Padang Panjang, InfoPublik — Kelurahan Tanah Pak Lambik (TPL), Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat (Sumbar), mulai membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan memetakan program yang dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan dan kemampuan warga.
Bersama Universitas Negeri Padang (UNP), kelurahan memetakan sejumlah langkah, mulai dari pengolahan sampah organik menjadi kompos, pembuatan biopori, gotong royong, hingga pengembangan bank sampah dan pengadaan mesin pres untuk sampah anorganik.
Lurah Tanah Pak Lambik, Romi Saputra, mengatakan, pengelolaan sampah perlu dimulai dari perubahan cara pandang masyarakat. Sampah tidak seluruhnya harus berakhir sebagai barang buangan karena sebagian masih dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga melihat bahwa ada sampah yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Romi, Kamis (10/9/2026).
Menurut Romi, keterlibatan warga sejak dari sumber menjadi faktor penting agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan. Untuk itu, Kelompok Sadar Lingkungan (Pokdarling) disiapkan sebagai wadah yang dapat menggerakkan masyarakat dalam menjaga sekaligus mengelola lingkungan.
Hasil pemetaan aspirasi warga menunjukkan sejumlah kegiatan relatif mudah dilakukan dalam jangka pendek, seperti pengolahan kompos, pembuatan biopori, lomba kebersihan lingkungan, dan gotong royong. Sementara pengembangan bank sampah dan pengadaan mesin pres ditempatkan sebagai agenda jangka panjang.
Dalam pemetaan tersebut, bank sampah memperoleh 11 aspirasi, pengadaan mesin pres enam aspirasi, sedangkan pengolahan kompos mendapat lima aspirasi.
“Yang penting kita mulai dari sesuatu yang bisa dilakukan. Kalau sudah berjalan dan masyarakat melihat manfaatnya, tentu akan lebih mudah untuk mengembangkan program berikutnya,” kata Romi.
Dorong Pokdarling Jadi Penggerak
Pembentukan Pokdarling menjadi salah satu langkah untuk memastikan pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Kelompok tersebut diarahkan menjadi penggerak yang membantu masyarakat menyusun kegiatan dan menjalankan pengelolaan lingkungan secara mandiri.
Ketua Tim Pengabdi UNP Adil Mubarak mengatakan kegiatan bersama masyarakat dirancang tidak sekadar memberikan penyuluhan, tetapi membangun proses belajar agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Pembentukan Pokdarling merupakan titik awal dari sebuah gerakan masyarakat, bukan akhir dari kegiatan pengabdian,” ujar Adil.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat UNP melalui Program Integrasi Program Studi dan Nagari (PIPN) yang dilaksanakan di Aula Kantor Lurah TPL.
Dalam kegiatan itu, masyarakat mendapatkan materi mengenai penguatan organisasi Pokdarling, penyusunan rencana aksi, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Warga juga dilibatkan dalam sesi brainstorming untuk memetakan persoalan, potensi, serta alternatif pengelolaan sampah organik dan anorganik yang realistis diterapkan di lingkungan TPL.
Dukungan pemerintah daerah turut diberikan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Perkim LH Nofebrianto hadir dalam kegiatan tersebut, bersama kader lingkungan Venny.
Venny menyampaikan dukungan pemerintah diperlukan agar program pengelolaan sampah dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Keterlibatan warga juga perlu diperluas melalui kelembagaan seperti Pokdarling.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Tim Pengabdi UNP menyerahkan dua bundel Pedoman Operating Manual Pokdarling Tanah Pak Lambik kepada pihak kelurahan.
Pedoman tersebut memuat struktur organisasi, mekanisme kerja, pengelolaan persampahan, administrasi dan keuangan, kemitraan, serta mekanisme monitoring dan evaluasi.
Dengan pemetaan tersebut, Kelurahan TPL kini memiliki sejumlah pilihan program yang dapat dikembangkan secara bertahap. Pengolahan kompos dan biopori menjadi langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat, sementara bank sampah dan mesin pres disiapkan sebagai pengembangan berikutnya.
Tantangan selanjutnya adalah memastikan program tersebut berjalan konsisten di lingkungan warga sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai rencana, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan memanfaatkan sampah dari sumbernya.