Kisah Sejarah Kampung Tua di Kelurahan Rum Tidore
Tidore, InfoPublik - Nampaknya, penelusuran penamaan pemukiman tua di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mulai menemukan titik terang.
Ini setelah pemuda setempat dan para tetua (masyarakat adat) menggandeng salah satu sejarawan Universitas Khairun Ternate, Irfan Ahmad, untuk melakukan penelusuran.
Penelusuran sudah dilakukan masyarakat adat setempat sejak 2002. Namun, belum efektif lantaran kekurangan data pendukung sehingga sempat tertunda. Kini, semangat itu mulai menggelora lagi.
Para tetua di Kelurahan Rum di antaranya Abubakar Senin Folasimo Badar Taib Folasimo, Muhammad Juni Folasimo bersama Irfan Ahmad, serta sejumlah pemuda mengulik jejak-jejak penamaan pemukiman tua pada pukul 14:00 WIT, Senin (10/7/2023).
Mereka mulai menelusuri sejumlah kuburan para leluhur di beberapa titik yang ada di Kelurahan Mareku dan Kelurahan Sirongo Folaraha. Jarak tempuh dari Kelurahan Rum ke Mareku sekitar 20-30 menit menggunakan mobil.
Dalam perjalanan para tetua bahkan ada yang basah kuyup akibat hujan karena harus memasuki hutan belantara. Lokasi makam-makam tua leluhur tidak bisa dilewati kendaraan. Masyarakat tempatan mengeramatkan makam-makam tersebut.
Ditemui usai penelusuran, Irfan Ahmad mengungkapkan Rum adalah kampung sekaligus nama salah satu kelurahan di Tidore. Nama Rum memiliki dua versi cerita. Pertama, dalam tradisi lisan orang Tidore, nama Rum diambil dari Alquran surah ke-30, Surah Ar Rum.
Penamaan ini mulai digunakan ketika Kaicil Rade menjabat sebagai Perdana Menteri mendampingi Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535) dan memegang kendali Kesultanan Tidore, setelah kematian Sultan Al Mansur (1512-1526).
"Kekalahan itu, meninggalkan kepedihan bagi orang Tidore, karena harus meninggalkan ibukota kesultanan, Mareku, atas serangan Portugis dan Ternate pada 1524 (Amal, M. A, 2010) dan 1525 (Garcia, 1992)," jelasnya.
Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain yang saat itu masih di bawah umur menyerahkan kekuasaan penuh kepada Kaicil Rade kurang lebih 3 tahun. Kaicil Rade sangat disegani penguasa Spanyol, Portugis, dan Ternate.
"Memiliki beberapa prestasi yang gemilang dan salah satunya pernah memimpin pasukan Tidore sebanyak 5.000 prajurit menyerang Portugis—Ternate dan memenangkan peperangan itu seperti dijelaskan Hubert & Jacobs (1971)," tambah peneliti yayasan The Tebings Maluku Utara ini.
Berdasarkan pengalaman strategi perang serta memiliki pengetahuan ajaran Agama Islam yang bagus. Kaicil Rade memberikan nama pasukannya sebagai Pasukan Rum.
Pemberian nama itu dengan harapan pasukan perang Kesultanan Tidore yang telah kalah perang memiliki semangat juang yang tinggi dan menjadi garda terdepan Kesultanan Tidore untuk menjemput kemenangan kembali, seperti bangsa Romawi.
"Pasukan Rum adalah orang-orang pilihan berani mati demi kejayaan kembali Kesultanan Tidore," terang Irfan.
Sebagai garda terdepan kesultanan, Kaicil Rade yang saat itu berstatus sebagai Perdana Menteri menempatkan pasukan tersebut dekat dengan pelabuhan Tidore (kawasan Balibunga, lokasinya kini sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap—PLTU) berhadapan langsung dengan pelabuhan Talangame (Bastiong Ternate).
"Strategi ini dipakai karena hampir semua penyerangan yang datang dari Ternate melalui pelabuhan Talangame, dan bila terjadi penyerangan Pasukan Rum akan mengetahui lebih duluan sehingga dapat menghalau penyerangan ke ibukota, istana sultan," tutur Irfan.
Kedua, nama Rum diambil dari nama salah satu benteng Portugis, yaitu Benteng Rum (Roem) yang dibangun pada tahun 1605.
Benteng ini berada di sebuah bukit curam di pantai barat laut Pulau Tidore mengutip Djafar, I. A, 2007. Nama Rum diduga kuat mengambil dari Roem.
"Dugaan ini, karena kebiasaan masyarakat Maluku memberi nama tempat sesuai dengan apa yang terdapat di sekeliling mereka seperti nama jenis pohon, jere, benteng, dan peristiwa yang terjadi di tempat tersebut," urainya.
Ia menerangkan, para tetua meyakini bahwa pemukiman tua (kampung awal) Rum berada di sebuah telaga (saat ini disebut Talaga Rum).
Kampung ini pertama kali didirikan salah satu soa (marga), yang berasal dari Seli. Menurut Salim Tuguira (63 tahun), dari kesembilan marga yang ada di Seli, ada satu marga yang hilang yang disebut Lum Sira.
"Kata “hilang” yang dimaksud adalah pergi meninggalkan kedelapan marga yang ada di Seli dan membuat pemukiman baru dengan keluarganya," katanya.
Keterangan di atas juga disampaikan oleh Abubakar Senen (70 tahun) bahwa marga yang hilang tersebut adalah leluhur dari Fola Simo yang berasal dari Seli, yaitu Momole Suara. Momole Suara—inilah yang bermukim awal di Talaga dan mengaktifkan Fola Simo di Talaga yang awalnya berada di Seli.
