Jakarta, InfoPublik – Indonesia perlu memperkuat fondasi pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) agar tidak hanya menjadi pengguna atau pasar teknologi, tetapi mampu mengambil peran strategis dalam rantai pasok AI global. Fondasi tersebut mencakup penyediaan energi, pusat data, semikonduktor, komputasi, hingga penguatan talenta digital.
“Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, dalam workshop Kesiapan Infrastruktur, Regulasi, dan Dampak Sosial-Ekonomi Kecerdasan Buatan di Indonesia di Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Menurut Wamen Nezar, persaingan global di bidang AI kini tidak lagi semata ditentukan oleh kemampuan mengembangkan aplikasi, tetapi bergeser pada penguasaan infrastruktur pendukung, mulai dari energi, pusat data, chip semikonduktor, kapasitas komputasi, hingga ketersediaan talenta.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai pasok global dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, salah satunya cadangan pasir silika yang menjadi bahan baku penting industri semikonduktor.
“Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat di infrastruktur untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada sekitar 340 juta ton cadangan pasir silika di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui kebijakan hilirisasi sehingga mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam industri AI global.
“Jadi, saya kira hilirisasi itu bukan cuma slogan. Hilirisasi adalah downstreaming dari mineral dan bahan-bahan lain. Ini adalah langkah strategis yang harus dieksekusi oleh semua stakeholder di Indonesia, terutama di industri elektronik yang sedang bergerak sangat dinamis saat ini,” katanya.
Wamen Nezar menambahkan, kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci untuk membangun ekosistem infrastruktur AI yang kuat sekaligus menciptakan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.
“Butuh kolaborasi semua stakeholder di bidang infrastruktur ini untuk bisa memperbesar bargaining position kita. Kita harus bisa menciptakan choke point. Kalau kita bicara soal industri semikonduktor, siapa yang akan mengontrol jalur supply chain ini adalah negara-negara yang bisa menciptakan choke point,” tegasnya.
Selain infrastruktur, penguatan talenta digital juga menjadi faktor penting dalam membangun daya saing nasional di bidang AI. Menurut Wamen Nezar, sumber daya manusia yang unggul akan menentukan kemampuan Indonesia memanfaatkan peluang perkembangan AI di masa depan.
“Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan Indonesia punya peran penting dalam narasi ini. Pilihan kebijakan yang kita ambil hari ini akan menentukan siapa yang menikmati manfaat AI di masa depan,” tandasnya.