Jakarta, InfoPublik – Kepanikan dan kesalahan mengambil keputusan saat bencana dapat memperbesar risiko jatuhnya korban jiwa. Di gedung perkantoran bertingkat, pemahaman prosedur penyelamatan diri, jalur evakuasi, dan tindakan awal saat keadaan darurat menjadi bekal penting untuk melindungi keselamatan pekerja.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan kebakaran melalui kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Kedaruratan Gempa dan Kebakaran, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini membekali pegawai dengan pengetahuan praktis agar mampu bertindak cepat, tepat, dan tertib ketika menghadapi situasi darurat.
Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan (PR EMK) BRIN, Bachtiar Rifai, menilai pembekalan keselamatan perlu menjadi bagian dari budaya kerja, terutama bagi pegawai yang menghabiskan sebagian besar waktunya di gedung bertingkat. “Pengalaman saya bekerja kurang lebih 21 tahun, saya belum pernah sekalipun mendapatkan pengayaan pengetahuan bagaimana kalau terjadi gempa,” ungkap Bachtiar.
Menurutnya, ketidaktahuan mengenai prosedur penyelamatan dapat memicu keputusan berbahaya ketika seseorang menghadapi ancaman. Dalam situasi krisis, kemampuan mengenali risiko dan menentukan tindakan awal menjadi faktor penting untuk menghindari jatuhnya korban. “Keputusan yang diambil dalam 30 detik pertama saat krisis sangat menentukan keselamatan nyawa seseorang, baik di lingkungan kerja maupun di rumah,” tegasnya.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan saat berada di kantor. Persiapan di rumah dan lingkungan keluarga juga diperlukan agar setiap anggota keluarga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD DKI Jakarta, Budi Hartarti, mengimbau masyarakat menyiapkan tas siaga darurat berisi perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan dasar ketika bencana terjadi.
Perlengkapan tersebut antara lain dokumen penting, pakaian, power bank, senter, obat-obatan, dan makanan ringan. Peluit juga perlu disiapkan untuk membantu tim pencari menemukan korban yang tertimbun reruntuhan.
Selain perlengkapan darurat, setiap keluarga perlu menyepakati titik kumpul di area terbuka yang aman. Kesepakatan ini membantu anggota keluarga menemukan satu sama lain apabila komunikasi seluler terputus setelah bencana.
Persiapan sederhana tersebut dapat mendukung proses penyelamatan dan mengurangi kebingungan ketika situasi tidak memungkinkan warga berkomunikasi seperti biasa.
Di lingkungan gedung bertingkat, evakuasi yang tidak tertib dapat menimbulkan bahaya baru. Penumpukan penghuni di tangga darurat, aksi saling mendahului, dan dorong-dorongan berpotensi menyebabkan orang terjatuh atau terinjak, bahkan setelah guncangan gempa berhenti.
Kasatgas Gulkarmat Koordinator Wilayah Jakarta Selatan, Sukendar, mengingatkan bahwa kepanikan dan kesalahan prosedur evakuasi dapat memperbesar dampak keadaan darurat. “Seharusnya tidak ada korban saat guncangan gempa itu. Karena panik dan salah melakukan evakuasi, akhirnya dorong-dorongan, jatuh korban, hingga kakinya patah terinjak-injak,” tegas Sukendar.
Karena itu, pengelola gedung perlu memastikan prosedur evakuasi dipahami penghuni, jalur penyelamatan diketahui, dan koordinasi antarlantai berjalan baik. Saat keadaan darurat, penghuni harus mengikuti arahan petugas serta bergerak tertib menuju area aman tanpa berdesakan.
Dalam menghadapi gempa, penghuni gedung juga perlu mengikuti prosedur perlindungan diri sesuai kondisi dan arahan petugas. Setelah guncangan berhenti, evakuasi dilakukan melalui jalur yang aman dan tidak menggunakan lift apabila prosedur keselamatan gedung melarang penggunaannya.
Selain gempa bumi, kebakaran menjadi risiko yang perlu diantisipasi melalui kebiasaan kerja yang aman. Bayu Kelvin dari Satgas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta mengingatkan pegawai agar tidak mengabaikan potensi bahaya dari penggunaan perangkat elektronik, termasuk pengisi daya telepon seluler. “Masalah sepele karena colokan charger. Kalau handphone sudah 100%, charger-nya dicabut nggak? Nggak. Padahal itu wajib dicabut,” imbaunya.
Kebiasaan memeriksa perangkat elektronik dan instalasi listrik, tidak menggunakan peralatan yang rusak, serta mencabut pengisi daya ketika tidak digunakan merupakan langkah pencegahan yang dapat diterapkan sehari-hari.
Jika kebakaran terjadi, penghuni gedung perlu segera memperingatkan orang di sekitar dan mengaktifkan alarm darurat. Alat pemadam api ringan (APAR) dapat digunakan apabila api masih kecil, kondisi aman, dan pengguna memahami cara pengoperasiannya.
Namun, jika api membesar atau asap mulai memenuhi jalur keluar, keselamatan diri harus menjadi prioritas. Penghuni perlu menjauhi area berbahaya melalui jalur evakuasi yang aman dan mengikuti arahan petugas. Jika jalur keluar terhalang, jangan menerobos api atau asap pekat. Carilah tempat yang lebih aman dan segera minta pertolongan.
Sosialisasi dan simulasi kedaruratan yang dilaksanakan BRIN menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pegawai mengenai risiko bencana, prosedur evakuasi, dan langkah penyelamatan diri. Latihan secara berkala diperlukan agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab petugas kebencanaan atau pengelola gedung. Setiap penghuni memiliki peran dalam menjaga keselamatan diri dan orang lain, mulai dari memahami jalur evakuasi hingga mematuhi instruksi petugas.
Dengan persiapan yang memadai, kebiasaan kerja yang aman, dan latihan yang terarah, risiko akibat kepanikan serta kesalahan evakuasi dapat ditekan. Budaya keselamatan yang tumbuh di kantor maupun di rumah menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.