Jakarta, InfoPublik – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar menegaskan penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak cukup hanya dengan memperluas kepesertaan. Kualitas pelayanan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat juga harus menjadi perhatian utama.
Hal tersebut disampaikan Menko PM dalam Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan 2026 dan Penganugerahan Seva Paramahita Awards oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurut Muhaimin, JKN merupakan instrumen penting untuk melindungi masyarakat agar tetap sehat, produktif, dan berdaya, sekaligus mencegah keluarga jatuh miskin akibat persoalan kesehatan. "Tak perlu lagi ada rasa khawatir bagi seluruh rakyat, tak perlu ada rasa takut jatuh miskin akibat sakit. Kita sudah tidak lagi menemukan anekdot ‘Sadikin’, sakit sedikit jatuh miskin. Kini berkat JKN, kita semua tumbuh sehat dan mendapatkan jaminan kesehatan,” ujarnya,
Disebutkan, saat ini kepesertaan JKN telah mencapai sekitar 284 juta jiwa atau 98,02 persen penduduk Indonesia, karena itu kualitas layanan menjadi salah satu kunci untuk menjaga peserta tetap aktif.
Muhaimin menegaskan, masyarakat akan merasakan manfaat JKN ketika mereka memperoleh pelayanan kesehatan yang mudah, cepat, aman, bermutu, dan bermartabat. "Bagi masyarakat, JKN dirasakan ketika mereka datang dan mendapatkan pelayanan. Kalau pelayanan mudah, cepat, aman, bermutu, dan bermartabat, masyarakat akan merasa mendapatkan manfaat dan ikut menjaga JKN,” katanya.
Ia juga menekankan tidak boleh ada pembedaan pelayanan terhadap peserta JKN. Setiap peserta berhak memperoleh pelayanan yang setara, bermutu, dan bermartabat.
Selain itu menurutnya, fasilitas kesehatan merupakan wajah JKN yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Karena itu, kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan turut menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap JKN dan kehadiran negara.
"Jaminan Kesehatan Nasional adalah gotong royong raksasa bangsa ini. Partisipasi besar ini harus terus kita jaga agar setiap warga negara mendapatkan hak yang sama atas pelayanan kesehatan,” tambah Muhaimin.
Saat ini, ekosistem JKN didukung ribuan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Besarnya ekosistem tersebut perlu diikuti dengan pemerataan mutu pelayanan, terutama seiring meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan. "Pada Januari–Juni 2026 saja, kunjungan rawat jalan tingkat pertama mencapai 295,06 juta. Sementara itu, rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) mencapai 22,05 juta," sebutnya.
Muhaimin juga mendorong penguatan layanan primer melalui upaya promotif dan preventif. Langkah tersebut dinilai penting seiring perubahan pola penyakit, penuaan penduduk, dan kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks.
Penguatan layanan primer, lanjutnya, perlu didukung kecukupan sumber daya manusia kesehatan, sarana dan prasarana, obat, bahan medis, serta pemeriksaan penunjang, terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan.
Selain mutu pelayanan, akuntabilitas dan integritas juga menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem JKN. Fasilitas kesehatan perlu memberikan pelayanan sesuai standar dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, ia mendorong BPJS Kesehatan terus memperkuat transparansi dalam proses klaim, verifikasi, pembayaran, serta pencegahan kecurangan (fraud) melalui tata kelola dan pengawasan bersama.
Muhaimin berharap Seva Paramahita Award tidak berhenti sebagai bentuk penghargaan, tetapi menjadi ruang untuk menyebarluaskan praktik baik pelayanan kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan. "Mari kita pelajari, kita bagikan, dan kita replikasi agar mutu pelayanan kesehatan semakin baik di seluruh Tanah Air. Jadikan setiap fasilitas kesehatan sebagai wajah JKN yang memberikan pelayanan mudah, cepat, aman, bermutu, dan berintegritas,” pungkasnya.