Jakarta, Infopublik – Penguatan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah nasional terus diakselerasi. Pemerintah mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi sebagai pusat inovasi, edukasi, dan pendampingan masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di kantor Kementerian Lingkungan Hidup.
Pertemuan itu menegaskan pentingnya memobilisasi sumber daya kampus—mulai dari dosen, mahasiswa, hingga riset terapan—untuk memperkuat tata kelola pengelolaan sampah, baik pada aspek teknologi, sistem manajemen, maupun perubahan perilaku masyarakat.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa persoalan sampah telah menjadi isu krusial di berbagai daerah dan harus ditangani secara serius, terpadu, serta melibatkan seluruh elemen bangsa.
Menteri Brian menegaskan perguruan tinggi siap mengambil peran aktif, terutama dalam membangun tata kelola pengelolaan sampah di tingkat mikro berbasis komunitas. “Kami siap membantu. Sumber daya mahasiswa dan dosen yang kita miliki sangat besar. Karena itu, kami siap mendukung,” ujar Brian, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Sabtu (21/2/2026).
Keterlibatan mahasiswa akan diperkuat melalui skema akademik yang berdampak berkelanjutan. Pendampingan tidak bersifat seremonial, melainkan berlangsung hingga satu semester dan dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).
“Mahasiswa benar-benar mendampingi, memonitor, dan memastikan sistemnya berjalan,” tegasnya.
Sebagai tahap awal, kolaborasi difokuskan pada proyek percontohan di sejumlah kota dengan melibatkan perguruan tinggi setempat. Mahasiswa akan diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dan pengabdian kepada masyarakat untuk mengedukasi pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, hingga membangun sistem monitoring berbasis komunitas.
Selain pendampingan lapangan, Kemdiktisaintek mendorong penguatan inisiatif Campus Zero Waste. Program ini mengarahkan kampus tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah internal, tetapi juga menjadi laboratorium inovasi dan rujukan praktik baik bagi pemerintah daerah.
Saat ini, lebih dari 100 kampus telah memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri. Ke depan, jumlah tersebut akan ditingkatkan melalui verifikasi, standardisasi, serta penguatan teknologi ramah lingkungan.
Dukungan keilmuan yang disiapkan mencakup pengolahan sampah organik, komposting, biodigester, rekayasa material daur ulang, hingga teknologi konversi sampah menjadi energi. Perguruan tinggi juga didorong melakukan kajian peningkatan efektivitas fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia di daerah.
Menteri Hanif mengapresiasi kesiapan Kemdiktisaintek dalam memperkuat dimensi edukasi, riset, dan inovasi. Menurutnya, dukungan akademik sangat strategis untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah nasional, memperkuat kapasitas pemerintah daerah, serta membangun kesadaran publik secara sistematis.
Sinergi kedua kementerian mencakup pengembangan jaringan kerja bersama, pertukaran data dan kajian, serta penyusunan model komunikasi, informasi, dan edukasi berbasis komunitas akademik.
Kolaborasi ini selaras dengan arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak” yang menegaskan bahwa pendidikan tinggi, sains, dan teknologi harus hadir sebagai solusi konkret atas persoalan strategis bangsa.
Dengan pelibatan aktif kampus, pemerintah menargetkan lahirnya inovasi berkelanjutan, penguatan tata kelola, serta perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi publik tersebut diharapkan mempercepat terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.