Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek), Stella Christie, menegaskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.
Namun, ia menggarisbawahi adanya tantangan besar mulai dari keterbatasan anggaran hingga absennya regulasi data.
Pernyataan tersebut disampaikan Stella dalam forum CSIS Digital Tech Lecture Series bertajuk "AI Governance for the Greater Good: Balancing Innovation and Ethics" yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Menurut Stella, pemanfaatan AI di Indonesia tidak hanya diproyeksikan untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan siber. "AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM dan pembangunan ekonomi," ujar Stella.
Ia menyatakan, teknologi itu berperan penting dalam keamanan internet dan proses pemeriksaan kebenaran informasi (fact-checking) guna menangkal hoaks di tengah masyarakat.
Meski memiliki potensi besar, Stella mengakui posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan pemimpin teknologi dunia.
Ia menyoroti adanya kesenjangan yang nyata dalam hal inovasi dan dukungan finansial. "Masih ada disparitas untuk mengejar kemajuan AI seperti yang dicapai oleh Amerika Serikat dan Cina," ungkapnya.
Lebih lanjut, Stella menekankan tantangan fundamental yang saat ini dihadapi pemerintah, yakni belum adanya payung hukum yang mengatur tata kelola data secara spesifik untuk pengembangan AI.
Ketiadaan regulasi itu dikhawatirkan dapat memicu masalah etika dan kebocoran data pribadi di masa depan. "Belum ada regulasi penggunaan data," tegasnya.
Wamen Stella menyatakan, pemerintah berkomitmen untuk memperkecil disparitas teknologi tersebut.
Kendati demikian, ia menegaskan percepatan kemajuan AI di Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, mulai dari akademisi, industri, hingga pembuat kebijakan untuk menciptakan ekosistem inovasi yang tetap menjunjung tinggi etika.