Jakarta, InfoPublik – Kemenangan Timnas Indonesia sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026), diharapkan tidak hanya menjadi kemenangan di lapangan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan mental positif di kalangan penonton, termasuk dalam menjaga kebersihan stadion.
Founder Trash Ranger Indonesia Dimas Pangestu mengatakan, keberhasilan Indonesia meraih gelar juara harus diikuti perubahan perilaku masyarakat saat menyaksikan pertandingan. Menurutnya, penonton yang datang ke stadion perlu memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan sebagaimana mereka memberikan dukungan kepada tim nasional.
“Yang lebih penting, teman-teman, kita juara, mental kita sebagai penonton harus juga bertumbuh. Datang ke stadion bersih, pulang pun juga harus bersih,” ujar Dimas di SUGBK, Senin (5/10/2026).
Dimas hadir sebagai bagian dari tim event management bersama Metamorf dalam penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam kegiatan tersebut, Trash Ranger Indonesia turut terlibat dalam pengelolaan sampah selama rangkaian kegiatan di kawasan SUGBK.
Menurut Dimas, selama lima hari kegiatan FIFA ASEAN Cup di GBK, sampah yang dihasilkan dari aktivitas penonton dan kegiatan pendukung tidak sekadar dikumpulkan dan dibuang. Sampah tersebut diupayakan untuk diolah agar memiliki nilai guna sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Di sini kita bersama Metamorf, Trash Ranger Indonesia, mengolah sampah dari lima hari kegiatan di GBK menjadi yang lebih berguna dan juga bermanfaat,” katanya.
Pengelolaan tersebut dilakukan dengan pendekatan ekonomi sekaligus melibatkan masyarakat dan komunitas lokal. Dengan demikian, persoalan sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan manfaat ekonomi dan sosial.
Dimas menilai, perubahan perilaku penonton menjadi tantangan terbesar dalam membangun stadion yang bersih. Sebab, persoalan sampah di ruang publik pada akhirnya sangat berkaitan dengan kebiasaan dan kesadaran setiap individu.
“Tantangan utamanya, paling utamanya adalah mengubah mentalnya,” ujar Dimas.
Ia mencontohkan masih adanya kebiasaan penonton yang perlu diubah ketika berada di dalam stadion, termasuk kebiasaan merokok di area yang tidak diperbolehkan.
“Kayak yang biasanya, belum terbiasa, kayak ngerokok, nggak boleh ngerokok di dalam tribun dan sebagainya. Nah, itu agak kesulitan untuk mengubah,” katanya.
Menurut Dimas, fasilitas kebersihan sebenarnya telah tersedia di kawasan publik. Namun, keberadaan tempat sampah tidak akan menyelesaikan persoalan apabila tidak dibarengi kesadaran untuk menggunakannya.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari upaya membangun budaya bersih di tengah masyarakat. Penonton perlu memahami bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Fenomena tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian publik setelah muncul video yang memperlihatkan perilaku pengunjung membuang sampah sembarangan di kawasan GBK. Sampah berupa wadah makanan dan gelas minuman terlihat ditinggalkan meskipun tempat sampah tersedia tidak jauh dari lokasi.
Kondisi itu menunjukkan bahwa tantangan kebersihan ruang publik bukan semata-mata persoalan ketersediaan fasilitas. Perubahan kebiasaan menjadi bagian penting agar ruang publik tetap nyaman digunakan oleh masyarakat.
Trash Ranger Indonesia merupakan komunitas anak muda yang bergerak dalam edukasi pengelolaan sampah, pemilahan sampah, dan aksi kebersihan lingkungan. Komunitas tersebut juga melakukan berbagai kegiatan edukasi dan aksi nyata di kawasan publik, termasuk GBK.
Dimas berharap pengalaman penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia dalam membangun budaya baru ketika menikmati pertandingan olahraga.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus berjalan seiring dengan kesadaran menjaga lingkungan. Dukungan kepada tim nasional tidak cukup hanya diwujudkan melalui sorakan dari tribun, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan rasa memiliki terhadap stadion dan fasilitas publik.
“Jadi harapannya kita juara betul, tapi juga mental dari penontonnya harus juga bertumbuh,” tegasnya.
Bagi Dimas, menjadi penonton pertandingan internasional juga berarti membawa tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Stadion yang dipenuhi puluhan ribu orang akan menghasilkan aktivitas besar, termasuk penggunaan makanan, minuman, kemasan, dan berbagai barang sekali pakai.
Jika tidak dikelola dengan baik, aktivitas tersebut dapat meninggalkan persoalan sampah dalam jumlah besar. Sebaliknya, apabila masyarakat terbiasa memilah dan membuang sampah pada tempatnya, kegiatan olahraga dapat menjadi ruang edukasi lingkungan dalam skala yang luas.
Pendekatan ekonomi sirkular yang didorong Trash Ranger Indonesia menjadi salah satu upaya untuk melihat sampah dari perspektif berbeda. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dipilah, dikelola, dan diolah kembali sehingga memiliki nilai manfaat.
Keterlibatan komunitas lokal juga menjadi bagian penting. Pengelolaan sampah tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi dan sosial berbasis lingkungan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan setelah Indonesia berhasil meraih gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026. Prestasi di lapangan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebanggaan yang lebih luas terhadap berbagai aspek penyelenggaraan olahraga.
Stadion yang bersih dapat menjadi salah satu indikator kedewasaan penonton. Ketika masyarakat mampu merayakan kemenangan tanpa meninggalkan sampah, dukungan terhadap tim nasional sekaligus berubah menjadi bentuk kepedulian terhadap ruang publik.
Dimas berharap kebiasaan tersebut terus dibawa masyarakat ketika menyaksikan pertandingan olahraga berikutnya, baik di SUGBK maupun stadion lainnya.
“Harapannya jadi buat kita terus bertambah lebih kuat, lebih maju lagi, dan menyiapkan, nggak cuma di ASEAN, tapi di level Piala Dunia dan juga di Asia,” katanya.
Menurutnya, persiapan menuju kompetisi yang lebih besar tidak hanya menyangkut kemampuan atlet, kualitas pertandingan, dan fasilitas stadion. Kesiapan penonton juga menjadi bagian dari ekosistem olahraga yang perlu dibangun.
Penonton yang tertib, menghargai aturan, menjaga kebersihan, dan menghormati fasilitas publik akan menciptakan atmosfer pertandingan yang lebih nyaman bagi semua pihak.
Pada akhirnya, kemenangan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 bukan hanya tentang trofi yang diangkat para pemain. Ada pekerjaan rumah yang juga perlu diselesaikan bersama, yakni bagaimana masyarakat dapat tumbuh menjadi penonton yang semakin tertib dan bertanggung jawab.
Indonesia boleh merayakan kemenangan di lapangan. Namun, kemenangan itu akan terasa lebih lengkap ketika para penonton mampu meninggalkan SUGBK dalam keadaan bersih sebagaimana ketika mereka datang.
Juara di lapangan, bersih di tribun.