Jakarta, InfoPublik – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan tiga forum nasional pada November 2026 untuk mempercepat transformasi ekosistem riset, pendidikan tinggi, dan publikasi ilmiah di Indonesia. Melalui Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI), pemerintah ingin memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, perguruan tinggi semakin berdampak bagi masyarakat, dan publikasi ilmiah nasional memiliki kualitas yang diakui dunia.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, serta Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani dalam Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Ketiga forum tersebut dirancang saling melengkapi. KSTI menjadi ruang temu antara peneliti, inovator, industri, dan investor untuk mempercepat hilirisasi hasil riset. KPPTI difokuskan pada penguatan kapasitas perguruan tinggi melalui kolaborasi dan pertukaran praktik baik. Sementara KTJI diarahkan untuk memperkuat tata kelola, kredibilitas, dan integritas publikasi ilmiah nasional.
KSTI 2026 akan berlangsung pada 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, dengan mengusung tema "Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia." Forum ini merupakan kelanjutan KSTI perdana yang digelar pada 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang menghasilkan peta jalan dan agenda riset nasional bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Fauzan, KSTI menjadi instrumen untuk memastikan ilmu pengetahuan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendekatan knowledge to impact. "Kami mengedepankan bagaimana ilmu pengetahuan memberikan dampak (knowledge to impact). Pengembangannya diarahkan menjadi kebijakan berbasis sains yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan industri," ujarnya.
Sebanyak sekitar 500 produk riset hasil kurasi dari 850 usulan perguruan tinggi dan lembaga penelitian akan dipamerkan dalam KSTI 2026. Berbeda dengan pameran teknologi pada umumnya, penyelenggara juga menghadirkan para inventor agar masyarakat dan pelaku industri dapat berdiskusi langsung mengenai teknologi yang dikembangkan.
Selain pameran inovasi, KSTI menghadirkan robot challenge, hackathon, business matching, innovation tour, serta forum diskusi pakar yang menghasilkan policy brief dan dokumen foresight sebagai rekomendasi kebijakan nasional.
Topik yang dibahas mencakup kedaulatan pangan, ketahanan energi dan air, kesehatan, hilirisasi industri, teknologi mutakhir (frontier technology), sosial humaniora, ekonomi, lingkungan, hingga mitigasi bencana.
Sehari setelah pembukaan KSTI, Kemdiktisaintek akan menggelar KPPTI 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 11–13 November. Mengangkat tema "Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Keberdampakan: Elaborasi Teknologi dan Kearifan Lokal yang Inklusif dan Humanis," forum ini diarahkan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.
Khairul Munadi menjelaskan, KPPTI menjadi ruang pembelajaran bersama antarkampus untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat kolaborasi, sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan. "Tujuan KPPTI adalah memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi," kata Khairul.
KPPTI merupakan kelanjutan forum tahun 2025 yang menghasilkan Surabaya Message serta lebih dari seratus nota kesepahaman antarkampus. Tahun ini, fokus pembahasan bergeser dari konsolidasi menuju implementasi transformasi pendidikan tinggi yang lebih konkret.
Empat isu strategis akan menjadi fokus pembahasan, yakni pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), penguatan kearifan lokal dan ekonomi kerakyatan, serta pembangunan kampus yang inklusif dan humanis. Selama tiga hari penyelenggaraan, forum ini akan menghadirkan 12 sesi tematik dan 48 paparan praktik baik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
KPPTI juga akan meluncurkan tiga inisiatif strategis, yakni Digital Maturity Index sebagai instrumen pengukuran tingkat kematangan transformasi digital perguruan tinggi, kerangka pemanfaatan AI yang menekankan etika dan integritas akademik, serta pembentukan konsorsium rumah sakit pendidikan guna memperkuat kolaborasi layanan kesehatan berbasis perguruan tinggi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyelenggaraan KTJI 2026 pada 9 November di Universitas Ciputra Surabaya. Forum perdana ini secara khusus membahas tata kelola jurnal ilmiah dan produksi pengetahuan dengan tema "Memperkuat Integritas Tata Kelola Publikasi Ilmiah Indonesia."
Ahmad Najib Burhani mengungkapkan Indonesia saat ini memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, dengan sekitar 16 ribu jurnal telah terakreditasi. Namun, jurnal dengan kualitas tertinggi masih relatif sedikit. "Jurnal yang berada pada kategori SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen dari total jurnal terakreditasi yang kita miliki," ujarnya.
Karena itu, KTJI diarahkan untuk memperkuat kualitas tata kelola jurnal, meningkatkan kredibilitas publikasi ilmiah, serta membangun budaya integritas akademik.
Forum ini akan mempertemukan pengelola jurnal, perpustakaan perguruan tinggi, asosiasi keilmuan, peneliti, lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta penerbit nasional dan internasional.
Selain membahas standar akreditasi jurnal dan pencegahan praktik jurnal predator, KTJI juga menghadirkan penerbit global seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, Emerald, Wiley, dan Springer untuk berbagi pengalaman mengenai tata kelola publikasi ilmiah, peningkatan visibilitas jurnal, serta pengelolaan publikasi di era kecerdasan artifisial.
Dalam kesempatan tersebut, Kemdiktisaintek juga akan memberikan SINTA Award kepada sembilan jurnal terbaik pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sosial humaniora, serta multidisiplin sebagai bentuk apresiasi terhadap pengelolaan jurnal ilmiah yang berkualitas.
Melalui penyelenggaraan KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026, Kemdiktisaintek membangun satu ekosistem yang saling terhubung, mulai dari penguatan riset, peningkatan kapasitas perguruan tinggi, hingga tata kelola publikasi ilmiah.
Ketiga forum tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi kebijakan, tetapi juga memperluas kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat sehingga hasil riset dapat dihilirisasi, kualitas pendidikan tinggi semakin meningkat, serta publikasi ilmiah Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, Kemdiktisaintek menargetkan sains, teknologi, dan pendidikan tinggi menjadi motor penggerak inovasi nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.