Jakarta, InfoPublik – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapan menghadapi potensi peningkatan risiko kesehatan akibat fenomena El Nino yang memicu kemarau lebih panas, kering, dan panjang. Persiapan dilakukan melalui penguatan fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dan logistik, kesiapan sumber daya manusia, hingga deteksi dini kondisi lingkungan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran kepada pemerintah daerah dan RS sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan dan El Nino ini.
Surat edaran tersebut juga memuat edukasi kepada masyarakat mengenai langkah perlindungan diri menghadapi panas ekstrem maupun polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan. “Jadi pertama, kita sudah mengeluarkan surat edaran ke daerah, isinya termasuk untuk edukasi kepada masyarakat. Untuk persiapan terhadap kekeringan atau El Nino ini,” ujar Then dalam Dialog KemenCast, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan pelindung diri sesuai kondisi, seperti masker saat terjadi polusi udara serta topi atau payung saat menghadapi panas.
“Misalnya, untuk kebakaran, pada karhutla mungkin harus menggunakan masker. Atau kalau untuk kekeringan yang panas, misalnya, pakai topi atau payung. Kemudian pakai baju yang nyaman, ya. Sehingga bisa tidak heat stress,” jelasnya.
Masyarakat juga diedukasi menggunakan tabir surya dengan minimal SPF 30 untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. “Kalau memang harus, ya, menggunakan topi. Menggunakan tabir surya sebagai pelindung diri. Itu yang kita edukasi,” katanya.
Faskes Diminta Siapkan Obat dan Logistik
Selain edukasi, Kemenkes meminta fasilitas pelayanan kesehatan menyiapkan obat dan logistik untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan panas, kekeringan, diare, maupun polusi udara.
“Termasuk persiapan dari fasyankes, ya. Kita minta mereka menyiapkan stok obat, logistiknya. Kalau, contoh, obat untuk diare. Oralitnya, jangan lupa. Terus cairan untuk dehidrasinya, kita minta siapkan. Termasuk obat-obat yang untuk penapasan, seperti ISPA, itu mereka harus menyiapkan obat-obatnya,” ujar Then.
Kesiapan tersebut juga mencakup sumber daya manusia kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama hingga fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan.
Then mengatakan, setelah memperoleh informasi dari BMKG, Kemenkes melakukan koordinasi dengan daerah untuk mengecek kesiapan fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan logistik dan sumber daya manusia.
Berdasarkan data dan umpan balik dari daerah, kondisi kesiapan pelayanan kesehatan saat ini masih terkendali. Puskesmas dan rumah sakit telah disiapkan, sementara ketersediaan obat masih mencukupi untuk menangani kasus saat ini. "Dari data feedback itu, masih terkendali sehingga tidak ada masalah. Sudah disiapkan puskesmasnya, rumah sakitnya, dan stok obatnya masih terkendali untuk kasus saat ini,” ujar Then.
Kemenkes juga mendorong deteksi dini dengan meminta pemerintah daerah memantau kondisi lingkungan, termasuk kualitas udara dan air. Pemantauan tersebut menjadi penting untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
“Yang terpenting juga PHBS-nya. Biasakan cuci tangan pakai sabun, air minum harus direbus. Kalau airnya keruh, dijernihkan dahulu sebelum direbus. Itu yang kita tekankan untuk mencegah penyakit termasuk diare dan penyakit kulit,” ungkapnya.
Kemenkes juga tengah mengembangkan integrasi data kualitas udara dengan data kesehatan. Integrasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih mudah diakses masyarakat.