Surabaya, InfoPublik - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur menghadirkan, gagasan dan kontribusi nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat.
Menurutnya, peran cendekiawan tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memastikan ilmu tersebut dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
Demikian pernyataan itu disampaikan Emil saat menghadiri. Pengukuhan Pengurus ICMI Orwil Jawa Timur periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (19/9/2026).
Emil mengatakan, perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memahami berbagai persoalan. Kondisi tersebut menuntut kalangan intelektual untuk tidak hanya aktif di lingkungan akademik, tetapi juga mampu berkontribusi di ruang publik.
Menurutnya, dunia akademik memiliki mekanisme panjang dalam memastikan suatu pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan, mulai dari penelitian, publikasi hingga proses peer review. Namun, informasi di ruang digital dapat menyebar dalam hitungan menit, termasuk konten yang belum memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Bagaimana mengemas intelektualitas ke dalam konteks publik, itu yang menurut saya sangat penting,” ujar Emil.
Ia menegaskan, penyampaian pengetahuan kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana tidak berarti mengorbankan tradisi akademik. Sebaliknya, hasil kajian ilmiah perlu dikomunikasikan secara efektif agar masyarakat memperoleh informasi yang benar dan utuh.
Emil mencontohkan, berbagai fenomena yang ramai diperbincangkan di media sosial, termasuk kebakaran pada musim kering. Menurutnya, fenomena tersebut membutuhkan penjelasan berbasis sains sehingga masyarakat tidak hanya memahami persoalan berdasarkan informasi yang sedang viral. “Cendekiawan memiliki posisi penting untuk memberikan konteks, menjelaskan hubungan antarfenomena, sekaligus meluruskan pemahaman masyarakat berdasarkan kajian ilmiah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Emil menyebut Jawa Timur memiliki ruang pengabdian yang luas bagi kalangan intelektual. Dengan jumlah penduduk lebih dari 40 juta jiwa serta sektor ekonomi yang beragam, Jawa Timur menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan kontribusi pemikiran dari beragam disiplin ilmu.
Ia menggambarkan, Jawa Timur sebagai laboratorium pembangunan yang mencakup sektor industri, kawasan ekonomi, pertanian, perkebunan, perikanan, industri pengolahan hingga sumber daya alam.
Karena itu, Emil berharap ICMI Jatim dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai potensi dari kalangan akademisi, profesional, industri, pemerintahan dan dunia usaha untuk membangun kolaborasi dalam menjawab persoalan masyarakat. “Jabatan paling utama seorang cendekiawan sebenarnya adalah menjadi pengabdi,” tegasnya.
Emil juga menekankan bahwa keberhasilan ICMI tidak cukup diukur dari besarnya organisasi atau banyaknya program yang diselenggarakan. Hal yang lebih penting adalah dampak yang dihasilkan dari setiap gagasan dan pengabdian. “Yang penting bukan besarnya, tetapi impact-nya. Insyaallah kalau di Jawa Timur dampaknya besar, resonansinya bisa luar biasa,” tuturnya.
ICMI Jatim Dorong Kolaborasi dan Dampak Pembangunan
Sementara itu, Ketua ICMI Orwil Jawa Timur periode 2026–2031, Pitono Nugroho, menyampaikan arah kepengurusan baru dengan menekankan pentingnya kolaborasi dan dampak nyata bagi masyarakat.
Pitono menyebut, Jawa Timur memiliki potensi besar yang membutuhkan keselarasan gerak dari berbagai unsur, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha.
Menurutnya, ICMI Jatim tidak hadir untuk menggantikan peran lembaga atau organisasi lain, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi dalam mendukung pembangunan daerah.
Dalam kepengurusan lima tahun mendatang, Pitono menyampaikan sejumlah fokus penggerak organisasi, yakni pengawalan kebijakan, inovasi, kolaborasi dan penciptaan dampak.
Dirinya menegaskan bahwa pembangunan Jawa Timur tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar berbagai gagasan dapat diwujudkan menjadi manfaat bagi masyarakat. “Jangan jadi pengurus, tetapi jadilah penggerak. Jangan hanya sekadar membuat program, tetapi ingatlah, kita ingin dikenal karena dampak yang dilakukan,” ujar Pitono.
Keberhasilan organisasi ke depan perlu dilihat dari manfaat yang diterima masyarakat, termasuk kontribusi terhadap kebijakan publik dan penyelesaian persoalan sosial.
Dirinya juga memperkenalkan, konsep Modal Keberlanjutan sebagai pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga, mengembangkan dan mewariskan aset peradaban bagi generasi mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Islam wasathiyah dalam menjawab persoalan bangsa, mulai dari keadilan sosial dan ekologis hingga kedaulatan pangan, energi dan air.
Pihaknya menjelaskan, prinsip tawazun atau keseimbangan dan tasamuh atau toleransi sebagai bagian dari nilai yang relevan bagi cendekiawan Muslim dalam menghadapi dinamika global. Melalui kepengurusan baru periode 2026–2031, ICMI Jatim diharapkan semakin memperkuat peran intelektual dalam menghasilkan gagasan, membangun kolaborasi dan menghadirkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (MC Prov Jatim /hjr)