Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel Diperpanjang hingga 5 November
Operasi modifikasi cuaca di Sumatra Selatan (Sumber:BMKG)
Operasi modifikasi cuaca di Sumatra Selatan (Sumber:BMKG)
Palembang, InfoPublik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatra Selatan hingga 5 November 2026 untuk mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama kabut asap yang mengganggu jarak pandang.
Operasi yang dimulai pada 16 Oktober 2026 itu menggunakan es kering (dry ice) untuk membantu mengurai kabut asap yang terperangkap di lapisan inversi atmosfer, sekaligus menyemai awan potensial hujan menggunakan natrium klorida (NaCl).
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, penggunaan es kering untuk membantu mengurai kabut asap melalui OMC merupakan penerapan pertama di Indonesia. Teknologi ini ditujukan untuk mengganggu lapisan inversi yang menahan asap di dekat permukaan agar asap berpeluang terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
“Melalui penyemaian dry ice, kami berupaya mengurai lapisan inversi agar asap yang terperangkap dapat terdispersi. Ketika lapisan ini melemah, radiasi matahari diharapkan dapat menembus atmosfer dengan lebih baik sehingga mendukung proses konveksi dan pembentukan awan hujan,” kata Budi, dalam keterangan BMKG, di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Hingga 22 Oktober 2026, tim telah melaksanakan 18 sorti penyemaian, terdiri atas 14 sorti menggunakan es kering dan empat sorti menggunakan NaCl. Penyemaian es kering dipusatkan di sekitar Palembang untuk membantu mengurai lapisan inversi, sedangkan NaCl digunakan untuk menyemai awan potensial hujan berdasarkan hasil pemantauan atmosfer dan radar cuaca.
Budi menyampaikan, hujan ringan sempat terpantau di sekitar Jalan Tol Palembang–Indralaya pada 17 Oktober 2026. Namun, efektivitas modifikasi cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial, dan dinamika cuaca setempat.
Untuk mendukung operasi, TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat Cassa A-2117, disusul Cassa A-2104 sejak 21 Oktober 2026. BNPB juga mengerahkan dua pesawat Cessna Caravan, yakni PK-IKC yang beroperasi dari Posko Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dan PK-SNP dari Posko Radin Inten, Lampung.
Pada 22 Oktober 2026, pesawat Hercules A-1319 turut bergabung. Dengan tambahan armada tersebut, total lima pesawat mendukung pelaksanaan OMC secara bergantian sejak pagi hingga sore hari.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatra Ferdinan Kristanto mengatakan, penggunaan es kering menjadi salah satu upaya penanganan kabut asap, terutama ketika jarak pandang menurun secara signifikan.
Berdasarkan pengamatan pada 15 Oktober 2026, jarak pandang di sekitar Palembang sempat turun hingga 50 meter. Kondisi tersebut mendorong upaya penggunaan es kering untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di atmosfer.
OMC menggunakan es kering semula direncanakan berlangsung selama 10 hari, yakni 16–25 Oktober 2026. Namun, operasi diperpanjang hingga 5 November 2026 untuk mendukung penanganan dampak karhutla di Sumatra Selatan.
BMKG bersama Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, dan pemangku kepentingan terkait terus menyesuaikan strategi penyemaian berdasarkan hasil pemantauan dan analisis meteorologi. Upaya ini diharapkan membantu mengurangi dampak kabut asap dan mendukung pengendalian karhutla di Sumatra Selatan.
BMKG mengingatkan bahwa efektivitas modifikasi cuaca bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial. Karena itu, pemantauan cuaca tetap menjadi dasar penentuan strategi penyemaian selama operasi berlangsung.