Jakarta, InfoPublik — Pemerintah mempercepat transformasi digital pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan menugaskan 150 alumni penerima beasiswa LPDP sebagai “teman belajar digital” di sekolah dasar.
Program Alumni Pejuang Digital yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ini secara resmi dilepas oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti di Auditorium Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Sebanyak 150 alumni akan bertugas selama 12 minggu di 150 sekolah dasar pada empat wilayah 3T, yakni Merauke (Papua Selatan), Halmahera Utara (Maluku Utara), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Sumedang (Jawa Barat).
Menteri Abdul Mu’ti menegaskan, kehadiran alumni LPDP bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi mitra strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan.
“Peserta hadir sebagai teman belajar digital dan mitra inovasi untuk bersama-sama menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik bagi murid,” ujarnya.
Ia menambahkan, para alumni merupakan talenta unggul yang memilih kembali mengabdi setelah menempuh pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Program ini dirancang dengan empat fokus utama, yakni pembiasaan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kompetensi guru melalui praktik interaktif, pengembangan budaya digital di sekolah, serta penyusunan strategi digitalisasi yang berkelanjutan.
Untuk memastikan efektivitas di lapangan, peserta telah dibekali pelatihan intensif mencakup pedagogi, pengoperasian perangkat digital, kurasi konten pembelajaran, hingga praktik mengajar (microteaching).
Setiap alumni ditempatkan di satu sekolah guna memastikan pendampingan berjalan optimal dan berdampak langsung.
Program ini juga menjadi bagian dari percepatan pemanfaatan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang telah didistribusikan ke sekolah.
Perangkat tersebut memungkinkan pembelajaran lebih dinamis melalui video, gim edukatif, dan konten interaktif guna meningkatkan literasi dan numerasi siswa.
Namun, pemerintah menilai distribusi perangkat saja belum cukup, sehingga diperlukan pendampingan agar teknologi benar-benar dimanfaatkan secara efektif di ruang kelas.
Sejumlah peserta menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langsung di daerah. San Paris, alumni Institut Teknologi Bandung yang bertugas di Halmahera Utara, mengaku termotivasi untuk kembali ke daerah asal dan mendampingi guru dengan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna.
Sementara itu, Oki Ramadani, alumni University of Sheffield yang akan bertugas di Merauke, menilai pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dan memperluas akses pembelajaran.
Program Alumni Pejuang Digital diharapkan menjadi katalisator perubahan dalam ekosistem pendidikan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Dengan pendekatan berbasis teknologi dan pendampingan langsung, pemerintah menargetkan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah dapat ditekan, serta menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan berdaya saing di era digital.