Jakarta, InfoPublik - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menekankan pentingnya penguatan kecakapan informasi masyarakat seiring semakin luasnya akses internet dan pesatnya perkembangan teknologi digital serta kecerdasan artifisial (AI).
Menurut Nezar, konektivitas digital tidak cukup hanya diukur dari tersedianya jaringan dan akses internet. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi agar tidak mudah terpapar misinformasi dan disinformasi.
Hal tersebut disampaikan Wamen Nezar saat berdiskusi dengan sejumlah pegiat Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam kegiatan Rural ICT Camp 2026 yang diinisiasi Common Room dan didukung Relawan TIK Indonesia, Portkesmas, Combine Resource Institution (CRI), dan ICT Watch di Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9/2026).
Nezar Patria mengatakan kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan berbagi pengetahuan telah berkembang sejak masa prasejarah. Hal itu antara lain terlihat dari berbagai gambar dan simbol kuno yang ditemukan di Taman Arkeologi Leang-Leang, Kabupaten Maros. "Di situ ada gambar seperti padi, berarti sudah ada tindakan mengolah alam, sudah ada teknologi kapal yang digerakkan dengan dayung bersama," ujar Nezar.
Menurutnya, perkembangan komunikasi kemudian semakin pesat sejak manusia mengenal tulisan, penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440, hingga berkembangnya teknologi informasi dan konektivitas digital.
Saat ini, informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui telepon pintar seiring semakin luasnya akses internet. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena masyarakat berhadapan dengan arus informasi yang semakin besar dan cepat.
Wamen Nezar menilai perkembangan media sosial, algoritma, dan AI membuat kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting. Masyarakat perlu mampu membedakan informasi yang benar dan berdasarkan fakta dari narasi yang menyesatkan. "Penting sekali tugas kawan-kawan di komunitas untuk menangkal disinformasi dan misinformasi," tegasnya.
Ia menjelaskan, teknologi mempercepat penyebaran berbagai informasi dan narasi sehingga masyarakat terkadang mengalami kesulitan membedakan fakta dari informasi yang tidak benar. “Teknologi mempercepat cerita-cerita itu menyebar sehingga kadang-kadang kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar, mana yang fakta,” ungkap Nezar Patria.
Tantangan tersebut, lanjut Nezar, semakin kompleks karena platform media sosial menggunakan algoritma yang dapat membentuk lingkungan informasi berdasarkan kecenderungan dan perilaku pengguna. “Algoritma membentuk bilik gema, echo chamber, itu sekarang yang mengatur kita. Platform-platform membuat filter bubble,” jelasnya.
Karena itu, Wamen Nezar menilai perluasan jaringan telekomunikasi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan internet secara bijak dan produktif.
Ia juga mendorong komunitas dan masyarakat adat untuk memiliki strategi serta kebijakan lokal dalam menghadapi konten negatif yang berpotensi bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku di lingkungan masing-masing. "Komunitas dan masyarakat adat perlu menyusun strategi dan kebijakan lokal untuk memfilter konten-konten negatif yang dilarang adat," tutur Wamenkomdigi Nezar Patria.
Nezar Patria menegaskan konektivitas digital pada akhirnya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pembangunan jaringan dan perluasan akses internet perlu diarahkan agar menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang positif. “Konektivitas harus melahirkan meaningful connectivity, impactful connectivity, konektivitas yang bermakna, konektivitas yang berdampak. Itu yang semua kita inginkan,” tegasnya.