Jakarta, InfoPublik – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kualitas udara terlihat dari tingginya konsentrasi partikel halus PM2.5 di sejumlah wilayah. Data pemantauan Kementerian Kesehatan per 3 November 2026 menunjukkan Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 580 dan Kota Palangkaraya sebesar 348 atau berada dalam kategori Berbahaya.
Selain kategori berbahaya, terdapat 15 kabupaten/kota yang masuk kategori Tidak Sehat, di antaranya Muaro Jambi, Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas, Pali, Ogan Ilir, Kota Palembang, Pekanbaru, Indragiri Hilir, Pelalawan, Bengkalis, dan Kutai Kartanegara.
Kemenkes juga memberikan perhatian khusus pada Provinsi Kalimantan Timur, di mana tren kasus ISPA tercatat masih terus mengalami peningkatan, berbeda dengan provinsi lain seperti Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatra Selatan yang sudah menunjukkan tren penurunan harian.
Kemenkes mengingatkan bahwa paparan asap tebal yang tidak segera ditangani dapat memicu komplikasi infeksi pernapasan yang lebih berat, yaitu pneumonia.
"Pneumonia merupakan gangguan kesehatan serius yang memerlukan penanganan medis, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid. Peningkatan kasus di Kalimantan Timur menjadi perhatian sehingga pemantauan dan kesiapan pelayanan harus diperkuat," terang Widyawati dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Untuk menekan risiko kesehatan pada kelompok rentan, Kemenkes telah mendistribusikan logistik kesehatan dan bantuan gizi secara masif ke 7 provinsi terdampak (Kalsel, Kalteng, Kalbar, Kaltim, Jambi, Riau, dan Sumsel). Bantuan yang disalurkan tidak hanya mencakup alat pelindung diri, tetapi juga penunjang kesehatan khusus balita dan pasien gangguan pernapasan berat.
Berdasarkan pembaruan data 4 November 2026, bantuan yang telah dimobilisasi meliputi sekitar 3,8 juta masker, 280 unit oksigen konsentrator, 939 tabung oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, serta ribuan alat pelindung diri (APD).
Bantuan lainnya mencakup alat pemurni udara (air purifier), pemberian makanan tambahan, obat-obatan, vitamin, dan berbagai perlengkapan penunjang medis. Distribusi dilakukan sesuai dengan kebutuhan fasilitas kesehatan di masing-masing daerah.
Selain logistik, Kemenkes menyiapkan 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak. Kesiapan tersebut diperkuat dengan mobilisasi tenaga kesehatan lintas kompetensi, mulai dari dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga gizi, hingga pengemudi ambulans.
Di samping logistik, Kemenkes menyiagakan 1.690 Puskesmas, 360 Rumah Sakit Rujukan, 87 LP Kesmas, serta unit layanan darurat PSC 119. Semua fasilitas ini didukung oleh mobilisasi dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, apoteker, tenaga gizi, hingga pengemudi ambulans.
"Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah rumah oksigen saja yang tersedia, melainkan bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya," ujarnya.
Kementerian Kesehatan terus mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki balita atau anak kecil serta keluarga yang merawat lansia, untuk mengambil langkah pencegahan mandiri:
Selalu Gunakan Masker: Gunakan masker saat berada di luar rumah untuk mengurangi masuknya partikel halus asap (PM 2.5) ke saluran pernapasan. Kurangi Aktivitas Luar Ruangan: Batasi kegiatan bermain di luar bagi anak-anak dan balita selama kualitas udara belum membaik.
Cukupi Kebutuhan Air Minum: Pastikan konsumsi air putih tercukupi dan konsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh, juga waspadai iritasi mata: Paparan debu asap juga memicu iritasi mata. "Minta keluarga tidak menggosok mata saat perih, melainkan membilasnya dengan air bersih atau tetes mata steril," jelasnya.
Segera Periksakan Diri ke Faskes. Apabila balita, lansia, atau anggota keluarga mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, atau mata merah berat, segera kunjungi Puskesmas atau rumah sakit rujukan terdekat.