Banyuwangi, InfoPublik — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Taman Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (2/5/2026) berlangsung meriah.
Sebanyak 1.060 pelajar dari jenjang SD hingga SMA menampilkan atraksi seni kolosal “Kuntulan Ewon”. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang hadir menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan tersebut.
“Ini peringatan Hari Pendidikan Nasional terbaik se-Indonesia. Semangat dari Hari Pendidikan Nasional inilah yang harus terus kita tingkatkan,” ujarnya.
Pertunjukan “Kuntulan Ewon” melibatkan 560 penabuh rebana dan 500 penari. Para pelajar berkolaborasi dengan seniman dan budayawan menampilkan seni tradisi yang memadukan gerak tari, musik, dan nilai religius, mencerminkan sinergi antara pendidikan dan pelestarian budaya lokal.
Kesenian kuntulan merupakan tradisi yang berkembang di Banyuwangi dan berakar dari hadrah yang dibawa ulama sebagai media dakwah. Dalam perkembangannya, kesenian ini berakulturasi dengan budaya lokal, menghadirkan pertunjukan khas dengan perpaduan tari, tabuhan rebana, dan syair bernuansa religius.
Penampilan para pelajar berlangsung kompak dengan gerakan dinamis yang selaras dengan tabuhan rebana dan lantunan selawat, menciptakan suasana khidmat sekaligus semarak.
Menteri Abdul Mu’ti menilai keterlibatan pelajar dalam pertunjukan tersebut menjadi sarana untuk mengaktualisasikan potensi, sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri dan kecintaan terhadap budaya.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita membangun generasi unggul yang berwawasan global tanpa meninggalkan nilai dan budaya lokal,” katanya.
Selama pertunjukan, ribuan pelajar memenuhi area Taman Blambangan dengan formasi rapi. Penabuh rebana mengenakan busana adat Osing berwarna hitam dengan udeng serta aksen merah putih, sementara para penari bergerak selaras mengikuti irama.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan Hardiknas menjadi momentum untuk tidak hanya merefleksikan kemajuan pendidikan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Melalui Kuntulan Ewon, kami ingin menunjukkan pelajar Banyuwangi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya dan nilai spiritual yang kuat,” katanya.
Ia menambahkan kegiatan tersebut mencerminkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan identitas budaya.
Salah satu peserta, Levita Oktaviani, siswi kelas VIII SMPN 2 Glagah, mengaku bangga dapat tampil dalam pertunjukan tersebut.
“Saya sangat bangga dan bahagia. Ini menjadi pengalaman berharga sekaligus upaya melestarikan budaya Banyuwangi,” ujarnya. (*)