Jakarta, InfoPublik – Pembangunan infrastruktur tidak hanya berfungsi mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperluas akses dan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Komitmen tersebut diwujudkan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) melalui pembangunan Paralympic Training Center di Desa Delingan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Fasilitas berstandar internasional tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam menciptakan ruang yang inklusif bagi atlet difabel untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi di tingkat dunia.
Menteri PU, Dody Hanggodo, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam melahirkan atlet-atlet paralimpiade yang mampu bersaing di kancah internasional. Karena itu, penyediaan infrastruktur olahraga yang memadai menjadi bagian penting dalam mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan. “Saya yakin Indonesia memiliki potensi besar dalam mencetak atlet paralimpiade berbakat. Dengan pembangunan Paralympic Training Center ini, diharapkan para atlet paralimpiade Indonesia dapat berlatih dengan lebih optimal dan terarah,” ujar Dody dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026).
Paralympic Training Center dibangun dengan anggaran Rp421,9 miliar di atas lahan lebih dari 80 ribu meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 34.346 meter persegi. Kompleks tersebut terdiri atas gedung olahraga dan asrama atlet yang mampu menampung hingga 392 atlet.
Keberadaan fasilitas ini menunjukkan pembangunan infrastruktur kini semakin berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui sarana yang modern dan terintegrasi, atlet difabel memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses fasilitas latihan berstandar internasional dan mengembangkan kemampuan secara maksimal.
Pusat pelatihan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas olahraga, mulai dari kolam renang, arena boccia, menembak, tenis meja, bulu tangkis, angkat besi, blind judo, hingga lintasan atletik dan lapangan sepak bola. Seluruh fasilitas dirancang untuk mendukung kebutuhan berbagai cabang olahraga paralimpiade.
Selain memperkuat pembinaan atlet, pembangunan fasilitas tersebut juga menjadi wujud implementasi prinsip pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Infrastruktur yang dibangun tidak hanya ditujukan untuk kelompok tertentu, tetapi memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara untuk berkembang dan berprestasi.
Keberadaan Paralympic Training Center juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas atlet, pelatih, tenaga pendukung, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga berpotensi menggerakkan sektor jasa, pariwisata, kuliner, dan usaha mikro di Kabupaten Karanganyar.
Untuk memperkuat fungsi pusat pelatihan tersebut, Kementerian PU telah merencanakan pengembangan tahap kedua melalui penambahan fasilitas olahraga dan asrama guna meningkatkan kapasitas pembinaan atlet.
Pembangunan Paralympic Training Center menjadi bukti bahwa infrastruktur yang dibangun pemerintah tidak hanya menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya prestasi, penguatan sumber daya manusia, serta terciptanya kesempatan yang lebih setara bagi penyandang disabilitas dalam pembangunan nasional.