"Tidak diketahui berapa lama Momole Suara mendiami Talaga tersebut, akan tetapi jejak atau bekas pemukiman, makam (tua), dan jere Momole Suara masih terlihat sampai saat ini," bebernya.
Pemukiman di Talaga kemudian ditinggalkan setelah salah satu anak dari Momole Suara menjadi Kolano Tidore ke—4, yaitu Kolano Balibunga. Pemukiman di Talaga dipindahkan ke Gale Mauli, turun dari arah Talaga kurang lebih 7 km.
"Perpindahan ini agar pemukiman tersebut tidak terlalu jauh dengan pusat kekuasaan yang saat itu berada di Seli. Sumber lain menyebutkan bahwa pusat kekuasaan Kolano Balibunga saat itu sudah berada di pesisir (wilayah PLTU)."tuturnya.
Akan tetapi, sumber ini masih perlu diteliti lebih lanjut karena pusat kekuasaan di Tidore pertama kali berada di pesisir dibawakan oleh Sultan Al Mansur (1512-1526) dan bertahta di Kadato Sela Waringin, Mareku.
Menurutnya, sesuai catatan Amin Faroek (2016) yang bertajuk “Jejak Sejarah Kesultanan Tidore”, ketika masa pemerintahan Sultan Ciriliyati/Djamaluddin (1495-1512) pusat kekuasaan Tidore masih berada di Seli.
Meskipun demikian, Sultan telah mengutus beberapa perangkat kesultanan Tidore ke wilayah Weda, Patani, Maba, dan Papua untuk melakukan perdagangan, menyebarkan Islam, serta meluaskan wilayah kekuasaan kesultanan Tidore.
Sultan Ciriliyati juga menempatkan pasukan kerajaan dari Fola Simo yang dipimpin oleh Kapita Basiama dan menempati wilayah pesisir dan menamakan wilayah Balibunga (wilayah PLTU).
"Penempatan wilayah tersebut karena wilayah itu adalah salah satu pelabuhan dagang terbaik milik Kesultanan Tidore yang berhadapan langsung dengan pelabuhan Talangame, Ternate," jelas Irfan.
Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun ini juga mengungkapkan aktor ekologi dan kapal dapat berlabuh dengan aman, terlindung dari ombak besar, angin, dan arus.
Selain itu, pelabuhan ini diapit oleh tebing di bagian utara, pulau Maitara di bagian selatan, dan pulau Ternate di barat. Sehingga sangat strategis untuk melakukan kontak perdagangan dengan para saudagar, dan manuver dalam penyerangan bila terjadi peperangan.
"Sesuai keterangan Badar Taib (70 tahun) dan Abubakar Senen (70 tahun), meskipun Tidore saat itu memiliki tempat yang strategis, dalam beberapa peristiwa pasukan kesultanan Tidore mengalami kekalahan bila terjadi peperangan dengan para perompak, seperti yang dialami oleh Kapita Basiama."katanya.
Menurutnya, Basiama pernah gagal membendung serangan dari perompak pada tahun 1504. Bukan saja mengalami kekalahan, beberapa penduduk yang menempati wilayah pelabuhan ditangkap termasuk anaknya, Simo Tu. Anak ini menurut tradisi lisan dari Fola Simo dijual sebagai budak di Ambon.
Selain itu, pengakuan Muhammad Juni (68 tahun), tidak ada keterangan berapa lama Tu berada di Ambon. Besar kemungkinan anak ini dijual kembali di Malaka, kemudian dibebaskan oleh Ferdinand Magellan sebagai budak kemudian dibaptis dan diberi nama Enrique Maluku.
Setelah peristiwa yang memilukan itu, pasukan Fola Simo kembali meninggalkan wilayah Balibunga dan menempati kembali pemukiman yang telah dibentuk sebelumnya, Gale Mauli.
"Tidak ada keterangan tertulis berapa lama wilayah itu ditempati oleh anak cucu dari Kolano Balibunga serta Fola Simo," imbuh Irfan.
Dari tempat ini, kemudian mereka berpindah tempat dan membuat satu pemukiman baru yang dinamakan Fola Raha. Meskipun di kawasan Fola Raha banyak tinggalan bekas pondasi hunian (susunan batu), makam tua, dan jere namun dalam pengamatan di lapangan, wilayah ini masih satu kawasan dengan Gale Mauli. Kemungkinan besar Fola Raha adalah rumah ritual bagi Fola Simo waktu itu.
Setelah Sultan Al Mansur bertahta (1512-1526) di Istana Selawaringin di Mareku. Anak, cucu Kolano Balibunga dan Fola Simo kemudian membuat pemukiman baru yang disebut Nyiha Mara. Penempatan ini atas prakarsai oleh Sultan Al Mansur.
Karena wilayah Mareku sangat besar saat itu, wilayahnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Mareku Loa Hako/Laho (bawah) dan Mareku Loa Isa/Laisa (atas) atau Mareku Atas dan Mareku Bawah yang dipimpin oleh masing-masing sangaji (Clercq, 1890).
"Sejak saat itu, pemukiman Nyiha Mara secara administrasi masuk dalam wilayah sangaji Loa Isa," terang Irfan.
Pemukiman Nyiha Mara dan Mareku juga pernah mengalami serangan dan terjadi pembakaran rumah penduduk, kemudian ditinggalkan dan kembali ke Gale Mauli.
"Setelah berkuasanya Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain, tepatnya pada tahun 1530, wilayah pelabuhan Balibungga sampai hari ini dan menamakan wilayah tersebut sebagai kampung Rum," tandasnya. (ts/MC Tidore)