Ketika Laut Mulai Menghidupkan Lebih Banyak Kesejahteraan di Tongke-Tongke
Dok. KKP
Dok. KKP
Jakarta, InfoPublik - Pagi di Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, selalu dimulai dari laut. Perahu-perahu nelayan datang membawa hasil tangkapan setelah berhari-hari berada di tengah laut. Ikan tuna yang masih segar kemudian dibongkar.
Dulu, perjalanan ikan itu belum selesai. Hasil tangkapan harus dibawa keluar daerah untuk mencari pembeli dan melewati sejumlah mata rantai perdagangan. Kini, pemandangan itu mulai berubah.
Di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, ikan yang baru didaratkan dapat langsung ditangani. Ada tempat pendaratan ikan, fasilitas penyimpanan dingin, pabrik es, hingga Unit Pengolahan Ikan (UPI).
Dari sana, tuna tidak lagi sekadar dijual sebagai ikan segar. Sebagian diolah menjadi tuna loin, dikemas, lalu dikirim ke pasar yang lebih jauh.
Perubahan itu terlihat pada Jumat (25/9/2026). Sebanyak 12 ton tuna loin kembali dikirim dari Tongke-Tongke menuju Jakarta. Produk tersebut akan menjadi bahan baku unit pengolahan ikan di Ibu Kota sebelum selanjutnya dipasarkan hingga ke luar negeri.
Di balik pengiriman belasan ton tuna itu, ada perubahan yang lebih besar: ikan yang ditangkap dari laut Tongke-Tongke kini mampu menciptakan nilai ekonomi lebih panjang di kampung sendiri.
Perubahan paling nyata dirasakan nelayan melalui harga ikan. Sebelum KNMP beroperasi, tuna hasil tangkapan nelayan dihargai sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kilogram. Kini, harganya dapat mencapai Rp45.000 per kilogram.
Kenaikan harga itu bukan sekadar angka di papan transaksi. Bagi keluarga nelayan, selisih harga tersebut berarti tambahan pendapatan yang dapat dibawa pulang.
Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) sekaligus Sekretaris Satgas Operasionalisasi KNMP, Ali Rahmat Iman Santoso, menyebut rata-rata pendapatan nelayan meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.
"Dari yang semula berkisar Rp4 juta per nelayan, kini telah meningkat drastis menjadi Rp7 juta per orangnya," jelas Ali.
Data lapangan yang diberitakan pada akhir September juga menunjukkan bagaimana kenaikan harga tersebut berkaitan dengan perubahan rantai pemasaran. Sebelum ada KNMP, sebagian hasil tangkapan dibawa ke Makassar untuk dipasarkan. Kini, ikan dapat langsung ditangani dan diolah di Tongke-Tongke. (detikcom)
Bagi nelayan, jarak yang lebih pendek berarti lebih dari sekadar menghemat waktu. Ikan dapat lebih cepat masuk ke rantai pendingin, kualitas lebih terjaga, dan hasil tangkapan memiliki akses langsung menuju pembeli.
"Kalau kualitas ikan bagus ya otomatis harga nilai jual buat nelayan pun pasti bagus," kata pengelola UPI KNMP Tongke-Tongke, Emil Salim.
Ikan Tak Lagi Berhenti sebagai Ikan
Di sinilah KNMP mulai memainkan peran yang berbeda. Bukan hanya tempat kapal bersandar atau tempat ikan diturunkan. KNMP menjadi titik yang menghubungkan nelayan dengan proses pengolahan dan pasar.
Tuna yang sebelumnya dijual dalam bentuk utuh kini dapat diolah menjadi tuna loin. Sebelum pengiriman 12 ton tersebut, KNMP Tongke-Tongke telah mengirimkan 65 ton tuna loin ke Jakarta dengan nilai sekitar Rp2,54 miliar melalui mitra koperasi.
