Probolinggo, InfoPublik — Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo memaparkan tiga inovasi unggulan dalam Penilaian Paparan Jatim Jago Inovasi Award 2026 Kategori I, mulai dari pencegahan perkawinan anak, bantuan sosial berbasis masyarakat, hingga pengendalian tuberkulosis (TB).
Tiga inovasi tersebut adalah Amin SIGAPP (Asesmen Psikologis dan Konseling Sinergi Cegah Perkawinan Anak dan Pemberdayaan Perempuan), Balsem Jumbo (Bantuan Langsung Sembako Jumat Barokah), serta Sekali Serbu TB (Seminggu Sekali Sedot Rumah Pasien TB dan Bersihkan Udara untuk Memberantas Tuberkulosis dengan UV Box).
Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, memaparkan inovasi tersebut bersama jajaran perangkat daerah di Ruang Command Center Kantor Wali Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Selasa (22/9/2026).
Paparan dinilai oleh Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo, dan dosen Universitas Airlangga, Erna Setiyaningrum.
Inovasi Amin SIGAPP dipaparkan Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kota Probolinggo, Siti Romlah.
Program tersebut menjadikan proses permohonan dispensasi kawin sebagai pintu masuk untuk memberikan asesmen psikologis, konseling keluarga, edukasi, hingga pemberdayaan.
Layanan yang sebelumnya bersifat administratif dikembangkan dengan intervensi psikologis yang terintegrasi dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dan Pengadilan Agama serta diberikan secara gratis sebelum proses persidangan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah klien di Puspaga turun dari 55 orang pada 2024 menjadi 40 orang pada 2025 atau 27,3 persen.
Dalam periode yang sama, paparan juga mencatat penurunan pada sejumlah indikator di Pengadilan Agama. Sementara data Kementerian Agama menunjukkan penurunan kasus dari 45 menjadi 34 atau 24,4 persen.
Aminuddin mengatakan penanganan persoalan perkawinan anak perlu menyentuh faktor yang lebih luas, termasuk pendidikan, kemiskinan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
“Semangat saya pertama ingin menurunkan kemiskinan, kemudian meningkatkan indeks pembangunan manusia di Kota Probolinggo. Kita lihat akar masalahnya sehingga bisa menyelesaikannya secara komprehensif,” jelasnya.
Pemkot Probolinggo juga menjalankan intervensi bagi warga yang putus sekolah melalui program Paket A, B, dan C serta dukungan pendidikan lanjutan. Bagi pasangan yang telah menikah, pendampingan diarahkan pada pelatihan dan pemberdayaan ekonomi.
Inovasi kedua, Balsem Jumbo, dikembangkan Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih. Program tersebut berawal dari inisiatif aparatur sipil negara (ASN) kelurahan yang menyisihkan sebagian penghasilan untuk bantuan sosial setiap Jumat.
Program kemudian melibatkan RT/RW, kader PKK, kader Posyandu, tiga pilar kelurahan, dan masyarakat.
Donasi dihimpun pada Senin hingga Kamis melalui sistem digital maupun secara langsung, kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan yang disalurkan kepada penerima pada Jumat.
“Dengan adanya ini kita melibatkan seluruh masyarakat sehingga betul-betul mereka merasa untuk mencegah gejolak-gejolak sosial,” ungkap Aminuddin.
Sementara itu, inovasi Sekali Serbu TB dikembangkan tenaga kesehatan Puskesmas Ketapang, Sunarwan.
Inovasi tersebut menggunakan alat yang dirancang untuk membantu sirkulasi dan pembersihan udara di rumah pasien TB dengan dukungan UV Box.
Petugas mendatangi rumah pasien untuk menjalankan layanan tersebut sekaligus memberikan edukasi dan melakukan pemantauan.
Berdasarkan paparan Pemkot Probolinggo, pengujian laboratorium menunjukkan penurunan jumlah mikroorganisme di ruangan setelah intervensi dilakukan.
Pemkot Probolinggo telah mengalokasikan pengadaan 24 unit alat untuk digunakan pada enam puskesmas. Inovasi Sekali Serbu TB juga telah masuk dalam dokumen perencanaan daerah, memiliki standar operasional prosedur (SOP), dan didaftarkan untuk perlindungan kekayaan intelektual. Sementara desain UV Box telah memperoleh perlindungan desain industri berdasarkan keterangan dalam paparan.
Yusharto menyoroti peluang pengembangan dan replikasi inovasi tersebut, termasuk penyempurnaan bentuk alat agar lebih ringkas dan dapat digunakan pada berbagai kondisi rumah pasien.
Aminuddin mengatakan Pemkot Probolinggo terbuka terhadap pengembangan dan replikasi inovasi tersebut untuk mendukung pengendalian TB.
“Tujuan kita adalah bagaimana alat ini bisa menjadi bagian dari program dalam rangka mengeliminasi TB di Indonesia,” pungkasnya.
(es/pin)