Jakarta, InfoPublik – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola kehidupan keluarga.
Kehadiran gawai (gadget) yang semakin mendominasi aktivitas sehari-hari dinilai menjadi tantangan baru dalam pengasuhan anak sehingga keluarga dituntut beradaptasi dengan pendekatan yang lebih relevan.
Menurut Wihaji, keluarga saat ini menghadapi apa yang disebutnya sebagai "peradaban baru" (new civilization), ketika teknologi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
"Sekarang ada keluarga baru yang memengaruhi kehidupan kita, yaitu gadget. Gadget ini datang tanpa diundang, tetapi selalu hadir dan memengaruhi cara berpikir, perilaku, bahkan algoritma kehidupan kita," ujar Wihaji dalam Media Gathering Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkÿomdigi), Jakarta, Selasa (4/8/2026)
Ia menilai pendekatan lama dalam membangun keluarga tidak lagi sepenuhnya relevan menghadapi perubahan zaman. Karena itu, penguatan keluarga harus dilakukan dengan cara-cara baru tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan.
Wihaji mengungkapkan tantangan tersebut semakin mendesak mengingat kondisi kesehatan mental anak Indonesia yang memerlukan perhatian serius. Mengacu pada data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 34,9 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.
"Artinya, dari setiap tiga anak, satu di antaranya mengalami persoalan kesehatan mental. Penyebabnya beragam, mulai dari kekerasan, kekerasan seksual, hingga berbagai persoalan sosial lainnya," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat perlindungan anak sekaligus menyiapkan generasi penerus bangsa yang lebih tangguh. "Anak-anak inilah yang suatu saat akan menggantikan kita. Karena itu, cara membangun sumber daya manusia juga harus berubah mengikuti tantangan zaman," ujarnya.
Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mengembangkan program "Ngobrol", yakni gerakan sederhana yang mengajak keluarga mengurangi penggunaan telepon seluler dan memperbanyak komunikasi langsung.
Menurut Wihaji, kebiasaan anggota keluarga yang berkumpul tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam dapat mengurangi kualitas interaksi dalam keluarga. "Kita sering melihat satu keluarga makan bersama, tetapi semua memegang handphone. Komunikasi yang seharusnya terbangun justru hilang karena perhatian terfokus pada layar," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu kecanduan akibat rangsangan hormon dopamin sehingga perlu dikendalikan, terutama pada anak-anak. "Kalau sudah mulai terus-menerus menggulir layar, sering kali sulit berhenti. Bagi orang dewasa mungkin bisa mengendalikan, tetapi bagi anak-anak tentu risikonya jauh lebih besar," ujarnya.