Banda Aceh, InfoPublik – Penguatan UMKM kuliner membutuhkan lebih dari sekadar ruang berjualan. Akses pasar, promosi dan kemampuan memanfaatkan teknologi menjadi bagian penting yang dihadirkan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 selama 11–14 September 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Jumat (11/9/2026).
Tahun ini, ACF melibatkan lebih dari 100 pelaku UMKM kuliner, lebih dari 10 kabupaten/kota di Aceh, serta lebih dari 20 komunitas dan inisiatif kreatif dari Aceh, Jakarta, dan Bali. Festival ini telah empat kali dinobatkan sebagai TOP 10 Karisma Event Nusantara oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan tetap diselenggarakan meski tidak mendapat alokasi dana dari APBA 2026.
Salah satu upaya mendorong transaksi UMKM diterapkan melalui kupon jajan senilai Rp15.000 per orang sebagai syarat masuk area Galarasa Nusantara. Kupon tersebut dapat digunakan untuk berbelanja dengan nilai yang sama di area pameran Galarasa Nusantara.
Mekanisme tersebut diharapkan dapat meningkatkan transaksi penjualan pelaku UMKM yang mengikuti festival. Penguatan kapasitas UMKM juga dilakukan melalui digitalisasi. TikTok GO by Tokopedia menjadi salah satu sponsor dengan kontribusi program terbesar melalui webinar, creator tour hingga creator bootcamp agar UMKM kuliner Aceh semakin familiar dengan digital marketing.
Kampanye #tiktokgolocal juga diluncurkan di Aceh sebagai komitmen TikTok GO untuk mempromosikan potensi wisata kuliner Aceh.
Penyelenggaraan ACF 2026 turut mendapat dukungan EXO IP & Event Service Company sebagai promotor. Pengalaman sembilan tahun mengelola ACF menjadi modal utama penyelenggaraan festival.
“ACF cukup selektif dalam memilih bentuk dukungan sponsor, harus ada sharing visi & misi yang jelas. Kami berkomitmen untuk itu”, jelas Yuryansyah, Event Director EXO.
Founder sekaligus Festival Director Aceh Culinary Festival, Wan Windi Lestari, mengatakan dukungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Aceh lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh memegang peran strategis dalam terbentuknya inisiatif kolektif tersebut. "Kami berharap skema ini dapat terus dipertahankan dalam penyelenggaraan ke depan,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, menegaskan penyelenggaraan ACF 2026 menjadi bukti nyata makin matang, adaptif dan mandirinya ekosistem pariwisata serta ekonomi kreatif di Aceh.
"ACF tahun ini tidak lagi sekadar festival kuliner atau pasar UMKM biasa, melainkan sebuah lompatan transformasi yang menempatkan Aceh sebagai pusat studi gastronomi berbasis sejarah, kebudayaan, dan kekayaan rempah Nusantara. Konsistensi ACF menembus jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kemenpar RI membuktikan bahwa warisan budaya kita memiliki daya saing yang tinggi di tingkat global,” ujar Dedy.
Dedy turut menyampaikan apresiasi atas sinergi antarpemangku kepentingan, mulai dari pelaku usaha, komunitas kreatif hingga dukungan penuh Kementerian Pariwisata RI. Sinergi tersebut memperkuat komitmen dalam memajukan ekonomi daerah, memperdayakan UMKM serta menerapkan prinsip pariwisata hijau yang berkelanjutan.
Melalui ruang transaksi, digitalisasi dan kolaborasi lintas pihak, ACF 2026 memberi kesempatan lebih luas bagi UMKM kuliner untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen dan memperkuat kapasitas dalam ekosistem ekonomi kreatif Aceh.