Kepercayaan Jadi Fondasi Pengembangan AI di Indonesia
Istimewa
Istimewa
Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa kepercayaan publik menjadi fondasi penting dalam pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia.
Menurut Nezar, kepercayaan merupakan faktor utama yang mendorong masyarakat menggunakan layanan berbasis digital. Karena itu, perkembangan AI perlu diiringi dengan jaminan terhadap integritas informasi agar teknologi yang digunakan publik tetap dapat dipertanggungjawabkan dan dipercaya.
“Trust ini sangat penting karena merupakan faktor utama yang membuat publik mau masuk ke dalam satu layanan berbasis digital. Dari sisi komunikasi, hal mendasar dalam penggunaan AI adalah memastikan adanya information integrity sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan kredibel,” ujar Nezar dalam rangkaian The 5th IABC Indonesia Conference & Awards 2026 yang mengangkat tema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI”, seperti dikutip dalam keterangan tertulis pada Senin (21/9/2026).
Nezar menilai tantangan membangun kepercayaan semakin kompleks seiring kemampuan AI yang berkembang pesat. Teknologi tersebut tidak hanya mampu menghasilkan informasi dalam jumlah besar, tetapi juga dapat menghasilkan konten yang semakin menyerupai kenyataan, termasuk misinformasi, disinformasi, dan deepfake.
Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi autentik dengan konten yang telah dimanipulasi. Karena itu, menurut Nezar, pengembangan ekosistem AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi digital serta tata kelola yang mampu memastikan teknologi dan informasi yang dihasilkan tetap andal.
Dalam pengembangan AI nasional, Nezar menempatkan kepercayaan sebagai bagian dari prinsip yang perlu diperkuat. Ekosistem AI Indonesia diarahkan untuk berkembang secara inklusif, berdaya, dan berdaulat.
Penguatan aspek kepercayaan juga menjadi semakin penting dalam pemanfaatan AI untuk pelayanan publik. Nezar menilai kesalahan sistem AI dalam layanan pemerintah dapat berdampak langsung kepada masyarakat dan berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap institusi penyelenggara layanan.
Oleh karena itu, penerapan AI membutuhkan berbagai mekanisme pengamanan dan pengujian sebelum digunakan secara luas. Safeguards, pengujian, sandboxing, kepatuhan, serta evaluasi yang ketat diperlukan untuk memastikan sistem AI yang digunakan masyarakat dapat bekerja secara andal dan dapat dipercaya.
Urgensi penguatan kepercayaan tersebut juga tercermin dalam perkembangan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi. Berdasarkan Reuters Institute Digital News Report 2026, tingkat kepercayaan terhadap berita secara global berada di angka 37 persen, sedangkan di Indonesia tercatat 32 persen, turun empat poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tingkat global, sebanyak 62 persen responden juga mengkhawatirkan informasi palsu dan menyesatkan di internet. Sementara itu, hanya 20 persen yang menyatakan percaya terhadap berita yang diperoleh melalui chatbot AI.
President IABC Indonesia dan CEO VMCS Communications and Social Impact, Elvera N. Makki, mengatakan perkembangan AI telah mengubah tantangan profesi komunikasi. Menurut dia, kemudahan produksi dan distribusi informasi membuat komunikator tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan, tetapi juga membantu publik memilah informasi yang kredibel.
“Komunikator memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menentukan informasi yang layak dipercaya. Di tengah begitu banyak informasi yang sama-sama terlihat meyakinkan, tantangannya bukan lagi mendapatkan informasi, tetapi menentukan mana yang benar,” ujar Elvera.
Ia menambahkan, keberhasilan komunikasi tidak lagi cukup diukur berdasarkan jangkauan, tingkat keterlibatan, maupun kecepatan distribusi informasi. Komunikasi perlu menghasilkan pemahaman, memperkuat kepercayaan, membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih terinformasi, serta mendorong perubahan perilaku.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Stella Christie menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi strategis dalam pengembangan AI melalui penguatan infrastruktur, kebijakan, dan talenta.
Dari sisi kepentingan publik, Anggota DPD RI dari Provinsi Bali Ni Luh Djelantik menekankan pentingnya memastikan kemajuan teknologi tetap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang menilai pemanfaatan AI dalam pelayanan publik perlu berjalan bersama transparansi, akuntabilitas, dan komunikasi yang dapat dipahami masyarakat.
Berbagai pandangan tersebut memperkuat pesan utama konferensi IABC Indonesia bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi menghasilkan dan menyebarkan informasi, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, penguatan information integrity, tata kelola, pengujian sistem, dan literasi digital menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan publik seiring semakin luasnya pemanfaatan AI di Indonesia.