Bahkan, kegiatan pengolahan tidak berhenti pada daging utama. Tetelan, rahang atau kama, toro atau bagian perut, serta daging merah hasil trimming juga dikirim ke Jakarta.
"Dengan demikian, hasil pengolahan tuna tidak hanya berupa produk utama tuna loin, tetapi juga bagian-bagian hasil samping yang masih memiliki nilai ekonomi," ujar Ali.
Dengan pola seperti ini, ikan yang ditangkap nelayan memiliki kesempatan untuk menghasilkan nilai lebih besar sebelum sampai ke konsumen.
Dari laut, ikan masuk ke tempat pendaratan. Kemudian ke penyimpanan. Setelah itu masuk ke proses pengolahan, pengemasan dan distribusi. Setiap tahap menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Ketika Aktivitas Nelayan Menghidupkan Daratan
Dampak KNMP juga mulai terlihat dari kegiatan di sekitar kawasan. Saat ini, KNMP Tongke-Tongke telah menyerap 39 tenaga kerja lokal dan memiliki 80 anggota.
Artinya, aktivitas ekonomi yang lahir dari laut tidak hanya dinikmati oleh orang yang melaut. Ada masyarakat yang bekerja dalam pengolahan ikan. Ada yang terlibat dalam kegiatan koperasi. Ada aktivitas bongkar muat, penyimpanan, distribusi, penyediaan perbekalan dan berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Bahkan, aktivitas kapal di kawasan tersebut ikut meningkat. Dalam kurun enam bulan, jumlah kapal yang tambat disebut bertambah dari 118 unit menjadi 216 unit, dengan sebagian besar kapal berukuran 15-29 gross tonnage (GT). (detikcom)
Gambaran itu memperlihatkan satu hal: ketika hasil tangkapan semakin mudah diserap dan dipasarkan, kegiatan ekonomi di sekitar pelabuhan nelayan ikut bergerak. Bukan hanya laut yang bekerja. Daratan pun ikut hidup.
Fasilitas yang Mengubah Cara Nelayan Bekerja
Perubahan tersebut tidak muncul hanya karena ada bangunan baru. KNMP dibangun dengan sejumlah fasilitas yang dirancang untuk menyambungkan aktivitas nelayan dari hulu hingga hilir.
Di Tongke-Tongke tersedia dermaga atau tempat tambat perahu, pabrik es, cold storage, tempat pendaratan ikan, kios perbekalan, sentra kuliner hingga kendaraan berpendingin.
Fasilitas tersebut membuat nelayan tidak harus memikirkan seluruh kebutuhan usahanya sendiri.
Ikan bisa segera didinginkan. Kapal memiliki tempat untuk bersandar. Hasil tangkapan dapat langsung ditangani. Produk yang sudah diolah dapat dikirim ke pasar yang lebih luas. Kehadiran fasilitas itu juga membantu memperpendek rantai pemasaran.
Hairul, salah seorang nelayan Tongke-Tongke, mengatakan sebelumnya hasil tangkapan dapat melewati agen dan pengepul sebelum sampai ke perusahaan. Kini, ikan dapat langsung diserap KNMP.
"Sekarang hadirnya KNMP ini langsung tidak ada lagi tangan kedua, tangan ketiga, tangga-tangganya, langsung dari nelayan ke KNMP. Dan harganya itu harga perusahaan," ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan perubahan penting dalam kehidupan nelayan: jarak antara orang yang menangkap ikan dan pasar menjadi lebih pendek.
Bupati Sinjai Ratnawati Arif melihat kehadiran KNMP sebagai lompatan bagi kesejahteraan masyarakat Sinjai.
Menurut dia, keberadaan cold storage membantu menjaga kualitas ikan sekaligus meningkatkan nilai jual. Program tersebut juga membuka peluang diversifikasi usaha dan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan nelayan terhadap tengkulak.
