Jakarta, InfoPublik — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menggelar Sharing Session bertema “Konten Positif Anak Adaptif” bersama komunitas Bunda FYP di Blok M Hub, Jakarta, Minggu (2/11/2025). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara orang tua, pendidik, dan praktisi psikologi dalam memperkuat literasi digital anak usia dini, di tengah derasnya arus konten dan teknologi yang kian mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh empati yang dipandu oleh moderator Syifa Aulia dengan menghadirkan narasumber Praktisi Psikolog Anak Usia Dini, Aninda, dan konten kreator sekaligus parenting influencer Cerita Ibun.
Para ibu membagikan pengalaman pribadi menghadapi anak-anak yang mulai akrab dengan gawai, media sosial, dan dunia gaming digital. Di sisi lain, praktisi dan psikolog anak menekankan pentingnya pendampingan orang tua dan sinergi sekolah dalam membangun kesadaran literasi digital sejak dini.
Praktisi Psikolog Anak Usia Dini, Aninda, menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan digital tidak hanya berada di pundak orang tua. Sekolah juga memiliki peran strategis dalam memperkenalkan etika dan keamanan digital kepada anak-anak. “Sekolah itu harus jadi wadah untuk mengembangkan anak dalam dunia digital yang sehat. Di sana, anak belajar mengenal internet bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana belajar,” ujar Aninda.
Ia menambahkan, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan memahami, berpartisipasi, dan bersikap bijak dalam ruang digital. Anak-anak, kata dia, harus diajarkan mengenali batas usia, memahami aturan, serta menghindari risiko seperti cyberbullying dan paparan konten tidak pantas.
Aninda menekankan pentingnya orang tua melakukan pengawasan berkala terhadap aktivitas digital anak. “Cek apa yang mereka lihat, tonton, dan mainkan. Untuk usia SD ke bawah, sangat disarankan menggunakan account family atau akun anak yang memiliki filter konten,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan bagaimana aturan rumah tangga yang konsisten bisa menjadi benteng pertama. “Kalau anak dibiarkan main gawai tanpa batas, lama-lama dia kehilangan kontrol diri. Maka, aturan jam main, jenis konten, dan komunikasi dua arah dengan anak itu wajib,” tambahnya.
Sementara itu, konten kreator sekaligus parenting influencer Cerita Ibun, membagikan pengalaman tentang fenomena flexing di media sosial yang mulai memengaruhi pola pikir anak-anak. Ia menilai banyak anak usia dini kini menganggap kemewahan dan gaya hidup hedon sebagai hal lumrah karena terpapar konten sejenis di YouTube maupun TikTok. “Anak-anak sekarang lihat teman sebayanya pamer mainan, rumah besar, atau liburan mewah, lalu menganggap itu standar normal. Akhirnya muncul rasa minder atau bahkan marah kalau keinginannya tidak terpenuhi,” ungkapnya.
Cerita Ibun menyebut, anak-anak yang sering terpapar konten berlebihan cenderung mengalami perubahan perilaku emosional, seperti cepat marah dan sulit fokus. “Itu efek dari stimulasi digital yang terlalu tinggi. Makanya, kita harus jadi penyeimbang,” ucapnya.
Ia berbagi prinsip pengasuhan yang disiplin namun hangat. “Di rumah saya ada aturan tegas. Anak hanya boleh screen time di akhir pekan, itu pun setelah semua kewajiban selesai. Kalau belum mandi, belum makan, belum belajar, ya tidak boleh. Tegas itu kunci,” katanya disambut tepuk tangan para peserta.
Cerita Ibun menambahkan, membangun komunikasi setara dengan anak adalah fondasi utama agar orang tua tetap menjadi “sumber informasi terpercaya”. “Posisikan diri sebagai Google-nya anak-anak. Jadi kalau mereka ingin tahu sesuatu, nanyanya ke kita, bukan ke internet,” ujarnya.
Ia memberi analogi sederhana yang mudah dipahami anak: “Saya bilang ke anak, internet itu seperti mall besar. Banyak hal lucu, menarik, tapi juga banyak orang asing. Kita boleh lihat-lihat, tapi tidak semua harus disentuh atau diajak ngobrol. Dari situ, mereka belajar batasan.”
Pendekatan tersebut dinilai efektif menanamkan nilai kehati-hatian tanpa menakut-nakuti anak terhadap teknologi. Dengan begitu, anak bisa menikmati dunia digital secara sehat dan aman sesuai usianya.
Acara yang diinisiasi Kemkomdigi ini merupakan bagian dari kampanye nasional “TunasDigital.Id” gerakan literasi digital keluarga yang fokus pada pendampingan anak dan perempuan. Melalui program ini, pemerintah mendorong sinergi lintas sektor antara kementerian, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk membentuk ekosistem digital yang aman dan inklusif.
Kegiatan Sharing Session juga membuka ruang bagi peserta untuk berdialog langsung dengan praktisi dan pejabat Komdigi. Beberapa pertanyaan muncul dari para ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, hingga mereka yang menghadapi tantangan adiksi media sosial.
Mengenali Tanda-Tanda Kecanduan Gawai
Diskusi berkembang ke arah solusi praktis, seperti cara mengenali tanda-tanda anak mulai kecanduan, membangun rutinitas tanpa gawai, hingga penggunaan teknologi sebagai sarana kolaborasi keluarga.
Menurut Aninda, kunci keberhasilan pendidikan digital bukan sekadar pada aturan, tetapi pada konsistensi dan kedekatan emosional. “Kalau hubungan orang tua-anak hangat dan terbuka, anak akan merasa aman untuk cerita. Jadi ketika ada masalah di dunia digital, dia tahu harus curhat ke siapa,” terangnya.
Peserta lain juga menyebut pentingnya pelibatan tokoh pendidikan dalam membentuk budaya digital positif di sekolah. Literasi digital, kata mereka, seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab rumah tangga, tapi bagian dari kurikulum pembelajaran karakter.
Melalui kegiatan ini, Komdigi berharap muncul gerakan sosial dari akar keluarga terutama para ibu untuk menjadi “pelindung pertama” anak di dunia maya. Pendekatan ini sejalan dengan misi pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita ke-3 dan ke-7 pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni peningkatan kualitas manusia Indonesia dan percepatan transformasi digital nasional.
Program “TunasDigital.Id” juga akan dikembangkan melalui microsite interaktif yang memungkinkan orang tua saling berbagi tips, mengulas aplikasi aman, dan mendiskusikan kasus nyata di lingkungan mereka. Situs ini dirancang sebagai ruang komunitas pembelajaran digital keluarga yang ramah, edukatif, dan partisipatif. “Kita ingin menjadikan dunia digital bukan tempat yang menakutkan, tapi taman bermain yang aman bagi anak-anak,” tutup Aninda dengan optimistis.