Jantho, InfoPublik - Peran perempuan tani semakin mendapat perhatian sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Di tengah musim kemarau dan keterbatasan pasokan air, mereka tetap menggarap sawah agar produksi padi tidak terhenti, sekaligus mendukung agenda swasembada pangan yang terus didorong pemerintah.
Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian RI wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Darussalam Aceh Besar, Khaidir, Kamis (16/7/2026) mengatakan semangat para perempuan tani menunjukkan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kegigihan petani di tingkat lapangan.
"Perempuan tani di Aceh terus membuktikan bahwa mereka menjadi kekuatan utama dalam menjaga produksi pangan. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap mengolah sawah demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional," ujar Khaidir.
Ia menjelaskan, Kementerian Pertanian melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terus melakukan pendampingan agar petani mampu mempertahankan produktivitas, terutama pada musim kemarau. Pendampingan tersebut mencakup peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) hingga pelaksanaan berbagai program strategis untuk memperkuat sektor pertanian.
Menurut Khaidir, sejumlah program yang saat ini didorong meliputi penyaluran benih padi, rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan saluran air baru, serta pengajuan program irigasi perpompaan untuk menjamin ketersediaan air di lahan pertanian.
Salah seorang petani perempuan asal Desa Lamreh, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Nurmawati, mengaku tetap menanam padi meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengalirkan air ke sawah.
"Untuk memompa air dari saluran yang lokasinya cukup jauh, saya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp200 ribu. Meski begitu, kami tetap berusaha menanam agar sawah tidak terbengkalai," katanya.
Nurmawati menuturkan, keterbatasan air tidak menyurutkan semangat para petani. Bersama penyuluh pertanian, mereka terus mencari solusi dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia agar proses budidaya padi tetap berjalan.
"Kami terus mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian RI untuk memanfaatkan air dari saluran pembuang sehingga lahan tetap bisa ditanami meski kondisi air terbatas," ujarnya.
Khaidir menilai ketangguhan perempuan tani menjadi bukti bahwa penguatan ketahanan pangan nasional dimulai dari desa-desa sentra produksi.
Menurutnya, keberhasilan mempertahankan produksi padi di tengah perubahan iklim merupakan fondasi penting dalam menjaga pasokan pangan nasional.
"Perempuan tani adalah garda terdepan ketahanan pangan. Semangat mereka menjaga sawah di tengah tantangan menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan," pungkasnya.