"Program ini (KNMP) diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan rata-rata hingga kurang lebih 800 ton per tahun per lokasi dan mampu menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen," ujar Ratnawati.
Di titik ini, cerita tentang KNMP menjadi lebih luas. Program tersebut bukan hanya tentang berapa banyak ikan yang ditangkap atau berapa banyak fasilitas yang dibangun. Yang lebih penting adalah bagaimana ikan tersebut dapat menggerakkan kegiatan ekonomi di sekitarnya.
Ketika nelayan memperoleh harga lebih baik, kemampuan belanja rumah tangga berpotensi meningkat. Ketika pengolahan dilakukan di kampung sendiri, tenaga kerja lokal dibutuhkan. Ketika produk dikirim ke luar daerah, muncul kebutuhan transportasi dan logistik.
Ketika koperasi terlibat dalam rantai usaha, aktivitas ekonomi memiliki kelembagaan yang dapat menghubungkan masyarakat dengan pasar. Rantai-rantai kecil itulah yang kemudian membentuk ekonomi pesisir.
Dari Tongke-Tongke untuk Kampung Nelayan Lain
Pemerintah kini mencoba membawa pola tersebut ke lebih banyak wilayah. KKP menggandeng Kementerian Koperasi, Kementerian Keuangan dan BP BUMN untuk memastikan infrastruktur KNMP tidak berhenti sebagai fasilitas fisik, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kegiatan usaha.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan MoU dan Surat Keputusan Bersama di KNMP Tongke-Tongke pada 25 September 2026. (KKP)
KNMP juga diarahkan menjadi bagian dari unit usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang dapat berperan sebagai off-taker hasil tangkapan nelayan.
“KNMP ini bagian dari unit usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), salah satunya yang akan menjadi offtaker hasil tangkapan nelayan, karena infrastruktur sudah kami siapkan. Ke depan tinggal bagaimana saya dan Pak Ferry bisa memastikan nelayan melaut tidak usah memikirkan modal,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. (KKP)
KKP sebelumnya telah membangun KNMP di 100 lokasi pada 2025, dengan 65 lokasi di antaranya berstatus uji coba operasional. Pemerintah merencanakan pengembangan KNMP hingga 5.000 desa nelayan pada 2029. (KKP)
Target itu menunjukkan bahwa Tongke-Tongke diposisikan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengubah ekonomi desa pesisir.
Laut yang Menghidupi Lebih Banyak Orang
Di Tongke-Tongke, perubahan itu belum berarti seluruh persoalan nelayan telah selesai. Namun, tanda-tandanya mulai terlihat.
Ada ikan yang kini dihargai lebih tinggi. Ada pendapatan nelayan yang meningkat. Ada puluhan tenaga kerja lokal yang terserap. Ada produk perikanan yang dikirim langsung ke Jakarta. Ada bagian-bagian ikan yang sebelumnya mungkin kurang bernilai, tetapi kini ikut menghasilkan pendapatan.
Dan yang tidak kalah penting, semakin banyak aktivitas ekonomi yang berlangsung di kampung sendiri. Dari laut, ikan naik ke daratan. Dari tangan nelayan, ikan masuk ke tempat pengolahan. Dari tempat pengolahan, produk bergerak menuju pasar.
Di sepanjang perjalanan itu, semakin banyak orang yang ikut mengambil bagian dalam nilai ekonomi yang dihasilkan. Itulah yang sedang tumbuh di Tongke-Tongke.
Kampung nelayan tidak lagi hanya menjadi tempat orang tinggal setelah pulang melaut. Ia perlahan menjadi tempat di mana hasil laut diolah, diperdagangkan dan menciptakan penghidupan bagi lebih banyak masyarakat.
Dan mungkin, ukuran paling sederhana dari perubahan itu bukan hanya jumlah ton tuna yang dikirim keluar daerah. Melainkan ketika seorang nelayan pulang ke rumah dengan penghasilan yang lebih besar daripada sebelumnya.