Banjarbaru, InfoPublik - Asrama di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Banua Bilingual Boarding School (BBS) Kalimantan Selatan (Kalsel) menerapkan sistem pembinaan yang ketat dan terstruktur bagi 246 siswa penghuninya.
SMAN Banua merupakan salah satu dari 12 sekolah yang ditetapkan pemerintah sebagai Sekolah Garuda Transformasi, program unggulan untuk memperkuat karakter, disiplin, dan daya saing siswa agar siap bersaing di tingkat global.
Wakil Kepala Sekolah Asrama SMAN Banua, Hafizul Rahman, menjelaskan bahwa seluruh aktivitas siswa di asrama berada di bawah pengawasan 12 pembina yang bertugas penuh waktu.
“Sebanyak 64 kamar asrama diisi oleh sekitar 246 siswa. Setiap kamar ditempati maksimal lima orang dengan fasilitas tempat tidur, lemari, kamar mandi, dan pendingin udara. Pembina asrama mengawasi seluruh kegiatan siswa mulai dari bangun tidur hingga belajar malam,” ujar Hafizul saat ditemui InfoPublik di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (15/10/2025).
Menurut dia, pembina terdiri atas enam orang untuk asrama putra dan enam orang untuk asrama putri. Mereka bertanggung jawab penuh terhadap kedisiplinan dan keseharian siswa sejak sore hari setelah sekolah hingga pagi keesokan harinya.
Jadwal Harian yang Ketat
Aktivitas siswa dimulai sejak pukul 05.00 WITA. Siswa putra beragama Islam diwajibkan salat berjemaah lima waktu di masjid. Sementara untuk siswa putri melaksanakannya di musala asrama.
Setelah salat Subuh, siswa mengikuti kegiatan diskusi hingga pukul 06.45 WITA sebelum memulai belajar mandiri di kelas.
“Setelah itu guru masuk dan mengajar mulai pukul 07.50 WITA. Malam harinya setelah Salat Isya, sekitar pukul 18.30 hingga 22.00 WITA, siswa mengikuti etut atau belajar terstruktur di bawah pengawasan pembina. Disiplin sangat dijaga, tidak boleh ribut atau mengganggu teman lain saat belajar,” tegas Hafizul.
Hafizul menilai, tingkat kedisiplinan siswa di asrama cukup tinggi karena pembina dapat langsung menegur jika terjadi pelanggaran.
Meski demikian, tantangan masih muncul, terutama dari siswa yang beralasan sakit untuk tidak mengikuti salat berjemaah.
“Kami menerapkan hukuman yang bersifat moral. Misalnya, siswa yang melanggar diberi tugas tambahan atau diminta berpidato di depan teman-temannya,” jelasnya.
Setiap Sabtu, siswa mengikuti weekly test di kelas. Setelahnya, mereka diperbolehkan menggunakan telepon genggam selama tiga jam.
Sementara pada Minggu, penggunaan ponsel dibatasi dua jam dan biasanya dimanfaatkan untuk menghubungi orang tua.
Kunjungan keluarga diadakan setiap Minggu pukul 14.00–17.00 WITA, namun dijadwalkan bergiliran antara siswa putra dan putri sehingga masing-masing mendapat jatah dua minggu sekali.
“Siswa tidak diperbolehkan diajak keluar asrama saat kunjungan. Sekolah sudah menyiapkan area khusus bagi pertemuan keluarga, terpisah antara putra dan putri,” tambahnya.
Terkait status baru SMAN Banua sebagai Sekolah Garuda Transformasi, Hafizul menilai tidak ada perubahan signifikan terhadap rutinitas di asrama. Namun ia melihat nilai positifnya dalam hal pembentukan karakter dan motivasi belajar siswa.
“Label Sekolah Garuda ini diharapkan dapat menguji mental anak-anak dan mendorong mereka mencapai cita-cita. Mudah-mudahan banyak di antara mereka yang berhasil kuliah di luar negeri. Kami juga berharap program ini memberi dampak positif bagi sekolah-sekolah lain di sekitar,” kata dia.
Kehadiran Sekolah Garuda Transformasi di Banua menjadi tonggak penting dalam pemerataan akses pendidikan unggul di Indonesia bagian tengah.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, industri, serta semangat siswa dan guru, SMAN Banua siap menjadi pusat inovasi pendidikan, pengembangan karakter, dan pembibitan talenta sains masa depan.