Banda Aceh, InfoPublik – Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 mengembangkan konsep festival kuliner menjadi pusat studi Gastronomi Aceh dan Ekosistem Kreatif. Kegiatan yang berlangsung 11–14 September 2026 di kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, tersebut mengangkat kuliner Aceh sebagai bagian dari cerita tradisi, keberagaman suku, sejarah perdagangan, dan kekayaan rempah.
Founder sekaligus Festival Director Aceh Culinary Festival, Wan Windi Lestari, mengatakan ACF 2026 menghadirkan tiga bagian utama dalam area pameran. Salah satunya 11 Paviliun Kuliner Tradisional Aceh yang melibatkan Aceh Besar, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Barat, Kota Sabang, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur.
Setiap paviliun menyajikan makanan khas dan bahan pangan lokal sekaligus menghadirkan penutur cerita warisan rasa. Pengunjung dapat mengenal keberagaman budaya suku asli Aceh melalui kuliner yang ditampilkan.
Selain itu, Zona Galarasa Nusantara menghadirkan variasi rasa dari berbagai penjuru Nusantara, sedangkan Zona Bandar Rasa menyuguhkan inovasi rasa serta global comfort. “Lebih dari 500 variasi rasa dapat ditemukan dalam ACF 2026,” ujar Wan Windi.
Pengalaman tersebut diperkuat sedikitnya 20 sesi interactive activity, termasuk Gastroclass yang menghadirkan expert, maestro, dan berbagai inisiatif gastronomi. Sejumlah inisiatif yang terlibat antara lain Dewan Kuliner Indonesia, Kelas Pagi Pangan, Pengalaman Rasa Gastronomy, dan Rumah Intaran Bali Utara.
ACF 2026 juga menghadirkan Forum Gastronomy Semeja Makan sebagai ruang kajian gastronomi. Forum tersebut mempertemukan antropolog, sejarawan, penulis budaya, chef dan food consultant, maestro bumbu dan rempah Aceh, ahli masak, serta peneliti resep warisan dan bahan pangan lokal.
Forum itu diselenggarakan untuk merumuskan perjalanan gastronomi Aceh dari periode tradisi maritim, bandar perdagangan hingga ekspansi Kesultanan Aceh.
Festival dibuka pada 11 September pukul 16.30 WIB melalui Khanduri Raya 8 Belanga, 8 Kuah Khas dari 8 suku asli di Aceh. Sebanyak 100 pengunjung pertama yang memasuki area Galarasa Nusantara dapat mencicipi sajian tersebut secara gratis.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, mengatakan ACF 2026 menjadi bukti semakin matang, adaptif, dan mandirinya ekosistem pariwisata serta ekonomi kreatif di Aceh.
“ACF tahun ini tidak lagi sekadar festival kuliner atau pasar UMKM biasa, melainkan sebuah lompatan transformasi yang menempatkan Aceh sebagai pusat studi gastronomi berbasis sejarah, kebudayaan, dan kekayaan rempah Nusantara,” ujar Dedy.
Menurut Dedy, konsistensi ACF masuk jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menunjukkan daya saing warisan budaya Aceh.
ACF telah empat kali dinobatkan sebagai TOP 10 Karisma Event Nusantara. Melalui perpaduan kuliner, cerita warisan rasa, dan kajian gastronomi, ACF 2026 membuka ruang bagi masyarakat dan wisatawan untuk mengenal Aceh melalui kekayaan rasa sekaligus memahami nilai budaya yang menyertainya.