SLEMAN, InfoPublik – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman terus memperkuat Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) Sembada sebagai layanan satu pintu bagi masyarakat miskin dan rentan.
Kehadiran layanan ini tidak sekadar memastikan akses bantuan sosial, tetapi secara strategis diarahkan untuk mendorong masyarakat menuju kemandirian dan keberlanjutan ekonomi.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kabupaten Sleman, Sarastomo Ari Saptoto, saat menerima kunjungan studi tiru delegasi Dinsos Kabupaten Bogor di Aula Nakula Dinsos Kabupaten Sleman, Selasa (22/9/2026).
Ari menekankan, ekosistem Puskesos dan SLRT tidak boleh stagnan hanya pada penanganan keluhan kelingkungan. Paradigma pelayanan harus digeser menuju pemberdayaan konkret agar masyarakat rentan dapat tumbuh menjadi individu yang produktif secara ekonomi.
Secara operasional, SLRT Sembada berfungsi mengintegrasikan berbagai layanan jaring pengaman sosial, mulai dari Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Jamkesda, hingga bantuan kebutuhan dasar dan alat bantu disabilitas.
Melalui satu pintu layanan ini, masyarakat dapat menyampaikan pengaduan, menjalani asesmen kebutuhan, serta mendapatkan rujukan intervensi yang presisi sesuai kondisi di lapangan.
Guna mendekatkan akses tersebut ke akar rumput, Dinsos Sleman mengoptimalkan peran Puskesos di tingkat kalurahan sebagai garda terdepan.
Puskesos memegang kendali penuh dalam pemutakhiran data, penanganan aduan tahap awal, serta pendampingan intensif bagi warga yang membutuhkan.
Kinerja ini turut ditunjang oleh inovasi pelayanan prima, seperti layanan transportasi gratis pengantaran pulang pengunjung SLRT bertajuk N(g)antar Paimah, serta inovasi Lasamba (Layanan Sambang Warga) yang memungkinkan petugas turun langsung memverifikasi dan menindaklanjuti keluhan warga di lapangan.
Ke depannya, cetak biru penguatan Puskesos dan SLRT di Sleman akan ditopang oleh empat pilar utama.
Keempat pilar tersebut mencakup pergeseran paradigma menuju pemberdayaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan fasilitator, pemutakhiran data yang terintegrasi, serta penguatan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, puskesmas, lembaga masyarakat, hingga sektor swasta.
Kerja sama ini dirancang untuk membuka keran akses pelatihan keterampilan dan peluang kerja yang lebih luas.
Melalui pendekatan terintegrasi ini, Puskesos dan SLRT diproyeksikan berkembang menjadi pusat pemberdayaan yang mendukung Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) menuju fase graduasi.
Dengan demikian, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial di Sleman dapat terus ditekan dan dikurangi secara bertahap. (MC Kab. Sleman / KIM Seyegan / Sutarto Agus)