Jakarta, InfoPublik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan teknologi perkeretaapian nasional secara terintegrasi, mulai dari sarana, prasarana, hingga tata kelola. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kinerja transportasi sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan, khususnya di luar Pulau Jawa.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa riset perkeretaapian tidak hanya berorientasi teknis, tetapi juga menyentuh aspek kelembagaan dan operasional guna menjawab kompleksitas sistem transportasi modern.
“Setidaknya ada tiga fokus riset utama, yaitu aspek sosial kelembagaan, riset penumpang, serta aspek lingkungan,” ujar Arif dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Jaringan Kereta Api Nasional di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Pada sektor sarana, BRIN mendorong penguatan kemampuan engineering nasional, baik pada pengembangan mesin maupun gerbong kereta. Upaya ini dinilai penting untuk mempercepat proses alih teknologi dan mengurangi ketergantungan pada luar negeri.
Arif mencontohkan, keberhasilan sejumlah negara dalam menguasai teknologi perkeretaapian ditopang oleh investasi besar di bidang rekayasa teknik. “Kunci percepatan itu ada pada investasi engineering yang konsisten,” ujarnya.
Sementara pada aspek prasarana, BRIN mengembangkan teknologi structural health monitoring system untuk memantau kondisi jembatan kereta api secara real time. Inovasi ini menjadi krusial mengingat sebagian besar infrastruktur telah berusia tua.
“Sekitar 6.000 jembatan kereta api di Indonesia berusia lebih dari 100 tahun. Ini membutuhkan sistem pemantauan yang andal untuk menjamin keselamatan,” ungkapnya.
BRIN juga mengembangkan material inovatif seperti bantalan rel berbasis karet yang telah melalui berbagai uji teknis. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan stabilitas lintasan sekaligus memperkuat aspek keselamatan operasional.
Dari sisi tata kelola, BRIN menyusun kajian integrasi sistem transportasi, termasuk di kawasan perkotaan, guna menciptakan konektivitas antarmoda yang lebih efisien. Peran ini menempatkan BRIN sebagai mitra strategis pemerintah, BUMN, dan industri dalam mempercepat pembangunan sektor perkeretaapian nasional.
“Riset ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan industri kereta api nasional,” kata Arif.
Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pengembangan jaringan kereta api kini difokuskan di luar Pulau Jawa, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, pembangunan jaringan terintegrasi di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi kunci untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing daerah.
“Kita ingin memastikan Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal. Dengan jaringan kereta api terintegrasi, biaya logistik bisa ditekan signifikan dan daya saing meningkat,” jelasnya.
Upaya ini menandai penguatan peran riset dan inovasi sebagai tulang punggung transformasi transportasi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.