov Jatim/yan-hjr/eyv)