Jakarta, InfoPublik – BPJS Kesehatan memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk menghasilkan kajian berbasis bukti sebagai dasar pengembangan kebijakan dan peningkatan kualitas layanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara BPJS Kesehatan dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI), dalam kegiatan BPJS Kesehatan Research Showcase 2026 di Depok, Jawa Barat, Senin (2/11/2026). Kolaborasi ini juga diwujudkan melalui diseminasi hasil penelitian yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di lingkungan kampus setelah tiga tahun berjalan.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan Sutopo Patria Jati mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi penting untuk memperkuat kualitas kajian yang menjadi dasar pengambilan kebijakan JKN. Pasalnya, program tersebut telah menjangkau sekitar 98 persen penduduk Indonesia sehingga setiap kebijakan yang diambil harus berdampak luas terhadap masyarakat.
"Setiap kebijakan dan keputusan yang diambil akan berdampak secara langsung kepada seluruh masyarakat atau peserta yang kita layani. Di situlah kita butuh evidence. Di situlah kita perlu ada kajian kehati-hatian yang dilakukan oleh peneliti," kata Sutopo.
Menurut Sutopo, BPJS Kesehatan tidak dapat mengerjakan seluruh kebutuhan penelitian secara mandiri karena keterbatasan sumber daya. Karena itu, perguruan tinggi diharapkan berperan memperkuat kapasitas penelitian sekaligus menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan JKN.
Melalui kerja sama dengan AIPTKMI yang menaungi sekitar 150 institusi perguruan tinggi, BPJS Kesehatan membuka ruang kolaborasi bagi para peneliti untuk mengkaji berbagai persoalan dalam pelaksanaan program JKN.
Sutopo menegaskan, penelitian yang dikembangkan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan akademis, tetapi harus menghasilkan solusi atas persoalan nyata di lapangan. Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi masukan untuk evaluasi operasional dan penyempurnaan kebijakan BPJS Kesehatan.
"Showcase ini jadi bagian penting untuk pertanggungjawaban bahwa kita sudah membuat kajian-kajian yang implementatif, yang sifatnya mengarah pada problem solving dan mendukung evidence-based policy di BPJS," ujarnya.
Kolaborasi penelitian juga akan diperluas ke berbagai daerah. BPJS Kesehatan berencana menyelenggarakan showcase hasil kajian berikutnya di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan melibatkan Universitas Hasanuddin dan pengurus AIPTKMI di wilayah tersebut.
Sutopo mengatakan, kesempatan kerja sama terbuka bagi seluruh perguruan tinggi, tidak hanya kampus besar atau perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. BPJS Kesehatan juga telah menjajaki kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi daerah, antara lain Universitas Andalas di Sumatra Barat dan Universitas Muria Kudus di Jawa Tengah.
"Kami memilih riset-riset dan itu bukan hanya di kampus yang ternama. Jangan khawatir, insyaallah kami akan hadir di kampus Anda untuk melakukan diskusi sebagai upaya kolaborasi secara lebih efektif dan implementatif," katanya.
Selain penelitian, kerja sama dengan perguruan tinggi juga diarahkan untuk memperkuat upaya promotif dan preventif melalui pengembangan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda. Program ini memanfaatkan klinik kampus sebagai living laboratory untuk mendukung deteksi dini dan pengendalian hipertensi serta diabetes melitus, terutama pada kelompok usia di bawah 45 tahun.
Menurut Sutopo, kampus memiliki potensi untuk menjangkau mahasiswa melalui layanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit. Intervensi tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dapat dipantau.
Kerja sama juga mencakup pengembangan Kurikulum Jaminan Sosial (Kurjamsos) bersama Dewan Jaminan Sosial Nasional dan BPJS Ketenagakerjaan. Program ini diarahkan untuk meningkatkan literasi jaminan sosial melalui integrasi materi ke dalam kurikulum perkuliahan, kegiatan magang, dan Kuliah Kerja Nyata mahasiswa.
Sutopo berharap kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat menghasilkan penelitian yang teruji dan rekomendasi yang dapat diterapkan. Dengan demikian, hasil riset tidak hanya memperkaya kajian akademis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan dan keberlanjutan Program JKN.